Pariwisata Sumbar Terdongkrak Berkat Tour de Singkarak

0

JAKARTA (Waspada) : Tak bisa dipungkiri, salah satu pendongkrak pariwisata Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), 10 tahun belakangan ini adalah Tour de Singkarak (TdS).

TdS yang memadukan antara promosi pariwisata dan olahraga secara atraktif ini dimulai tahun 2009 untuk pemulihan pariwisata pasca-gempa Padang ketika itu.

Wakil Gubernur (Wagub) Sumbar Nasrul Abit membenarkan kalau TdS menjadi mesin pendongkrak kemajuan pariwisata Sumbar.

Menurutnya penyelenggaraan sport tourism event TdS ini memberikan dampak langsung bagi ekonomi masyarakat (direct impact economic tourism) serta media value yang tinggi dan memberi pengaruh positif terhadap promosi pariwisata Sumbar.

“TdS menjadi event andalan dalam mendorong kemajuan pariwisata Sumbar, indikatornya bila tahun 2016 jumlah penerbangan ke Bandara Minangkabau (BIM) sebanyak 52 kali, sekarang melonjak menjadi 114 kali. Tahun ini ada 3 kali penerbangan dari Malaysia dan tahun depan meningkat menjadi 4 kali,” kata Nasrul Abit saat memberi sambutan dalam peluncuran TdS 2018 di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Senin (22/10).

Bahkan ajang balap sepeda bertaraf internasional ini, lanjutnya telah berkembang sebagai event internasional yang diakui oleh Amouri Sport Organization (ASO) dan Union Cycliste Internationale (UCI) sebagai event balap sepeda dengan jumlah penonton terbanyak peringkat ke-5 di dunia. Alhasil nama Sumbar ikut terdongrak ke tingkat dunia.

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya menegaskan kalau sport tourism berkelas dunia merupakan cara yang paling mudah dan murah untuk mempromosikan suatu daerah.

“Sebab media value-nya sangat tinggi. Rugi sekali kalau kabupaten/kota yang dilintasi tidak mempromosikan daerahnya,” ujarnya

Arief Yahya pun mengaku tidak meragukan keindahan alam dan budaya di Sumbar.

Ia menyebut Sumbar memiliki 32 event dalam satu tahun, di antaranya ada tiga event yang masuk dalam Top 100 Calender of Event (CoE) Nasional seperti Sawahlunto International Music Festival, TDS 2018, dan Festival Pesona Budaya Pagaruyung.

“Sumbar itu top semuanya. Dari kuliner, Sumbar punya rendang yang ditetapkan Kemenpar sebagai national food dan dipromosikan di 100 restaurant Indonesia yang ada di seluruh dunia,” ujarnya.

Tidak hanya kuliner, Sumbar memiliki destinasi untuk selancar kelas dunia di Mentawai. Lalu yang ketiga adalah Geopark Ngarai Sianok yang menjadi salah satu yang terbaik di dunia.

“Tiga-tiganya itu kelas dunia, untuk itu penyelengaraan TdS menjadi sarana efektif mempromosikan pariwisata di Sumbar,” tambahnya.

Selain promosi pariwisata, pengembangan destinasi yang akan dikembangkan untuk Sumbar, sambung Arief Yahya adalah mewujudkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandeh yang memasuki tahap konsultasi publik analisis dampak lingkungan (amdal) dan juga  KEK Mentawai.

“KEK Mandeh di Kabupaten Pesisir Selatan Sumbar  akan menjadi KEK pariwisata dengan menonjolkan keindahan wisata bahari. Kami beri julukan KEK Mandeh ini sebagai ‘Raja Ampat’-nya Sumbar,” pungkas Arief Yahya.

TdS 2018 yang memasuki tahun ke-10 dengan mengusung tema ‘One Decade for All’ ini akan berlangsung mulai tanggal 4 hingga 11 November mendatang.

Pesertanya ada 15 tim dari mancanegara dan 5 tim nasional.

Mereka akan unjuk kekuatan untuk merebut hadiah total Rp 2,3 miliar dengan melintasi 16 Kabupaten/Kota di Provinsi Sumbar sepanjang 1.267 Km.

Titik start-nya dari Kota Bukittinggi dan berakhir di Kota Pariaman. (Adji  K.)

Captions:
1. Menpar Arief Yahya dan Wagub Sumbar Nasrul Abit me-launching Tour de Singkarak (TdS) 2018 di Jakarta didampingi Plt Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenpar Ni Wayan Giri Adnyani, Staf Ahli Menpar Bidang Multikultural Esthy Reko Astuty dan para bupati/walikota dari Sumbar. (foto: Adji K.)

2. Tari Piring khas Minangkabau menyemarakkan peluncuran TdS 2018 di Jakarta. (foto: Adji K.)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here