Haruskah Ada Sebutan Islam Nusantara?

0

Oleh dr Arifin S. Siregar

(Menanggapi Tulisan Abdul Hakim Siregar di Hr. Waspada 1 Oktober 2018)

Suatu ketika Umar bin Khattab ra membolak-balik lembaran kitab Taurat dan ini dilihat oleh Nabi SAW seraya berkata: “Hai Umar, jangan kau baca baca kitab Taurat itu, seandainya Musa hidup sekarang maka akan kuwajibkan padanya mengikut Alquran(Alhadis)

Agama Islam adalah milik Allah SWT. Kita sebagai hamba Allah, hanya sebagai pemakai agama Islam milik Allah SWT itu. Tentunya, sebagai pemakai tidak ada hak kita mengotak-atik agama Islam milik Allah SWT itu. Seumpama mobil milik orang yang kita pakai, hak kita hanya sekedar memakai, tidak ada hak kita menambah, mengubah sesuatu yang kita rasa kurang pada mobil itu meskipun kita rasa jika ditambah akan lebih menyempurnakannya.

Begitu juga agama Islam ini, melalui Alquran dan Rasul-Nya, telah ditetapkan Allah SWT cara memakai (mengamalkannya). Hak kita hanya sesuai QS Baqarah: 285: Sami’na wa atokna (Aku dengar dan aku ikut). Mau menerima atau memakai agama Islam sebagai agama kita, kita ikut apa yang kita dengar yang dikehendaki Allah dalam Alquran dan Rasul-Nya.

Sesuai QS Al-Baqarah: 208: Masuklah kamu ke dalam Islam secara kaffah. Tidak boleh setengah hati, mana yang cocok diikut, mana yang tidak cocok ditolak, dan sebagainya. Agama Islam bukan agama akal. Agama Islam adalah agama wahyu yang diwahyukan Allah SWT pada hambaNya kita ini, melalui Rasulullah SAW. Maksudnya kebenaran ajaran Islam bukan diukur dari akal kita, bisa kita rasa tidak benar, tapi benar menurut Allah, bisa kita rasa benar tapi tidak benar menurut Allah SWT. Misalnya wudhu’ pakai sepatu, yang dihapus punggung sepatu menurut Allah itu yang benar. Menurut akal kita tentunya yang benar tapak sepatu yang dihapus. Namun menurut Allah, itu tidak benar jika wudhu’ nya mau sah.

Islam Nusantara

Dari sebutan Islam Nusantara, tersirat menunjukkan agama Islam yang akan dianut masyarakat Indonesia harus mengadopsi atau mengikut kehendak apa yang sudah diamalkan, masyarakat Indonesia (Nusantara) merupakan budaya atau keyakinan masyarakatnya sebelumnya yang sudah melekat kuat tidak boleh di tinggalkan, harus toleransi sesuai kehendak masyarakat setempat.

Seperti kita maklum banyak budaya, atau keyakinan kepercayaan atau agama sebelumnya yang ada di Indonesia sebelumnya, banyak yang mencemari pengamalan ajaran Islam masyarakat Indonesia. Misalnya beduk yang diamalkan sebagai tanda masuknya waktu shalat lima waktu. Padahal Islam telah mengajarkan cukup azan pertanda masuknya waktu shalat.

Begitu juga diajarkan oleh agama Brahmana (Hindu), bila hendak minta ampun pada orangtua, maka dilakukan dengan meminum air cucian kaki orangtuanya atau mandi berpangir ke sungai menghapus dosa (Kitab Parasit Akidah oleh A.D El Marzdedeq).

Pertanyaannya, apakah demi kedamaian di dalam mengamalkan ajaran agama Islam di Nusantara ini, maka kita tolerir, kita terima itu menjadi bagian dari pengamalan ajaran Islam? Ada satu filosofi orang Minangkabau: Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Apa maksudnya ini? Jelas artinya: boleh kita beradat, tapi adat itu harus yang berjiwakan syariat dan syariat itu yang berdasarkan Alquran.

Ada satu riwayat mengisahkan: Suatu ketika sahabat Umar bin Khattab ra membolak-balik lembaran kitab Taurat dan ini dilihat oleh Nabi SAW. Seraya Nabi SAW berkata: “Hai Umar, jangan kau baca baca kitab Taurat itu, seandainya Musa hidup sekarang maka akan kuwajibkan padanya mengikut Alquran”. Ini pertanda tidak ada lagi yang lain yang boleh diimani (dipercayai) sekarang ini, selain Alquran.

