Kapolda Mutasi Kanit Kapolres Didemo

0
Unik, masyarakat Kota Tanjungbalai berunjukrasa karena Kanit Reskrim Polsek Tanjungbalai Selatan dimutasi Kapoldasu ke luar daerah.(Rasudin Sihotang).

TANJUNGBALAI (Waspada) : Unjukrasa puluhan masyarakat yang didominasi kaum ibu dan anak anak terjadi di depan Polres Tanjungbalai. Uniknya, demonstrasi ini terjadi karena massa tidak terima Kanit Reskrim Polsek Tanjungbalai Selatan, AKP Suharmono dimutasi Kapoldasu ke luar daerah, Senin (23/9).

Biasanya unjukrasa terjadi karena ada persoalan besar, terutama masalah korupsi maupun terkait nelayan. Bahkan kapolda atau kapolres yang dimutasi ke berbagai daerah tidak pernah ada unjukrasa.

Namun di Tanjungbalai, hanya level Kanit Reskrim, masyarakat rela menahan panas terik siang hari turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasinya, Mereka tidak ikhlas AKP Suharmono dipindahtugaskan.

Orator melalui pengeras suara dalam pernyataannya menyebutkan, nama AKP Suharmono sudah melekat di hati masyarkat sebagai polisi yang jujur, berani memberantas narkoba, dan peduli terhadap masyarakat, terutama korban penyalahgunaan obat terlarang. AKP Suharmono katanya sangat ditakuti pelaku kriminal, terutama para bandar narkoba, bahkan sampai anak kecil pun tahu sepak terjang perwira pertama tersebut.

Masyarakat katanya merasa aman kalau ada kanit yang akrab disebut Monok tersebut. Sebab, hampir setiap malam Monok bersama anggota melakukan patroli masuk ke gang-gang, bersosialisasi, dan menindak para pelaku kriminal dan tak segan menjebloskan ke penjara.

“AKP Suharmono juga dikenal sebagai sosok pendidik yang baik, di sela-sela kesibukannya sebagai pimpinan lapangan bagi pasukannya, dia juga turun tangan langsung dalam proses rehabilitasi bagi anak di bawah umur yang rentan akan tindakan kriminal, khususnya para pecandu narkoba,” ujar orator.

Hal itu katanya mendapat respon baik oleh orang tua korban penyalahgunaan narkoba dan mengapresiasi atas perubahan anaknya menjadi lebih baik selama dalam proses di tangan Monok. Namun sangat disayangkan ujarnya, pada 8 September 2018 turun surat telegram rahasia Kapoldasu tentang mutasi tersebut.

Masyarakat katanya menduga mutasi tersebut sarat bermuatan kebencian seseorang terhadap aktivitas dan prestasi Suharmono memberantas narkoba dan kriminal. Maka dari itu katanya, masyarakat Kota Tanjungbalai mendesak Kapolda Sumatera Utara untuk meninjau ulang mutasi AKP Suharmono yang diindikasikan sarat kepentingan tertentu.

Kemudian meminta Kapolres Tanjungbalai untuk merekomendasikan peninjauan ulang atau pembatalan STR nomor tersebut mengingat prestasi dan keseriusan AKP Suharmono dalam pemberantasan kejahatan. “Kami masyarakat Tanjungbalai sangat membutuhkan AKP Suharmono kembali bertugas untuk memberantas kejahatan di kota ini,” ungkap orator.

Kapolres Tanjungbalai AKBP Irfan Rifai melalui Kasat Intel AKP Usrat Aminullah di depan gerbang Mapolres mengatakan mutasi adalah urusan rumah tangga Polri. Hal itu ungkapnya perlu diketahui masyarakat agar faham bagaimana mekanisme pemindahtugasan di kepolisian.

Usrat berharap agar masyarakat jangan mencampuri urusan rumah tangga Polri, karena mereka juga punya mata, telinga, hati, dan fikiran untuk melihat hal itu. Usrat meminta agar massa membubarkan diri karena selain tidak ada izin, mereka tidak berhak mengurusi internal kepolisian.

“Tolong ibu-ibu ini bukan urusan kalian, tolong bubar, ini urusan antara polisi dengan polisi, silakan kembali ke rumah masing-masing, ini halaman rumah kami, kami berhak mengusir kalian, karena kalian masuk tanpa izin,” tegas Usrat.

Dalam kesempatan itu Usrat bersikeras menjaga marwah Kapoldasu dan Kapolres Tanjungbalai sampai titik darah penghabisan. “Kalau rumah tangga kami diributi, kalian akan berhadapan dengan saya, sampai titik darah penghabisan,” tegas Usrat seraya meminta pengunjukrasa bubar.

Pantauan Waspada, usai mendengar penjelasan Kasat Intel, pengunjukrasa yang juga diikuti kaum hawa ini tidak langsung bubar namun masih berorasi di luar gerbang polres. Lagi-lagi Kasat Intel kembali menyuruh bubar sehingga sempat terjadi ketegangan.

Akhirnya massa balik kanan menuju Kantor DPRD Kota Tanjungbalai untuk menyatakan aspirasinya. Namun hingga sore, tak seorangpun dari anggota dewan mau menemui pendemo. (a32)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here