Kemristekdikti Siap Bangun 40 Akademi Komunitas Berbasis Pesantren

1

SEMARANG(Waspada): Pesantren telah lama  dikenal sebagai penghasil cendekiawan yang membumi. Di pesantren pula banyak ilmu yang terkait dengan berbagai hajat hidup orang banyak, seperti pertanian, teknologi pangan, ilmu agama, sosial dan kesehatan.

Melihat potensi luar biasa di pesantren, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) berencana membangun sedikitnya 40 akademi komunitas berbasis pesantren di seluruh Indonesia. Langkah awal ini diperkirakan memakan waktu sepanjang 2019 sampai 2020.

“Nanti saya minta Direktorat Jenderal Kelembagaan Kemristekdikti untuk mengawal pembangunannya. Misalnya laboratoriumnya, statusnya, standar kelulusannya dan sejumlah kesiapan lain yang terkait dengan program diplomas 1 dan 2,” kata Menristek Mohamad Nasir saat membuka acara sosialisasi gerakan akademi komunitas berbasis pesantren dan pameran industri di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Rabu (5/12).

Dia menggarisbawahi pentingnya pembangunan akademi berbasis komunitas ini  dengan rencana pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) yang digaungkan pemerintah. Pembangunan infrastruktur kini dinilai telah memadai dan akan berpindah titik berat pada pembangunan SDM.

Pembangunan SDM yang masiv diyakini dapat meningkatkan tingkat daya saing bangsa. Pasalnya, lanjut Nasir, daya saing global manusia Indonesia saat ini masih berada di urutan 45 dari 140 negara. Diantara yang masih memberatkan adalah penilaian terkait inovasi, persiapan memasuki dunia kerja dan masalah kesehatan.

“Keberadaan akademi komunitas berbasis pesantren ini nantinya diharapkan akan menjadi salah satu daya ungkit pembangunan daya saing global manusia Indonesia di masa depan,” tandas menristekdikti.

Selain menambah nilai daya saing, akademi komunitas juga diharapkan dapat meningkatkan kesiapan tenaga kerja menghadapi dunia kerja dan menjadi wirausahawan yang mandiri. Pasalnya, tingkat pengangguran di SMS dan SMK sampai kini masih tinggi. Meski sudah ada penurunan dari 9,2 persen menjadi 6,2 persen dalam dua tahun terakhir sejak upaya pendidikan tinggi vokasi digelar, namun hal itu masih dianggap belum maksimal.

Dia berkeyakinan pemerintah daerah akan senang bekerja sama mewujudkan rencana ini, khususnya seluruh pesantren yang ada di Indonesia. Akademi komunitas ini nantinya akan bergerak dalam koridor produk-produk kearifan lokal.

“Kembangkan apa yang menjadi kekuatan di masing-masing daerah. Pesantren sebagai pusat pembelajaran dan agen perubahan dapat menentukan jenis-jenis kearifan lokal yang layak dikembangkan sebagai kurikulum pembelajaran di akademinya,” imbuh Nasir. (dianw/C)

Caption: Menristekdikti Mohamad Nasir dan Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen (dua dan tiga dari kanan) usai pembukaan sosialisasi di Semarang, Jawa Tengah, Rabu (5/12)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here