Dunia Akui Gambar Cadas Tertua Ada Di Indonesia

1

JAKARTA (Waspada): Belasan peneliti berskala internasional dari Indonesia dan Australia telah mengungkap penanggalan gambar-gambar cadas di Kalimantan Timur yang berusia 40.000 tahun.

Penelitian ini sekaligus membuktikwn bahwa karya seni yang enigmatis ini merupakan contoh penggambaran figuratif tertua di dunia.

“Penemuan ini menegaskan pandangan bahwa gambar cadas tidaklah berkembang di Eropa saja, seperti yang diyakini selama ini, melainkan merupakan salah satu inovasi penting dalam sejarah kebudayaan manusia yang berakar pada Zaman Es di Indonesia,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy saat membuka seminar terkait penelitian gambar cadas tertua di dunia ini, di Jakarta, Kamis (8/11).

Para peneliti yang tergabung dalam penelitian dunia ini terdiri dari Priyatno Hadi Sulistyarto, M.Hum. (Pusat Penelitian Arkeologi Nasional); Adhi Agus Oktaviana, S.Hum. (Pusat Penelitian Arkeologi Nasional);  E. Wahyu Saptomo, M.Hum. (Pusat Penelitian Arkeologi Nasional);Dr. Pindi Setiawan (Institut Teknologi Bandung); Dr. Maxime Aubert (Griffith University); Dr. Adam Brumm (Griffith University); Drs. Budi Istiawan (Balai Pelestarian Cagar Budaya Kalimantan Timur); Tisna A. Marifat (Balai Pelestarian Cagar Budaya Kalimantan Timur); Vincentius N. Wahyuono (Balai Pelestarian Cagar Budaya Kalimantan Timur); Falentinus T. Atmoko (Balai Pelestarian Cagar Budaya Kalimantan Timur); J.-X. Zhao (Queensland University);  J. Huntley (Griffith University;  P.S.C. Taçon (Griffith University);  D.L. Howard (Australian Synchrotron Victoria);  H.E.A. Brand (Australian Synchrotron Victoria)

Budi Istiawan dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Kalimantan Timur mengatakan, sejak tahun 1990-an telah diketahui bahwa gua-gua yang berada di atas pegunungan yang terpencil di Semenanjung Sangkulirang-Mangkalihat, Kalimantan Timur itu menyimpan serangkaian gambar purba, termasuk ribuan penggambaran tangan manusia (“stensil”), hewan, simbol-simbol abstrak, dan motif-motif yang saling berhubungan. Masyarakat pun sudah sangat paham.

“Karya-karya seni yang nyaris tidak dapat diakses ini kini telah diketahui berusia lebih tua dari yang diduga selama ini, berdasarkan sebuah terobosan penelitian yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (ARKENAS) dan Institut Teknologi Bandung (ITB), bersama dengan para peneliti dari Universitas Griffith – Australia, yang dipublikasikan hari ini di jurnal ilmiah ternama, Nature,” imbuh Budi.

Artikel di Nature pada tahun 2014 yang dipublikasikan oleh ARKENAS bersama Aubert dan Brumm mengungkapkan bahwa gambar cadas yang serupa muncul di Sulawesi pada 40.000 tahun yang lalu. Sulawesi terletak di tepi Eurasia dan merupakan “batu-loncatan” yang sangat penting antara Asia dan Australia.

Adam Brumm, seorang arkeolog dari Griffith University yang juga terlibat dalam penelitian ini mengatakan,  serangkaian penanggalan dengan metode uranium-series yang dilakukan terhadap sampel kalsium karbonat yang dikumpulkan dari gambar cadas di Kalimantan, menyajikan perkiraan usia pembuatan gambar cadas yang dapat dipercaya.

Pengumpulan sampel dan penanggalan tersebut dipimpin oleh spesialis penanggalan gambar cadas dari Universitas Griffith, Maxime Aubert.

“Penelitian yang dilakukan oleh Tim Indonesia-Australia ini memberikan pandangan bahwa gambar cadas menyebar dari Kalimantan ke Sulawesi dan dunia-dunia baru lainnya di luar Eurasia, kemungkinan muncul bersamaan dengan orang-orang pertama yang mengkolonisasi Australia”, kata Aubert.

Priyatno Hadi Sulistyarto, M.Hum dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional menambahkan, gambar cadas tertua yang diketahui penanggalannya adalah gambar seekor hewan yang tidak teridentifikasi (kemungkinan merupakan spesies banteng liar yang hingga kini masih ditemukan di kedalaman hutan Kalimantan), gambar cadas ini memiliki penanggalan minimum sekitar 40.000 tahun yang lalu dan hingga saat ini merupakan karya seni figuratif tertua yang ditemukan di muka bumi.

“Gambar tapak tangan di Kalimantan kelihatannya menunjukkan usia yang sama” ungkap spesialis gambar cadas dari Arkenas, Adhi Agus Oktaviana, co-leader¬ Tim Penelitian, “memberi kesan bahwa tradisi gambar cadas Zaman Paleolitik pertama kali muncul di Kalimantan sekitar 52.000 dan 40.000 tahun yang lalu,” kata Priyatno.

Hasil penanggalan ini juga mengindikasikan bahwa terdapat perubahan besar pada budaya seni gambar cadas Kalimantan sekitar 20.000 tahun yang lalu, ditunjukkan dengan adanya gaya baru dalam seni gambar cadas (termasuk beberapa gambaran manusia) ketika iklim global pada Zaman Es mencapai tingkatan yang paling ekstrim.

“Siapa seniman pada Zaman Es di Kalimantan dan apa yang telah terjadi pada mereka merupakan sebuah misteri” ujar salah satu co-leader, Pindi Setiawan, spesialis gambar cadas yang terkenal dan dosen di Institut Teknologi Bandung.

Setiawan telah mempelajari gambar cadas ini sejak pertama kali ditemukan berpuluh tahun yang lalu oleh Tim Penelitian Indonesia-Prancis, dan bersama-sama dengan Oktaviana secara rutin memimpin ekspedisi ke gua-gua di Kalimantan. Penemuan-penemuan ini memberikan gambaran bahwa cerita mengenai asal-usul gambar cadas adalah suatu hal yang kompleks.

Eropa telah lama diketahui sebagai pusat perkembangan gambar cadas. Namun, walaupun Kalimantan merupakan pulau terbesar ketiga di Planet Bumi, hampir sepanjang Zaman Es pulau ini merupakan ujung paling timur dari lempeng benua Eurasia, yang terpisah dari Eropa di ujung barat sejauh 13.000 km.

“Sekarang terlihat bahwa dua penemuan gambar cadas tertua muncul pada masa yang hampir bersamaan di ujung-ujung terjauh dan terpencil Zaman Paleolitik Eurasia: satu di Indonesia, dan satu lagi di Eropa, yang merupakan dua ujung yang saling berseberangan di dunia pada Zaman Es itu”, ungkap Adam Brumm. (dianw/C).

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here