Semak Zona Merah Danau Sinabung Surut

0
RUMAH warga di kawasan zona merah terlihat digerayangi semak jahil yang berdampingan dengan lahan pertanian serta terlihat juga danau baru Sinabung yang sudah surut. Waspada/Panitra Nedy
RUMAH warga di kawasan zona merah terlihat digerayangi semak jahil yang berdampingan dengan lahan pertanian serta terlihat juga danau baru Sinabung yang sudah surut. Waspada/Panitra Nedy

TANAH KARO (Waspada): Semak yang tumbuh secara liar di antara pekarangan rumah milik warga di Desa Gamber, Desa Berastepu, Desa Kuta Tonggal Kec. Simpang Empat dan Desa Sukanalu serta Desa Sigarang-garang Kec. Naman kawasan zona merah Sinabung, telah menggerayangi rumah warga hingga kebagian dalam dan atap rumah.

Pasalnya, warga desa pemilik rumah belum diizinkan pihak satgas Tanggap Darurat Gunung Api Sinabung untuk kembali ke desanya masing-masing untuk memperbaiki rumah agar tinggal di sana. Akibatnya, semak makin tinggi yang menyebabkan bagian-bagian rumah sudah mulai rusak karena suhu disekitar makin lembab.

Kendatipun beberapa warganya berupaya membersihkan rumah mereka di Desa Sukanalu dengan cara menyusup secara diam-diam menghindari pantauan petugas patroli dari Koramil 04/SE dan Polsek Simp. Empat, tetapi tetap saja mereka belum diberi izin dari pihak Satgas Tanggap Darurat Sinabung untuk menempatinya.

Pantauan Waspada di kawasan lingkar Sinabung bagian Timur Laut, Timur dan sebelah Tenggara gunungapi Sinabung zona merah, Rabu (5/12), selain rumah-rumah di desa tersebut, air Danau Sinabung yang berada di kawasan perladangan Salagaunder hingga ke kawasan persawahan Senderung mulai surut sekitar tiga meter akibat tanggulnya mengalami jebol beberapa hari lalu.

Buktinya, pada bagian ujung pohon-pohon atau bambu yang selama ini tertutup permukaan air, sekarang sudah kelihatan dan tidak indah lagi seperti dahulu. Begitupula warga desa sekitar lingkar Sinabung yang kerap menangkap ikan dengan cara memancing, kini sudah jarang memancing di sana.

Selain itu, lahan pertanian warga yang sudah ditinggalkan selama ini karena mengungsi, sekarang mulai diolah pemiliknya untuk segera ditanami. Soalnya aktifitas Sinabung saat ini, tidak sereaktif seperti Tahun 2015-2018 yang dapat membahayakan nyawa mereka saat bekerja di ladang.

B. Sembiring Meliala 38 warga Desa Berastepu yang sedang mengolah lahannya di kawasan zona merah kepada Waspada menyebutkan, ketertarikannya bercocok tanam di sana karena bekas paparan debu vulkanik Sinabung sangat subur dan pemggunaan pupuk kimia dalam bercocol tanam jumlahnya sedikit, sehingga ia dan petani lainnya membuka lahan yang sudah ditinggalkan bertahun-tahun.

Selain itu kata Milala, akitifitas gunungapi Sinabung sudah turun dibanding tahu-tahun sebelumnya, sebab keselamatan yang utama disaat bekerja, walau satgas Sinabung tetap melarang masuk, katanya.

Konsultan Pertanian Sumatera Utara Ir Bangun Barus kepada Waspada memgatakan, abu vulkanik Sinabung kaya akan mineral yang dapat menyuburkan tanah. Tetapi abu vulkanik itu membutuhkan waktu belasan tahun terurai agar dapat dipergunakan oleh tanaman. Karena abu vulkanik belum terurai menjadi unsur hara yang cocok bagi tanaman. Seban tingkat keasamannya masih tinggi, sekitar pH=3 serta mengandung kwarsa yang tinggi. Untuk mempercepat penguraian abu vulkanik itu, perlu diberikan pengapuran dan pemberian bakteri mikroba (pupuk hayati) yang dicampur dengan tanah asli, sehingga penguraian abu vulkanik akan lebih cepat dan dalam kurun waktu setahun, abu vulkanik sudah dapat di serap tanaman, sebutnya. (cpn/a36)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here