Rupiah Menguat Tajam 14.594 Per Dolar AS

1

MEDAN (Waspada): Hingga penutupan perdagangan, Rabu (7/11) petang, rupiah menguat tajam ke 14.594 per dolar AS.

Angka ini tentunya naik tajam dibandingkan beberapa pecan sebelumnya yang sempat anjlok ke 15.400 per dolar AS. Namun kenaikan yang cukup tajam ini, menurut pengamat pasar keuangan harus diwaspadai, mengingat masih ada sentimen eksternal atau global yang akan membayangi mata uang rupiah ke depan.

Pengamat Pasar Keuangan di Sumut Fery Rahmadsyah dar iLotus Andalan Sekuritas di Medan menyebutkan, pada perdagangan, Rabu (7/11), mata uang rupiah menguat signifikan terhadap dolar AS dari 14.783 menjadi 14.594 atau menguat 189 poin.

“Rupiah mengalami penguatan secara signifikan ditandai dengan masuknya dana asing pada lelang Surat Utang Negara (SUN) hingga mencapai hampir Rp 60 triliun. Ini mendorong yield SUN 10 tahun turun 14 basis poin atau setara dengan 8,2%.  Dampaknya ini akan ada dana asing masuk ke pasar obligasi dan pasar saham di bursa kita (BEI) yang cukup tinggi,” ujarnya.

Kemudian, kata dia, faktor lain yang mendukung penguatan rupiah adalah bursa saham secara global diperkirakan akan membaik dengan adanya pernyataan dari Trump bahwa akan ada jalan keluar untuk negosiasi perdagangan AS dan Tiongkok akan terlaksana di G-20 pada akhir November nanti.

“Secara grafik rupiah terhadap dolar AS akan terus menguat di kisaran Rp 14.350-14.450, kemudian akan terus bertahan di kisaran Rp14.400-14.600, dengan syarat tidak ada gejolak lagi,” sebutnya.

Dibayangi Ketidakpastian

Sementara itu, pengamat ekonomi dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sumut Gunawan Benjamin menuturkan, rupiah diperkirakan akan bergerak dalam rentang 14.500 hing

ga 15.000 per dolar AS sampai akhir tahun ini.“ Potensi pelemahan rupiah masih ada, karena memang ada sejumlah resiko eksternal yang sifatnya itu tidak memiliki kepastian. Bahkan, bisa berubah dengan sangat cepat dan merubah arah pergerakan mata uang rupiah nantinya,” kata Gunawan.

Gunawan menyebutkan, dalam sepekan terakhir rupiah bergerak dengan kecenderungan mengalami penguatan. Kinerja mata uang rupiah tersebut ditopang oleh membaiknya kondisi eksternal, menjelang pertemuan G20.

“Seperti yang sebelumnya kita ketahui, perang dagang antara AS dan China sempat membuat kondisi ekonomi global terombang ambing, termasuk kondisi ekonomi Indonesia,” tuturnya. Tetapi belakangan, menurut dia, hubungan antara AS dan China menunjukkan adanya janji pemulihan.

Pemulihan hubungan ini tidak terlepas dari sikap Presiden AS yang menyatakan bahwa hubungan antara dua negara belakangan ini membaik. Hal tersebut membuat kondisi pasar keuangan global perlahan mengalami pemulihan.

Dijelaskannya, dari sisi eksternal yang patut dikhawatirkan adalah adanya potensi pemulihan data-data ekonomi AS yang memicu terjadinya kenaikan suku bunga acuan di Bank Sentral AS itu sendiri.  Hal tersebut perlu diwaspadai. Mengingat kenaikan bunga acuan di AS masih berpeluang terjadi dalam waktu dekat ini,yang bisa membuat rupiah kembali tertekan.

Sementara itu, dari dalam negeri, pemberlakukan domestic non delivery forward (DNDF) oleh Bank Indonesia, menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan dalam negeri. Produk DNDF tersebut mampu meredam gejolak mata uang rupiah kedepan.

Ditambah lagi dengan keyakinan Bank Indonesia akan membaiknya jumlah cadangan devisa nantinya. “Kebijakan tersebut menjadi kebijakan yang sangat menguntungkan bagi perekonomian kita.

Terlebih jika pemerintah nantinya mampu menekan defisit neraca perdagangan yang menjadi biang kerok pelemahan rupiah selama ini. Sehingga di akhir tahun tidak adalagi kekhawatiran yang berlebihan terhadap kinerja mata uang rupiah,” ujarnya.

Sedangkan pengamat ekonomi dari Universitas Sumatera Utara (USU) Wahyu Ario Pratomo menyebutkan, rupiah akan berada dilevel 14.800 sampai dengan 15.000 per dolar AS atau stabil di akhir tahun.  (m41/J)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here