Ada satu pegangan buat kita, yaitu: “mari kita budayakan agama, bukan budaya yang diagamakan.” Timbulnya perang Padri di Sumatera Barat, adalah demi menghapuskan pengamalan ajaran Islam oleh masyarakat Islam ketika itu terhadap kentalnya budaya kepercayaan animisme Hindu di masa itu. Ajaran tersebut mencemari pengamalan ajaran Islam oleh masyarakat Minangkabau. Maka Imam Bonjol muncul memelopori perjuangan memurnikan pengamalan ajaran Islam yang diamalkan masyarakat Minangkabau untuk jangan dicemari oleh sisa-sisa kepercayaan animisme dan ajaran agama Hindu.

Membuktikan Islam Nusantara yang akan dipopulerkan itu, seandainya Nabi SAW hidup sekarang, maka Beliau akan menghardik ulama yang memprakarsainya. Taurat sendiri sebagai agama wahyu yang diwahyukan oleh Allah SWT melalui Nabi Musa as, dilarang keras oleh Nabi SAW untuk dicampuradukan dengan ajaran Islam. Apalagi berbau aninisme, Hindu itu pasti ditolak keras oleh Nabi SAW seandainya Nabi SAW hidup sekarang.

Ada yang berkomentar dicetuskannya Islam Nusantara, itu dimana menoleransi amalan yang ditinggalkan oleh kepercayaan animisme Hindu itu, demi toleransi untuk mewujudkan Indonesia yang damai. Pertanyaannya apakah kedamaian diperoleh dengan imbalan ajaran Islam kita rusak demi dengan menolerir khurafat, tahayul dan bid’ah?

Islam menghendaki kedamaian. Buktinya QS An Nisa’: 59 menyuruh kita bila kita berbeda pendapat maka Allah menyuruh kita carilah kesepakatan itu dengan kembali pada apa kata pendapat dari Allah dan Rasul Nya. Jadi Islam menghendaki kedamaian, tapi kedamaian yang menjujung Alquran dan Assunah.

Kita mesti sadar, adanya dulu awal masuknya ajaran Islam ke Indonesia, agama Islam itu berterima oleh masyarakat setempat bila ulama yang mengajarkannya itu menyampaikan harus dengan tarik ulur, tidak harus ketat. Misalnya ketika si ulama menyampaikan agama Islam pada masyarakat Jawa yang masih memeluk agama Hindu, mengatakan bahwa babi jangan dimakan lagi, hukumnya haram. Ada yang menawar, apa celeng (babi di hutan bukan peliharaan) hukumnya haram juga? Maka sang ulama menjawab, celeng tidak haram. Diberinya kelonggaran sementara, demi mereka mau menerima ajaran Islam itu.

Itu dulu, tapi sekarang metode demikian tidak masanya lagi, karena masyarakat Islam sekarang bukan muallaf lagi (yang diajak pertama kali memeluk ajaran Islam), sudah menerima Islam 10-20 turunan. Apa masih boleh dikatakan: asal mau shalat taraweh jadilah, daripada tidak shalat? Atau puasa Ramadhan di awal, di pertengahan dan di akhir Ramadhan. Anda mengatakan jadilah, daripada ia tidak puasa sama sekali!

Bersyukurlah kita diIndonesia ini ada Kiyai H.A Dahlan di Jawa dan Imam Bonjol di Minang Kabau (Sumatera) yang memelopori pemurnian akidah dan ibadah di dalam pengamalan ajaran Islam oleh umat Islam di Indonesia.

Ijma’ Nusantara

Ijma’ Nusantara yang diidamkan Abdul Hakim Siregar adalah khayalan belaka, tidak rasional. Buktinya dalam mencari figur presiden memimpin NKRI ini saja, harus dengan susah payah mengadakan 2 atau 3 calon, sampai berbiaya beratus miliar.

Kenapa tidak dilakukan saja ijma’ untuk satu calon presiden sebagai kesepakatan bersama. Atau sampai terbentuknya Ormas yang menjelma menjadi DPR dan sebagainya. yang menyuarakan masing-masing visi dan misi. Berarti ijma’ Nusantara itu tidak masuk akal, tidak rasional.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here