Korban Meninggal Bencana Sulteng 2.256, Kerugian Rp13,82 T

0
Suasana Masjid Arkam Bab Al Rahman atau Masjid Apung pascagempa dan tsunami di Kampung Lere, Palu, Sulawesi Tengah, Minggu (7/10). Waspada/Antara

JAKARTA (Waspada) : Kerugian materi dampak bencana gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah (Sulteng) diprakiran Rp13,82 trilyun. Sementara korban jiwa hingga Minggu (21/10), tercatat 2.256 orang meninggal dunia.

“Hasil perhitungan sementara kerugian dan kerusakan akibat bencana berdasarkan data Minggu (21/10), mencapai lebih dari Rp13,82 trilyun. Diperkirakan dampak kerugian dan kerusakan akibat bencana Sulteng akan bertambah, mengingat data yang digunakan adalah data sementara,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, dalam siaran persnya yang diterima Waspada di Jakarta, Minggu (21/10).

Sutopo merinci, dari Rp13,82 trilyun dampak ekonomi akibat bencana tersebut, kerugian mencapai Rp1,99 trilyun dan kerusakan mencapai Rp11,83 trilyun.

Sementara, dampak kerugian dan kerusakan akibat bencana Sulteng meliputi 5 sektor pembangunan yaitu, kerugian dan kerusakan di sektor permukiman mencapai Rp7,95 trilyun, sektor infrastruktur Rp701,8 milyar, sektor ekonomi produktif Rp1,66 trilyun, sektor  sosial Rp3,13 tilyun, dan lintas sektor Rp378 milyar.

“Dampak kerugian dan kerusakan di sektor permukiman adalah paling besar karena luas dan masifnya dampak bencana. Hampir sepanjang pantai di Teluk Palu bangunan rata tanah dan rusak berat,” ungkapnya.

Dikatakan Sutopo, terjangan tsunami dengan ketinggian antara 2,2 – 11,3 meter dengan landaan terjauh mencapai hampir 0,5 km telah menghancurkan permukiman. Begitu juga adanya amblesan dan pengangkatan permukiman di Balaroa.

“Likuifaksi yang menenggelamkan permukiman di Petobo, Jono Oge dan Sibalaya telah menyebabkan ribuan rumah hilang,” katanya.

Berdasarkan sebaran wilayah kata Sutopo, maka kerugian dan kerusakan di Kota Palu mencapai Rp7,63 trilyun, Kabupaten Sigi Rp4,29 trilyun, Donggala Rp1,61 trilyun dan Parigi Moutong mencapai Rp393 milyar.

“Perhitungan kebutuhan untuk rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana belum dilakukan perhitungan,” ujar Sutopo.

Diperkirakan, untuk membangun kembali daerah terdampak bencana nantinya pada saat periode rehabilitasi dan rekonstruksi akan memerlukan anggaran lebih dari Rp10 trilyun.

“Tentu ini bukan tugas yang mudah dan ringan, namun Pemerintah dan Pemda akan siap membangun kembali nantinya. Tentu membangun yang lebih baik dan aman sesuai prinsip build back better and safer,” katanya.

Sedangkan jumlah bangunan dan infrastruktur yang hancur akibat bencana. Kerusakan meliputi 68.451 unit rumah, 327 unit rumah ibadah, 265 unit sekolah, perkantoran 78 unit, toko 362 unit, jalan 168 titik retak, jembatan 7 unit dan sebagainya.

“Data ini juga sementara, yang akan bertambah seiring pendataan yang terus dilakukan. Tim Rehabilitasi dan Rekonstruksi BNPB terus melakukan pendataan dan melakukan kaji cepat untuk menghitung dampak bencana,” tambahnya.

Korban Jiwa

Sementara, bencana gempabumi, tsunami dan likuifaksi yang melanda 4 daerah di Sulawesi Tengah yaitu Kota Palu, Kabupaten Donggala, Sigi dan Parigi Moutong yang terdampak langsung oleh bencana, hingga kini tercatat 2.256 orang meninggal dunia.

“Sebarannya di Kota Palu 1.703 orang meninggal dunia, Donggala 171 orang, Sigi 366 orang, Parigi Moutong 15 orang dan Pasangkayu 1 orang. Semua korban sudah dimakamkan. Sebanyak 1.309 orang hilang, 4.612 orang luka-luka dan 223.751 orang mengungsi di 122 titik,” kata Sutopo.(j02)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here