“ZERO LOST” TARGET MITIGASI

0

Oleh Ir.Jonathan I.Tarigan
Akankah bencana gempabumi dan tsunami yang merenggut 1600 an korban jiwa di Palu-Donggala dan kawasan sekitarnya menjadi peringatan terakhir bagi bangsa Indonesia untuk menggugah setiap elemen bangsa guna membangun sikap tangguh dan cekatan dalam menghadapi bencana sehingga korban jiwa akibat kejadian bencana gempabumi ,tsunami , dlsb , seperti yang terjadi di Palu tidak terulang lagi ? Akankah “Zero Lost” atau tidak ada korban jiwa melayang oleh bencana menjadi target atau sasaran utama dari upaya mitigasi atau pengurangan risiko bencana di Indonesia.Untuk membangun kesadaran bahwa bangsa ini hidup dan melangsungkan kehidupannya di wilayah rawan bencana maka terlebih dahulu diperlukan peta rawan bencana terlebih peta rawan bencana di tingkat lokal , tanpa peta rawan bencana , upaya pengurangan risiko bencana atau mitigasi menjadi kabur atau absurd untuk di-implementasikan di lapangan.Upaya mitigasi bencana mutlak berbasis peta rawan bencana . Untuk itu perlu terlebih dahulu dipahami tata-an tektonik ( tectonics setting ) suatu wilayah atau kawasan sebagai pra-kondisi bagi terjadinya kebencanaan geologis seperti gempabumi,tsunami dan letusan gunungapi. Gempabumi dan tsunami adalah produk dari kegiatan tektonik yaitu produk dari pergerakan-pergerakan kerak bumi yang berlangsung secara global yang berdampak regional hingga ke lokal.Kebencanaan geologis di Indonesia ditentukan oleh bingkai tektonik dimana wilayah negeri busur kepulauan atau arkipelago ini merupakan wilayah pertemuan atau perbenturan 3 ( tiga ) lempeng tektonik. Lempeng tektonik itu adalah 1.Lempeng Tektonik Benua Eurasia 2.Lempeng Samudera India-Australia dan 3.Lempeng Samudera Pasifik.Perbenturan Lempeng Samudera India-Australia dan Lempeng Samudera Pasifik terhadap Lempeng Benua Eurasia telah mengkondisikan Indonesia sebagai wilayah yang sangat rawan bagi terjadinya bencana gempabumi dan tsunami demikian juga sangat rawan terhadap terjadinya bencana letusan gunungapi.Perbenturan antara Lempeng Samudera India – Australia terhadap Lempeng Benua Eurasia telah memunculkan jalur gempabumi besar ( megathrust ) dari Simeulue hingga ke Kepulauan Mentawai dan jalur megathrust di selatan pulau-pulau Jawa, Bali,Lombok, NTB, NTT , dan perbenturan Lempeng Samudera Pasifik di kawasan Indonesia timur juga memunculkan jalur2 megathrust. Jalur megathrust ini berpotensi melepaskan gempabumi berkekuatan hingga 9 SR seperti yang terjadi di Aceh (2004) dan Nias (2005) dan saat ini sedang ditunggu pemunculan gempabumi berkekuatan besar dari jalur megathrust Mentawai.Perbenturan lempeng tektonik itu juga menimbulkan patahan-patahan di daratan Sumatera , Jawa, Bali,Lombok dan pulau2 lainnya.Di Sumatera misalnya terdapat patahan Sumatera yang mematah bumi sepanjang pulau Sumatera dari Aceh hingga ke Lampung.Jalur patahan ini yang dibentuk oleh aktivitas tektonik merupakan jalur gempabumi yang mematikan seperti gempabumi yang terjadi pada ruas patahan Renun –salah satu ruas dari Patahan Sumatera itu – pada tahun 1936 yang mengguncang Kabupaten Karo,Dairi,hingga ke Binjai dengan kekuatan 7.2 SR ( bandingkan dengan gempabumi Palu pada kekuatan 7.4 SR-September 2018 ).Perobekan bumi (rupture) dan pergerakan tanah secara horizontal dan vertikal dan pembuburan atau peluluhan tanah ( likuafaksi ) yang meluas terjadi pada gempabumi Karo ( Linor Batukarang ) thn 1936 itu, sebagaimana juga hal itu terjadi di kelurahan Petobo – Palu barusan yang mengubur ratusan rumah berikut penghuni di dalamnya . Gempabumi pada patahan Angkola yang melintas dan berpengaruh guncangan gempanya di kabupaten-kabupaten Tapanuli Selatan, Palas-Paluta dan Madina dan kota Padang Sidempuan pada tahun 1892 dengan kekuatan7.6 SR, adalah gempabumi di daratan dengan kekuatan terbesar yang pernah terjadi di Indonesia. Gempabumi bersumber darat (pegunungan, misalnya pegunungan Bukit Barisan ) tidak menimbulkan tsunami tetapi menimbulkan guncangan ( ground shaking ),amplifikasi guncangan, likuafaksi , amblesan2 tanah , longsor , sobekan2 pada bumi disertai pergeseran2 tanah baik vertikal maupun horizontal yang dapat meruntuhkan bangunan-bangunan dan merenggut korban jiwa.
Tsunami dapat dimunculkan secara langsung oleh gempabumi yang bersumber dari laut , tetapi tsunami dapat pula terjadi tidak secara langsung tetapi dipicu oleh longsoran massa batuan dibawah laut karena massa batuan itu longsor diguncang gempabumi , selanjutnya longsoran massa batuan itu menimbulkan gelombang tsunami sebagaimana ditengarai pada kejadian tsunami di Palu barusan, amblesan2 pada massa batuan dibawah permukaan laut (submarine landslide ) memicu terjadinya tsunami yang terbatas kejadiannya di Teluk Palu sehingga tidak terdeteksi oleh ‘buoy’ yang dipasang di Selat Makasar. Fenomena longsoran dapat dicermati pada kejadian longsor di kelurahan Petobo – Palu dimana longsoran yang dipicu gempabumi telah mengubur ratusan rumah.
