Sosak, Angkat Dampak Kebakaran Hutan Riau Lewat Tarian

0

JAKARTA (Waspada): Dampak buruk kebakaran hutan berulang-ulang di Riau yang menimbulkan bencana asap, sesak bernafas sampai membuahkan berbagai penyakit pernafasan, tersaji lewat tarian kontemporer bertajuk Sosak.

Menurut Riyo Tulus Pernando koreografer tarian tersebut, Sosak yang dalam bahasa Melayu Riau berarti Sesak ini menceritakan dampak negatif kebakaran hutan yang kerap terjadi di Riau untuk pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit.

“Sosak terinspirasi dari pengalaman pribadi saya yang asli dari Riau atas bencana yang terjadi berulang-ulang di sana,” ujar Riyo usai tampil dalam Indonesian Dance Festival (IDF) 2018 di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Rabu (7/11/2018).

Akibat kebakaran hutan yang kabarnya disengaja untuk maksud itu, lanjut Riyo mengakibatkan bencana asap sampai masyarakat Riau susah bernafas atau sesak.

“Bukan cuma itu, dampak buruknya juga mengakibatkan berbagai penyakit pernafasan bahkan asapnya sampai menyeberang ke negara tetangga Malaysia dan Singapura,” terang Riyo.

Lewat Sosak, Riyo berharap dapat menyuarakan jeritan hatinya agar hutan alam Riau bisa kembali seperti semula, minimal tidak terjadi pembakaran hutan untuk apapun itu.

“Tapi Sosak disini bukan hanya bermakna sesak karena kesulitan bernafas akibat asap kebakaran hutan di Riau dan daerah lain. Bisa juga dimaknai sesak karena  ngantri, macet, berada dalam kerumunan di ruang gelap sempit, dan lainnya,” ungkapnya.

Sosak ditampilkan enam penari pria dari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

Keenam penari Sosak itu Riyo Tulus Pernando alumnus, Damri Aprizal S2 Pengkajian, Riza, Panji Pramayana, Agil Pramudya Wardana, dan Aditiar Anggit Wicaksono yang masih berstatus mahasiswa ISI Surakarta.

Pementasan mereka didukung Yanuar Edi selaku lighting designer, Bagus TWU composer, dan Iwan Darmawan assisten. Composer serta Chaniago Putri Pramesti Wigaringtyas sebagai manager tim Sosak.

Pementasan Sosak di IDF 2018 yang bergengsi dan bertaraf internasional ini merupakan suguhan Sosak yang asli.

“Sosak kali ini beda dengan Sosak yang kami tampilkan perdana di Galeri Indonesia Kaya (GIK), Jakarta beberapa bulan lalu,” aku Riyo.

Kalau Sosak yang perdana di GIK itu, lanjutnya ada tambahan hiburannya atas permintaan panitia pelaksana mengingat tempat pementasannya berada di mall dan dekat dengan bioskop.

“Kalau Sosak di IDF 2018 yang baru kami tampilkan di Teater Kecil TIM ini, Sosak yang asli saya garap sejak awal, bukan Sosak sesi 2 atau lanjutan Sosak perdana,” ungkapnya.

Di IDF 2018 yang berkelas dunia, selain Riyo sebagai salah satu koreografer Indonesia yang terpilih tampil membawakan karya seni tari, masih ada 8 koreografer dari daerah lain di Indonesia serta koreografer asing dari tujuh negara yakni dari Singapura, Australia, Korea Selatan, India, Mexico, Prancis, dan Jerman, yang akan bergantian menyajikan koreografi terbaiknya dengan beragam tema.

“Selepas tampil di IDF 2018, Sosak akan pulang kampung ke Pekanbaru Riau untuk pentas di Idrus Tintin, tanggal 8 Desember mendatang,” pungkas Riyo. (Adji K.)

Captions:
1. Pementasan Sosak karya koreografer Riyo dalam ajang Indonesian Dance Festival (IDF) 2018 di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Rabu (7/11/2018). (foto: Adji K.)
2. Enam penari Sosak terdiri atas Riyo Tulus Pernando alumnus ISI Surakarta, Damri Aprizal S2 Pengkajian Seni ISI Surakarta, Riza, Panji Pramayana, Agil Pramudya Wardana, dan Aditiar Anggit Wicaksono yang masih berstatus mahasiswa ISI Surakarta. (foto: Adji K.)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here