Tangkahan Juara Satu Indonesia Sustaianable Tourism Award 2018 Bidang Lingkungan

0

JAKARTA (Waspada): Pariwisata Sumatera Utara (Sumut) menorehkan prestasi di ajang Indonesia Sustaianable Tourism Award (ISTA) 2018.

Salah satu ekowisatanya yakni Tangkahan berhasil merebut juara satu ISTA 2018 untuk kategori bidang lingkungan.

Pengumuman menggembirakan itu berlangsung di Hotel Borobudur Jakarta, baru-baru ini.

Tangkahan berhasil mengungguli Tanjung Puting (Kalimantan Tengah), Taman Nasional Bali Barat (Bali), dan WAHA Tourism Community (WTM) yang masing-masing meraih juara 2, 3, dan 4 (harapan).

Tangkahan merupakan sebuah ekowisata yang berada di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), Kabupaten Langkat, Sumut.

Keistimewaan Tangkahan yang diapit Desa Namo Sialang dan Desa Sei Serdang ini merupakan kawasan hutan hujan tropis dengan topografi yang berbukit, ditambah keberadaan Sungai Buluh, Sungai Batang Serangan, dan tebing bercorak di sepanjang sungai.

Para backpacker biasa menjangkaunya dari Terminal Pinang Baris di Kota Medan dengan menggunakan bis Pembangunan Semesta melewati Stabat.

Perjalanan ke Tangkahan dapat ditempuh dalam waktu sekitar 3-4 jam dari Kota Medan

Untuk menuju kawasan ekowisata, kita harus menyeberangi Sungai Batang Serangan yang cukup deras arusnya, sehingga harus menggunakan rakit.

Keistimewaan lainnya, banyak kegiatan ekowisata yang dapat dinikmati di Tangkahan, baik bernuansa petualangan atau hanya sekadar berenang dan treking di hutan tropis.

Sekurangnya ada 3 jalur treking di hutan ini, mulai dari soft trekking (untuk anak–anak maupun keluarga) sampai yang bersifat petualangan.

Selain itu patroli gajah masuk ke dalam hutan dengan menunggang gajah-gajah terlatih yang juga digunakan untuk patroli atau melindungi taman nasional dari kegiatan ilegal seperti perburuan, perambahan, dan tentu saja illegal logging.

Bisa juga berendam di aliran air panas alami di goa yang di dalamnya mengalir air panas di tepi Sungai Buluh, di seberang penginapan Jungle Lodg.

Pilihan lainnya mandi di air terjun kecil di dekat pertemuan Sungai Buluh dan Sungai Batang Serangan. Tinggal jalan kecekungan sungai sekitar 100 meter untuk mencapai air terjunnya.

Kegiatan lainnya, menelusuri gua kelelawar yang dihuni ribuan kelewar hingga menembus pintu gua lainnya.

Bisa juga berarungjeram dengan ban dalam truk yang besar dan telah dipompa atau istilahnya tubing, mengikuti arus sungai sampai ke titik tertentu sambil menikmati pemandangan di tepi sungai bersama pemandu setempat.

“Banjir” turis asing ke Tangkahan sudah nampak terlihat sejak tahun 2008. Wisman yang menyukai Tangkahan terutama dari Eropa dan Jepang.

Paket tur Tangkahan  yang diminati antara lain paket patroli gajah, yakni keliling kawasan, memasuki hutan dan menyeberangi sungai dengan menunggangi gajah serta bermalam di hutan untuk melihat spesies bintang endemik.

Deputi Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Dadang Rizky Ratman dalam siaran pers terkait ISTA 2018 mengatakan pemberikan penghargaan kepada para pemenang ISTA 2018 sebagai bentuk mengapresiasi pemerintah kepada pihak-pihak yang telah menerapkan prinsip berkelanjutan dalam pengelolaan pariwisata.

“Ini bentuk apresiasi kepada para pengelola yang telah menerapkan pembangunan pariwisata berkelanjutan atau Sustainable Tourism for Development (STDev),” kata Dadang.

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya menjelaskan Program STDev mencakup tiga hal utama SustainableTourism Destination (STD), Sustainable Tourism Observatory (STO), dan Sustainable Tourism Certification(STC).

Untuk program STD Kemenpar  telah bekerjasama dengan 20 kabupaten/kota di seluruh Tanah Air (Kota Sabang, Kota Medan, Pesisir Selatan, Kota Palembang, Bintan, Kota Pontianak, Belitung, Kota Palangkaraya, Pangandaran, Sleman, Magelang, Probolinggo, Berau, Hulu Sungai Selatan, Wakatobi, Lombok Barat, Kota Ternate, Morotai, Raja Ampat, dan Biak Numfor).

Sementara itu dalam program STO, Kemenpar menggandeng 5 universitas yaitu UGM, ITB, Udayana, Unram, dan USU yang ditunjuk sebagai Monitoring Centre for Sustainable Tourism Observatory (MCSTO).

Masing-masing universitas memonitor observatorium, seperti STO Sleman dimonitor oleh UGM, Pangandaran oleh ITB, Sanur oleh Udayana, Lombok oleh Unram, dan Toba oleh USU.

Berikut daftar lengkap para penerima penghargaan ISTA 2018:
1. Penerima penghargaan dalam bidang Lingkungan
a. Juara 1: Ekowisata Tangkahan
b. Juara 2: Tanjung Puting
c. Juara 3: Taman Nasional Bali Barat
d. Juara 4 (harapan): WAHA Tourism Community (WTM).

2. Penerima penghargaan dalam bidang Sosial-Budaya
a. Juara 1: Kampung Adat Wae Rebo b. Juara 2: Wisata Kei
c. Juara 3: Ulun Danu Beratan
d. Juara 4 (harapan): Kampung Belajar Tanoker.

3. Penerima penghargaan dalam bidang Tata Kelola adalah:
a. Juara 1: Papua Explorers Resort
b. Juara 2: Mandalika
c. Juara 3: Taman Wisata Pendidikan Purbasari Pancuran Mas
d. Juara 4 (harapan): D’Kandang Amazing Farm, Depok

4. Penerima penghargaan dalam bidang Pemanfaatan Ekonomi kepada Masyarakat Lokal adalah:
a. Juara 1: Kawasan Wisata Pantai Pandawa
b. Juara 2: Kampung Ekowisata the Lodge Maribaya
c. Juara 3: Kampoeng Cinangneng
d. Juara 4 (harapan): Desa Pujonkidul

ISTA tahun ini, Nihi Sumba (Sumba Committee), Nihiwatu yang menyabet Juara Umumnya.  (Adji  K)

Captions:
1. Para pemenang Indonesia Sustaianable Tourism Award (ISTA) 2018 berfoto bersama Menpar Arief Yahya, Deputi Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata, Kemenpar Dadang Rizky Ratman, dan tokoh lainnya. (Foto: dok. Kemenpar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here