Gerakan tektonik mikrokontinen India yang menekan Lempeng Benua Eurasia selain memunculkan jalur megathrust atau jalur kegempaan besar Himalaya yang selalu dilanda gempabumi berkekuatan rata2 8 SR dan jalur kegempaan besar di China ( Longmensan Fault ) yang beberapa waktu yang lalu telah merenggut hampir seratus ribu jiwa , juga memunculkan patahan-patahan yang memotong Aceh dan Sumut pada arah utara-selatan sebagai sumber bagi terjadinya gempabumi seperti misalnya patahan Peusangan dan patahan-patahan lainnya . Gempabumi yang mengguncang kawasan pantai timur Aceh , Pidie Jaya dan mengguncang Kabupaten Deliserdang beberapa waktu yll bersumber dari mekanisme tektonik ‘escape’ yang digerakkan mikrokontinen India itu. Konstelasi ‘escape tectonic’ telah pula menempatkan Kalimantan yg semula dikira aman terhadap gempabumi kini dalam format tektonik ‘escape’ itu menjadi tidak aman.
“Zero Lost”
Mencermati kejadian gempabumi di Palu barusan yang telah merenggut sekitar 1600 jiwa kiranya ini merupakan pelajaran terakhir bagi bangsa Indonesia untuk serius mempersiapkan diri dalam menghadapi bencana geologis. Suka atau tidak suka bangsa Indonesia melangsungkan kehidupannya dalam kondisi alam yang sangat rawan bencana.Dari pencermatan terhadap pemberitaan media masa yang begitu intensif dan gamblang sangat kentara bahwa masyarakat di kawasan bencana Palu , Donggala dan sekitarnya sangat tidak siap, hal itu dikarenakan minim atau tidak cukupnya pembelajaran dan pelatihan yang diberikan kepada warga masyarakat.Boleh jadi kawasan itu juga tidak memiliki peta rawan bencana gempabumi dan peta rawan bencana tsunami pada tingkat lokal ( kabupaten Donggala dan kota Palu ) sebagai basis edukasi pengurangan risiko bencana bagi warga masyarakat, sehingga dengan pemahaman yang diberikan akan arti peta rawan bencana serta pelatihan – pelatihan yang diberikan secara teratur dan berkesinambungan akan membangun warga masyarakat yang sigap dan sistimatik dalam upaya penyelamatan dirinya.Tampaknya kesigapan menghadapi bencana gempabumi tidak terbentuk dalam kejadian gempabumi Palu itu. Sulawesi telah lama diinformasikan oleh geolog sebagai wilayah yang sangat rawan pergerakan tektonik dengan demikian rawan bagi terjadinya gempabumi dan bencana yang ditimbulkannya.Sulawesi merupakan pulau ‘mosaik’ pulau yang dibentuk dari penggabungan berbagai elemen kerak bumi , bahagian barat Sulawesi dari Sulut ke Sulsel dibentuk dari kerak bumi bersumber dari Kalimantan yang mengalami kegiatan tektonik ‘tarik-pisah’ ( pull apart ) dan proses tektonik ‘aulakogen’ , keratan kerak bumi Kalimantan itu bergabung dengan keratan-keratan elemen kerak bumi /lempeng benua ( micro continent ) dan elemen-elemen kerak/lempeng samudera 9oceanic crust ) dari kawasan timur. Elemen-elemen kerak bumi berupa fragmen-fragmen yang terpisah tadi dilekatkan atau ‘ditempelkan’ oleh desakan-desakan dari gerakan-gerakan tektonik di wilayah itu dan terbentuklah P.Sulawesi dalam perwujudannya seperti sekarang ini . Di Selat Makasar antara Kalimantan dan Sulawesi terdapat kegiatan tektonik ‘spreading’ ( pemekaran lantai samudera ) , dari utara ada gerakan tektonik berupa penunjaman yang menekan Sulawesi bagian utara , dan dari timur ada gerakan Lempeng Samudera Pasifik yang menekan Sulawesi . Prakondisi ini menempatkan Sulawesi sangat rawan gerakan tektonik atau gerakan- gerakan kerak bumi yang bermuara pada kerawanan terhadap bencana gempabumi. Dengan pemahaman akan tingkat kerawanan terhadap bencana gempabumi ini , lembaga baik di level provinsi , kabupaten dan kota yang diamanatkan oleh undang-undang untuk melindungi warga masyarakat dari bencana gempabumi dan tsunami seharusnya sangat aktif melakukan edukasi komprehensif membangun masyarakat yang berketahanan dalam menghadapi bencana gempabumi dan tsunami dengan target pada setiap kejadian bencana adalah ‘zero lost’ atau tidak ada jiwa melayang. Kejadian gempabumi dan tsunami di Palu barusan dapat terjadi dimana saja di Indonesia terutama di kawasan2 sangat rawan bencana gempabumi termasuk kawasan-kawasan rawan bencana gempabumi dan tsunami di Sumut. ”Zero Lost” haruslah menjadi target utama dalam upaya mitigasi bencana gempabumi di Sumut dengan melakukan pencerdasan masyarakat melalui pembelajaran dan pelatihan2 ( drill ) yang konseptual, sistematik dan berkesinambungan dan bukan sekedar ‘kerja lepas rodi’ semata.
(Ir.Jonathan I. Tarigan , geolog senior Sumut)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here