Perluas Akses Penonton, JAFF Siap Digelar di Destinasi Digital

0

JOGJA (Waspada): Guna memperluas akses penonton, salah satu program dalam Jogja Netpac Asian Film Festival (JAFF) yakni Open Air Cinema (OAC) semacam layar tancap, bakal digelar di destinasi digital yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

“Kalau itu (pemutaran film di Destinasi Digital) bertujuan untuk perluasan lokasi pemutaran film dan juga penonton, itu tidak jadi soal. Karena ide kita sejak awal memang ingin mempeluas akses orang untuk bisa nonton. Supaya JAFF bisa dinikmati bukan hanya masyarakat kota,” ungkap president JAFF Budi Irawanto di Jogja baru-baru ini.

Menurut Budi JAFF didirikan 2006 setelah Jogja diguncang gempa. “Ketika itu kita memutar film di lokasi-lokasi pengungsian yang diberi nama Open Air Cinema atau layar tancap sebagai bentuk dukungan moral kepada para pengungsi,” terangnya.

Sejak itu OAC menjadi salah satu program penting JAFF karena memberi akses bagi masyarakat yang kesulitan nonton film ke kota.

“Awalnya film-film yang diputar itu film-film yang mudah dicerna, bukan film art atau yang sulit dipahami. Tapi film-film yang diputar dalam OAC tetap melalui proses kurasi,” tambahnya.

Pemutaran OAC ini, lanjutnya bekerja sama atau melibatkan komunitas lokal seperti pemuda desa dan tentunya perusahaan mobile film.

Penyelenggaraan OAC dalam JAFF bisanya November-Desember pas berbarengan musim hujan. “Kita pernah kejadian pas OAC eh hujan, kita tunggu sampai reda, solusi lainnya terpaksa dipindahkan di indoor,” tambahnya.

Dulu OAC digelar berbarengan dengan JAFF. Belakangan ini diadakan sebagai Pra Jaff. “Supaya seluruh energi bisa kita curahkan ke OAC dengan kata lain intinya kita garap lebih serius,” jelasnya.

Program OAC dalam JAFF, lanjut Budi sepertinya cocok diputar di destinasi digital yang ada di DIY untuk memperluas jangkauan penontonnya.

“Imbauan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) agar  JAFF juga diputar di destinasi digital ini, nanti kita olah dan kita juga perlu survei terlebih dulu detinasi-destinasi digital yang ada di DIY ini,” ujarnya.

Dalam kesempatan ini Budi juga
berterimakasih karena JAFF sudah masuk 100 Wonderful Event Indonesia-nya Kemenpar tahun 2018, yang artinya pemerintah mengakui kalau event kontemporer ini penting dari sisi pariwisatanya.

“Baru tahun ini JAFF mendapat dukungan dari Kemenpar. Kami berharap di tahun-tahun selanjutnya Kemenpar bisa men-support. Soalnya penonton JAFF juga datang dari luar Jogja,” terangnya.

Kata Budi lagi, kaitan antara pariwisata dan festival film sangat dekat.

Bila dikaitkan misalnya sebuah festival berskala internasional ini jelas berdampak terhadap peningkatan okupasi hotel.

Selain itu bisa jadi ajang  pengenalan bermacam kuliner tradisonal saat diskusi, workshop maupun jelang pemutaran film.

Bisa juga dibuat semacam paket tur. “Biasanya pemutaran film di festival ini berlangsung sore sampai malam hari. Jadi pagi atau siangnya penontonnya bisa keliling ke objek-objek wisata di DIY seperti ke candi, desa wisata, tempat-tempat kuliner, dan lainnya. Dan DIY punya semua itu,” beber Budi yang sehari-hari mengajar di UGM.

