BI Diprediksi Bakal NaikkanSuku Bunga Acuan Kembali

1
Chief Economist BNI Ryan Kiryanto
Chief Economist BNI Ryan Kiryanto

JAKARTA (Waspada): Diprediksi Bank Indonesia (BI) masih akan menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis point (bps) menjadi 6 persen di akhir tahun ini. Saat ini BI memutuskan untuk menahan suku bunga acuan pada angka 5,75 persen.

Menurut Chief Economist BNI Ryan Kiryanto, prediksi kenaikan bunga acuan BI tersebut berkaitan dengan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang akan menyelenggarakan The Federal Open Market Committee (FOMC) yang merupakan sidang terakhir mereka di tahun ini.

“Kita lihat sampai akhir tahun ini, BI menahan atau menaikkan bunga acuannya. Hampir pasti dinaikkan sebagai impllikasi dari Fractional flowreserve (FFR). Bank-bank sentral lainnya sebagian juga akan ikut menaikkan bunganya,” kata Ryan dalam acara diskusi di Kementerian Koperasidan UKM, Jakarta, Rabu (7/11).

Dikatakan, AS terpaksa harus agresif menaikkan suku bunga acuannya untuk meredam inflasidi negara Paman Sam tersebut. Sebab secara teori,ketika ekonomi suatu negara tumbuh dengan baik, biasanya diiringi dengan inflasi itu.

“Upaya menjinakkan inflasi dengan menaikkan suku bunga merupakan obat agar orang-orang yang punya duit tidak berproduksi terus, tapi di simpan di bank,” terang Kiryanto.

Dia mengatakan, The Fed menggunakan jalur suku bunga untuk mengerem inflasi AS yang sudah berada di angka 2 persen. “2 persen angka keramat di Amerika, tidak boleh melampaui itu. Berbahaya untuk negara Amerika. Maka harus dijinakkan dengan suku bunga,” tuturnya.

Bagi BI sendiri, kebijakan menaikkan suku bunga yang dilakukan memang diperlukan agar investor tetap bertahan di tengah ketidakpastian situasi ekonomi global saat ini.“Ada dua hal yang sangat menonjol terkait perubahan kebijakan.

Pertama, normalisasi kebijakan suku bunga AS. Kedua, kebijakan pengenaan tarif oleh pemerintah AS kepada China dan negara lainnya,” jelas Ketua Komisaris Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso, beberapa waktu lalu.

Akibatnya, sambungnya, hal ini berdampak cukup besar ke seluruh dunia. Sehingga beberapa negara menyesuaikan kebijakan suku bunganyas upaya investor portfolio mempunyai atau mengurangi sentimen negatif terhadap pasar keuangan di negara tersebut.

Oleh karenanya, dia menyatakan, investor asing yang ada di dalam negeri pasti akan pindah bila negara tidak mengikuti kebijakan Amerika Serikat dalam menaikan suku bunganya.

“Orang punya persepsi bahwa adanya pengenaan tarif akan mempengaruhi kapasitas ekspor ke Amerika di beberapa negara. Ini sebenarnya hanya persepsi ke depan saja,” ucapnya.

Wimboh memperkirakan, dilihat dari data statistik, maka kenaikan suku bunga ini untuk sektor perbankan dalam negeri justru memilik iruh yang cukup kuat, lantaran punya cukup ruang yang luas untuk melakukan efisiensi. (J03/C)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here