MUKAMURKA, Pengkayaan Musik Tradisi

0

Grup musik bernuansa etnik MUKAMURKA (MUsik KAmi MUsik meRdeKA) (foto) mencoba mengangkat potensi musik etnik kedalam karya-karya mereka dengan harapan kalangan penyuka musik bisa lebih memahami tentang musik tradisi.

Sekarang ini sepertinya musik tradisi seolah tertinggal, mungkin karena kurangnya pemahaman yang bisa saja disebabkan pengaruh media elektronik. Padahal musik etnik bukan sekedar musik, tapi terkait peristiwa budaya yang mempunyai kekuatan serta adanya nilai-nilai luhur di dalamnya.

Grup ini saat menggelar konser di salah satu pusat jajanan di Jalan H Adam Malik Medan Sabtu (14/10) malam mengemas lagu ‘Awan Menanti Fajar’ dengan membawa alat musik tradisi seperti solo gitar ala taksim serta tiupan suara didgeridoo.

Uniknya di lagu ini, selain perkusi dan dentuman bass bersamaan memainkan meter tujuh, enam dan lima secara bergantian, sesekali suara vokal koor tanpa kosakata menghiasi musik dimainkan.

Pada lagu kedua MUKAMURKA mengalunkan nada ‘Sang Guru’ sebuah komposisi saduran diambil dari potongan beberapa komposisi musik tradisi dan karya digabungkan jadi satu.

Diawal mengalun irama tenang beraroma jazzy, diselipkan irama Gondang Hasapi khas Toba yang menyegarkan telinga serta di tengah terdengar solo gitar bergantian menambah syahdunya lagu ini dengan tempo kerap berubah menjadikan lagu ini sedikit membingungkan, namun tetap bisa dinikmati dengan caranya masing-masing.

Barulah pada lagu ‘Potong Kompas’ terkesan sangat ringan dan spontan ala jamming, mandolin menjadi pusat perhatian di lagu ini terdengar melodi-melodi solo mandolin di dalam irama pantai ala Hawaii-an dan reggae.

Menjelang akhir lagu, paduan lengkingan tinggi suara irish whistle berpadu dengan lentiknya dentingan senar hasapi memberikan aura berbeda juga rhythm cajon serta djembe menambah kekayaan ornamentasi suara lagu ini hingga memaksa pengunjung tetap duduk dengan tekun menikmati suguhan musik dibawakan grup MUKAMURKA.

Terbentuknya grup ini diawali keinginan para personelnya mengeratkan silaturahmi yang lama tak bersua memunculkan ide membuat sebuah grup musik tanpa syarat, tanpa beban genre, tanpa batasan ide, tanpa tekanan ekspresi.

Musik yang mereka mainkan terlahirkan secara bebas dan merdeka atau musik bereksplorasi dengan kekayaan warisan tradisional serta musik terinspirasi dari kehidupan diharapkan memberi kebaikan dalam persahabatan dan pergaulan bersama.

MUKAMURKA pun terlahir ingin memberikan kejutan dan interpretasi yang berbeda dari sebuah pertunjukan musik menampilkan musik tak biasa, selain unik dan berbeda dari segi komposisinya, instrumen alat musik yang digunakan juga sangat menarik, jauh dari kesan ‘band’.

Mereka juga memainkan Cajon, Djembe, Didgeridoo, Irish Whistle, Hasapi, Mandolin, selain tentunya tetap menggunakan gitar dan bass mengedepankan agar musik yang disajikan bisa menghibur dan memberikan pencerahan baru bagi dunia musik di Medan khususnya.

Ditanya tentang inspirasi grup, Avena Matondang salah seorang personel MUKAMURKA mengatakan, grup ini sangat terinspirasi dari sebuah grup musik luar biasa bernama Suarasama, yang sudah mendunia dan sangat dekat dengan kekuatan musik tradisional dalam setiap karya nya.

“Kami mencoba mengadopsi semua nilai-nilai baik dari Suarasama”, kata Beng Handoko menambahkan salah seorang inisiator terbentuknya grup ini.

Dan soal background akademis pun ternyata para personel MUKAMURKA tidak salah tempat, karena mereka adalah para mantan mahasiswa Etnomusikologi dan Antropologi USU era 90-an yang sekarang aktif di berbagai profesi.

Usai manggung, person MUKAMURKA pun masih sempat berkelakar bahwa bagi mereka tidak ada masa depan di musik Populer, dengan alasan anda harus tetap ‘muda’ untuk bisa punya masa depan di musik pop.

Sedangkan usia adalah janji sang waktu yang terus berjalan menuju tua.

Musik tradisional adalah abadi dan memiliki kekuatan spesial yang tidak lekang dimakan zaman dan musik yang bisa terus dimainkan sampai akhir hayat serta sangat sedikit godaan untuk materialisme, justru lebih ke arah peng-kayaan batin dan pikiran menuju persiapan bertemu pencipta sang waktu.

Mukamurka diisi Avena Matondang (gitar/mandolin), Rahmad Martuah (djembe/triangle), Muhammad Amin (Cajon), Syaif Putra (bass), Beng Handoko (gitar, hasapi, Irish whistle, didgeridoo). t.junaidi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here