Koordinator Generasi Pesona Indonesia (Genpi) Jogja Nunung Elizabeth menjelaskan destinasi digital di DIY yang ditargetkan Kemenpar ada 8, dan yang sudah diresmikan antara lain Pasar Kaki Langit di Mangunan, Bantul;  Pasar Sunset Laguna Depok di Kecamatan Kretek, Bantul;  dan Pasar Ngingrong di kawasan Goa Ngingrong, Desa Mulo, Wonosari, Gunungkidul.

“Pasar Kaki Langit  merupakan pilot project Genpi Jogja yang terbilang sukses,” aku Elza, sapaan akrabnya.

Sebelumnya, Kemenpar lewat Staf Ahli Menteri Bidang Multikultural, Esthy Reko Astuty  berharap JAFF dapat digelar di destinasi digital yang ada di DIY.

Harapan Esthy disampaikan  Koordinator Tim PIC Wilayah Jawa, Kemenpar I Gusti Ngurah Putra dalam acara pembukaan JAFF 2018 atau yang ke-13 di Jogja National  Museum (JNM), Kota Jogja, Selasa (27/11) malam.

Kata Esthy wisata digital mampu  memberikan pengalaman baru bagi wisatawan berbentuk pengakuan diri di media sosial.

Selain itu event di daerah wisata digital dapat diviralkan dengan cepat melalui jejaring sosial.

“Jadi tempat pemutaran film yang eksotis diberbagai pelosok DIY dan kota lainnya dapat dipadukan dengan digital destination,” ujarnya.

Melalui program itu, lanjut Esthy, penggemar film dari dalam dan luar negeri akan mendapatkan pengalaman baru menonton film yang berlatar keindahan alam.

Tentu ini akan jadi daya tarik tersendiri bagi festival yang sedang berkembang.

“Oleh karena itu di kesempatan ini saya mengajak para pihak berkepentingan di dunia perfilman dan pariwisata untuk bekerjasama menyukseskan JAFF, agar event ini dapat menjadi agenda resmi internasional,” terangnya.

Lebih lanjut Eshty menjelaskan kenapa JAFF harus digelar  destinasi digital, sebab tahun ini Kemenpar mengusung program digital destination dan nomadic tourism yang didasari oleh kecenderungan masyarakat yang bersandar pada informasi daring dalam menentukan tujuan wisata.

“Wisatawan era sekarang gemar berburu tempat wisata yang dapat dijadikan tempat berfoto yang menarik,” terang Esthy.

Saat bersamaan, para wisatawan kekinian itu ingin menjangkau sebanyak mungkin tempat pada satu kali periode perjalanan, sehingga mereka membutuhkan akomodasi diberbagai tempat.

“Untuk menyukseskan program Kemenpar itu, kami berharap JAFF dapat mendesain kegiatannya yang mampu menjadi event yang menarik lebih banyak wisatawan dengan menggelarnya di destinasi digital,” jelasnya.

JAFF 2018 bertema ‘Disruption’ yang publikasi dan promosinya juga didukung  Kemenpar ini berlangsung 27 November sampai 4 Desember.

Ada 124 judul film dari 27 negara Asia termasuk film-film Indonesia bermutu yang diputar.

Sementara program OAC-nya sebagai Pra JAFF sudah berlangsung sejak (17/11) dengan memutar 7 film, di antaranya film Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta (2018) karya sutradara Hanung Bramantyo yang diputar di lapangan Studio Alam Gamplong, Sleman, DIY, Sabtu (24/11) malam.

Pemutaran film secara gratis di studio film yang lagi ngehits jadi objek wisata terkini tersebut, berhasil menjaring lebih dari 3.000 penonton. (Adji  K.)

Captions:
1. President JAFF Budi Irawanto. (foto: Adji  K.)
2. Gedung utama Jogja National  Museum (JNM) di  Kota Jogja, menjadi venue pameran dan acara pembukaan Jogja Netpac Asian Film Festival (JAFF) 2018. (foto: Adji  K.)
3. Promo pemutaran film Sultan Agung di Studio Alam Gamplong. (foto: Adji  K.)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here