Embargo AS Ke Iran , Pengamat  Tidak Yakin Akan Terjadi Perang

0

MEDAN (Waspada): Keinginan Amerika Serikat (AS) untuk melemahkan kekuatan ekonomi dan militer Iran, diperkirakan tidak akan langsung tercapai. Bahkan adanya “ancaman perang” antara kedua negara juga tidak akan terwujud.

Pasalnya, eksistensi Iran sebagai sebuah negara independen dan mandiri, telah mengancam kontrol imperialism atas kawasan, dan juga telah melemahkan kekuatan militer AS dan meruntuhkan kedigdayaan dolar di dunia.

Hal tersebut dikatakan Pengamat Politik Internasional M Habibi Siregar kepada Waspada, Rabu(7/11), menanggapi sanksi ekonomi yang kembali diberlakukan AS kepada Iran.

Diketahui, Washington kembali memberlakukan sanksi kepada Iran setelah Presiden Trump pada Mei lalu, menarik dari kesepakatan 2015 yang ditujukan untuk membatasi ambisi nuklir Iran.

Washington juga mengatakan, ingin menghentikan apa yang disebutnya sebagai beragam kegiatan “jahat” Teheran, termasuk serangan dunia maya, uji coba rudal balistik, dan dukungan terhadap kelompok teroris dan milisi di Timur Tengah. Semua sanksi tersebut ditujukan ke ekspor minyak Iran,sektor pelayaran dan bank, semuanya bagian inti dari perekonomian Iran.

Menurut dosen pasca sarjana komunikasi Islam Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) ini, sanksi ekonomi AS tidak akan membuahkan hasil sesuai dengan harapannya. Karena Iran sudah melakukan sejumlah persiapan.

Termasuk di antaranya penghapusan mata uang dolar sebagai alat tukar resmi dan menerapkan sistem perdagangan bilateral dengan negara-negara besar dari Uni Eropa. “Sedangkan kalau untuk ancaman perang tidak akan terjadi.

Karena AS akan mengkalkulasi perhitungan biaya jika harus perang, sedangkan Iran juga tidak mungkin memulai karena doktrin militer bukan ekspansif dan anggaran militer mereka juga tidak memungkinkan,” ujarnya.

Dijelaskan Habibi, selama ini Iran merupakan “anak baik”nya AS karena hanya mereka di dunia yang mempunya alat canggih seperti pesawat tempur. Akan tetapi seiring perkembangan zaman, posisi AS terhadap Iran berubah karena Iran sudah independen dalam politiknya dan ini tentu tidak membuat nyaman AS, sehingga diberilah hukuman keras terhadap Iran.

“Kerasnya hukuman AS ini juga karena segelintir Negara di Timur Tengah yang membela Palestina dan Iran memiliki hubungan erat dengan kelompok Hamas yang kelompok garis keras terhadap AS,”sebutnya.

Selain itu, kata Habibi, posisi regional dan internasional Iran yang strategis, sekarang telah menjadi tantangan tersendiri bagi AS. Dimana AS akan mendapatkan protes besar dari negara-negara Uni Eropa yang menginvestasikan bisnisnya di Iran yang tidak menggunakan dolar untuk transaksi apapun.

“Ini artinya kalau sanksi ekonomi AS terus berlangsung, maka membahayakan ekonomi AS sendiri. Karena ekonomi negara-negara Uni Eropa lebih kuat dibandingkan AS,” katanya.

Hal senada juga dikatakan Guru Besar Politik Islam UINSU Prof Katimin. Dijelaskannya, ancaman perang antara Iran dan AS kecil kemungkinan terjadi, karena Iran secara politik punya backup Uni  Soviet yang berkoalisi dengan China.

“Embargo ini hanya permainan gertak-gertak saja karena payah Iran ini diserang. Meski melihat tipe Donal Trump mungkin bisa saja terjadi perang, tapi akan membahayakan posisi AS sendiri dan mengakibatkan perang dunia,” tuturnya.

Embargo AS ini, menurut dia, sudah beberapa kali dilakukan ke Iran, tapi negara republik Islam itu masih kuat karena didukung hubungan rakyat dengan pemerintahannya masih bagus dan solid.

“Ditambah lagi banyak kepentingan besar Uni Eropa terhadap Iran.  Jadi kalau perang, maka AS juga akan berhadapan dengan negara-negara Uni Eropa yang memiliki banyak investasi usaha di Iran.

Jadi antara ekonomi, politik,dan agama ini bergabung dan sangat komplit terhadap gejolak negara Timur Tengah dan AS yang akan terus berlangsung terus menerus selama Arab Saudi pro ke AS, sedangkan Iran solid dengan China. Iran ini ibarat bola pimpong yang dipermainan antara China dan AS,” katanya. (cyn/C)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here