Di JAFF-Indonesian Screen Awards 2018, Hanung dan Reza Berjaya

1

JOGJA (Waspada): Aktor Reza Rahadian dan sutradara Hanung Bramantyo sama-sama berjaya di ajang Jogja Netpac Asian Film Festival (JAFF) khusus sesi Penghargaan Layar Indonesia (Indonesian Screen Awards) 2018.

Di festival film ke-13 ini, pemilik nama lengkap Reza Rahadian Matulessy (31) meraih predikat Performa Terbaik (Best Performance) berkat akting apiknya dalam film “If This Is My Story” garapan duo sutradara sekaligus suami-istri Djenar Maesa Ayu dan Kan Lumé.

Sementara Hanung Bramantyo menyabet gelar Sutradara Terbaik (Best Director) dalam film garapannya yang bergenre sejarah berjudul Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta.

Gelar itu jelas menambah koleksi penghargaan serupa buat Hanung.

Sebelumnya di ajang Festival Film Bandung (FFB) 2018, suami artis Zaskia A. Mecca ini mendapatkan penghargaan sebagai Sutradara Terpuji untuk film arahannya yang berjudul Gift.

Reza Rahadian di film “If This Is My Story” yang menceritakan hubungan tiga manusia penuh problema dalam tiga perspektif berbeda, beradu akting dengan Sha Ine Febriyanti dan juga Cornelio Sunny.

Film yang terdiri atas empat bagian yaitu This Is His Story, This Is Her Story, This is Our Story, dan If This Is My Story ini diputar pada JAFF 2018 di Empire XXI Sabtu Malam (1/12).

Empat bagian dalam film ini  secara garis besar menceritakan dinamika sepasang suami istri yang sudah menjalani usia pernikahan 7 tahun dengan segala macam permasalahan yang ditampilkan lewat perdebatan-perdebatan dan dialog mendalam namun tidak memihak.

Di film yang belum resmi dirilis ini, Reza yang baru saja mendapat penghargaan Top 10 Asia Awards sebagai Indonesia Inspiring Talent-Asia Film Award, berhasil membuat segala macam kalimat terdengar dinamis.

Sementara film Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta menjadi salah satu dari 7 film terpilih yang  diputar dalam acara bertajuk Open Air Cinema atau semacam layar tancap yang menjadi bagian program pra JAFF 2018.

Menariknya pemutaran film yang antara lain dibintangi Ario Bayu ini berlangsung di salah satu bekas lokasi syutingnya yakni di Studio Alam Gamplong yang berlokasi di Dusun Gamplong 1, Desa Sumberrahayu, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman, DIY pada Sabtu (24/11) malam.

Kabarnya film yang diputar secara gratis di lapangan studio alam yang kini menjadi objek wisata tersebut, berhasil menjaring lebih dari 3.000 penonton.

Di film yang rilis 23 Agustus 2018  lalu ini, Hanung berhasil meramu bukan hanya adegan-adegan laga, bak cerita-cerita kolosal lainnya, pun memperlihatkan pemandangan bukit-bukit hijau beraliran sungai, pemandangan desa, dan benteng-benteng kerajaan masa lalu.

Hanung juga jeli memilih pemainnya yang berakting apik, pas, dan bijak hingga membuat film ini terasa punya karakter.

“Buat yang penasaran atas Film Sultan Agung versi Director’s CUT (bukan versi Bioskop maupun Gala Premiere), akan tayang besok, 5 Desember, jam 21.00 WIB di Senayan City. Dijamin pasti beda,” tulis Hanung di akun Instagram (IG)-nya @hanungbramantyo, Selasa (4/12).

Selama 8 hari berlangsung (27 November – 4 Desember), JAFF 2018 bertema “Disruption” yang mendapat dukungan promosi dan publikasi dari Kementerian Pariwisata (Kemenpar) ini memutar 124 judul film dari 27 negara-negara di Asia, di sejumlah bioskop di Yogyakarta.

Di festival film bertaraf internasional ini, Reza pun berbagi ilmu peran dalam program JAFF Education bertajuk Acting Class di Jogja National Museum (JNM), Kota Jogja, Minggu (2/12).

Berikut hasil lengkap JAFF ke-13 ini yang diumumkan dalam malam penghargaan di JNM, Selasa (4/12), lalu disebarluaskan via @jaffjogja dan www.jaff-filmfest.org:

Peraih The Golden Hanoman Award untuk Film Asia Terbaik:  27 Steps May, sutradara Ravi Bharwani dari Indonesia.

Penerima The Silver Hanoman Award untuk Film Asia Terbaik Kedua: Nervous Translation,  sutradara Shireen Seno (Filipina).

Pemenang NETPAC Award dari Jaringan untuk Promosi Bioskop Asia Pasifik (NETPAC): film The Song of Grassroot, sutradara Yuda Kurniawan (Indonesia).

Peraih Blencong Award dari Light of Asia untuk program pendek Asia terbaik: film Facing Death with Wirecutter, sutradara Sarwar Abdullah (Irak).

Penerima Geber Awards dari perwakilan Komunitas Film Independen atau dari komunitas pembuat film hingga klub-klub ternama di seluruh Indonesia untuk film Asia favorit: film Passage of Life, sutradara Akio Fujimoto (Jepang & Myanmar)

Peraih Jogja Film Student Award (Penghargaan Siswa Jogja Film): film Grandma’s Home (Nhà Ngoại), sutradara Nguyen Hoang Bao Anh (Vietnam)

Pemenang pertama Best Future Project (Proyek Terbaik di Masa Depan): Mayday karya Eden Junjung.

Khusus JAFF-Indonesian Screen Awards 2018:

Performa Terbaik (Best Performance): Reza Rahadian dalam film “If This Is My Story”.

Sutradara Terbaik (Best Director): Hanung Bramantyo (film Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta)

Sinematografi Terbaik (Best Cinematography): Amalia T.S (film Aruna & Lidahnya)

Skenario Terbaik (Best Script): Andibachtiar Yusuf & M. Irfan Ramly (film Love for Sale)

Film Terbaik (Best Film): Petualangan Menangkap Petir, sutradara Kuntz Agus, produksi Fourcolours Films. (Adji  K.)

Captions:
1. Hanung Bramantyo menyabet gelar Sutradara Terbaik (Best Director) JAFF-Indonesian Screen Awards 2018 untuk film garapannya Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta. (Foto: Adji  K.)
2. Reza Rahadian menyandang gelar Best Performance atau Performa Terbaik di ajang serupa. (Foto: @jaffjogja)
3. Film 27 Steps May dari Indonesia menjadi pemenang The Golden Hanoman Award untuk Film Asia Terbaik JAFF 2018. (Foto: @jaffjogja)
4. Petualangan Menangkap Petir menyabet penghargaan Film Terbaik (Best Film) JAFF-Indonesian Screen Awards 2018. (Foto: @jaffjogja)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here