Catatan Kecil Setelah Nonton ‘Bohemian Rhapsody’

1
Bohemian Rhapsody
Bohemian Rhapsody

FREDDIE Mercury berhasil MELAWAN sistem industrimusik  yang didikte oleh ‘konvensi’ formulatif yang dirasakan bisa ‘membunuh’ BAKAT, IMAJINASI, KREATIVITAS, dan INOVASI seniman idealis di akhir abad ke 20 itu.

Itulah yang kutangkap dari film ‘Bohemian Rhapsody’ yang membuat orang Jakarta ‘demam’ minggu ini. Memang film yang tiba-tiba mampu melepas nostalgia penggemar Queen ini dikerjakan begitu teliti.

Si produser mempertimbangkan fakta sejarah (terkait teknologi, estetika, politik, dan hukum) yang bergumul di dalam prosedur industri musik yang sudah diawali sejak ditemukannya mesin cetak (melalui pencetakan notasi musik, dan berkembangnya formula penciptaan lagu gaya Tin Pan Alley yang menjadi dasar penulisan lagu populer di sepanjang abad duapuluh), radio, dan gramofon itu.

Di sisi lain,  membandingkan suasana ‘kewajiban’ untuk menurut pada  pakempakem industri musik yang dirasakan seniman kreatif sangat menekan pada saat itu, bias dirasakan di bidang pendidikan hari ini, terutama setelah pendidikan ‘beranjak’ menjadi industri yang kapitalistis dan berkiblat kepada standardisasi yang tidak jelas sekarang ini.

Imajinasi, kreativitas, dan inovasi di tengah-tengah peserta didik yang sangat beragam itu akan terbenam karena tidak terakses oleh sistem yang kuno itu (Out of Our Minds: The Power of Being Creative, Ken Robinson, 2017, 1-13), dan menjadi paradoks dengan harapan berkembangnya kreativitas yang diperlukan diabad 21 ini.

Bohemian Rhapsody milik Queen menghentak, dengan musik dan penyanyinya yang extraordinary itu; Freedie Mercury. Freddie menentang budaya dan menghancur rintangan untuk menjadi salah satu penghibur paling kesohor diplanet ini.

Film tentang Freddie dibuat mengisahkan kebangkitan sebuah band melalui lagu-lagu ikonik dan suara revolusioner. Mereka mencapai kesuksesan tak tertandingi, tetap iFreddie, dikelilingi pengaruh dunia hitam. Ia kemudian menjauhi Queen dan mengejar karir solonya.

Setelah sangat menderita tanpa Queen, Freddie bergabung lagi dengan teman bandnya. Lantas, dengan menghadapi diagnosis AIDS,Freddie memimpin band disalah satu pertunjukan terbesar dalam sejarah music rock. Begitulah Queen mengukuhkan warisan yang terus mengilhami orang luar, pemimpi dan pecinta musik hingga hari ini. **** ( Rizaldi Siagian )

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here