Pengaruh Reuni 212 Tidak Bisa Disepelekan

1
Repro/ant
Repro/ant

* Festival Keagamaan Yang Harus Dilestarikan

MEDAN (Waspada):  Pakar Tata Negara Universitas Sumatera Utara (USU) Dr. Faisal Akbar mengatakan, jutaan manusia yang berkumpul di Monumen Naional (Monas) menghadiri Reuni Damai 212 jelas sekali tidak bisa disepelekan pengaruhnya. Terlebih lagi pengaruh sosial danpolitiknya.

“Kegiatan ini bisa memberisinyal sebuah pengawasan bagi siapapun nanti pemimpin bangsa ini, agar tidak menyakiti umat Islam, tidak memandang sebelah mata umat Islam, “ sebut Faisal Akbar, Selasa (4/12), saat dimintai komentarnya tentang tentang pelaksanaan Reuni 212 hari Minggu kemarin.

Menurutnya, Reuni Aksi Damai 212 menggambarkan kebangkitan  politik umat Islam yang sangat signifikan.  Karena itu, kalaupun  ada sebagian kalangan yang mengatakan kalau Reuni Akbar 212 mengaitkannya ke ranah politik, maka itu sah-sah saja, tapi bukan kampanye, melainkan cermin kebangkitan politik umat Islam.

“Kalau pun ada, maka aura kepentingan politik hanya untuk kebangkitan  politik umat Islam. Namun, bila dibandingkan dengan spirit atau semangat sebenarnya yang dominan dalam Reuni Aksi 212 tersebut adalah spirit Islam, berupa semangat persatuan, semangat kebangkitan umat Islam, semangat bela Islam, dan  semangat dakwah Islam,” sebut Faisal Akbar.

Reuni Akbar 212, juga merupakan konsolidasi antar  umat Islam.  Faisal, mengatakan  umat Islam di Indonesia sangat penting untuk menjaga spirit Aksi 212 dan melindunginya dari hal-hal yang dapat melemahkan spirit tersebut, seperti kepentingan-kepentingan pragmatis, layaknya agenda kampanye politik lima tahunan.

Faisal Akbar, mengingatkan agar para tokoh Aksi 212 harus menjaga spirit persatuan umat Islam. Itu semua harus dilakukan semata-mata untuk kepentingan dan keberlangsungan persatuan umat Islam yang akan memiliki efek jangka panjang dalam perjuangan Islam di Indonesia.

“Jangan sampai  spirit Aksi 212 kedepannya hanya dimanfaatkan untuk kepentingan-kepentingan pragmatis yang oportunis. Itu semua hanya akan menjadi semacam kankerdi tubuh Umat Islam yang akan melemahkan bahkan mematikan persatuan Umat Islam yang saat ini semakin terkonsolidasikan dengan baik,” demikian Faisal Akbar.

Harus dilestarikan

Sementara itu,  Pengamat Komunikasi Politik  Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) Joko Susanto,  mengatakan  Reuni Damai  212,  merupakan  festival keagamaan yang fenomenal yang harus dilestarikan.

“Pemikiran sempit kalau ada  mengaitkan dengan sisi negatif. Reuni Akbar  212 digelar di Monas adalah aksi super damai. Jadi  sangat disesalkan kalau  ada pernyataan yang aneh-aneh tentang kegiatan itu,’’ kata Joko Susanto.

Dia mengatakan bahwa Reuni 212 adalah tonggak perjuangan dan pergerakan Islam yang damai. Untuk itu, aneh kalau ada pihak – pihak  memandang negatif kegiatan ini.

Kegiatan ini, menurut Joko, sangat fenomenal. Di manajutaan umat Islam dari berbagai daerah di Indonesia hadir  di Jakarta,  dan pelaksanaannya berlangsung damai dan tertib sampai acara berakhir.

“Pertanyaannya kemudian, di mana negatifnya ? Bayangkan saja,  sehelai rumput pun tak mati. Bahkan selembar sampah pun tidak ada yang terlihat berserakan dilokasi acara,” sebutnya.

Menurut Joko,  kegiatan ini merupakan  ukhuwah umat Islam dan kecintaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Umat tidak hanya dipandang sebagai kerumunan, tetapi mulai bertransformasi menjadi barisan dan gerakan yang menyebarkan kebaikan serta manfaat.

“Kegiatan tersebut sebagai pengingat, peneguh dan pengokoh. Pengingat bahwa ukhuwah adalah kekuatan menyatukan hati, menyamakan kata dan merapatkan barisan,” tegasnya.(m49/C)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here