Muspika Amankan Anak Jalanan

1
Muspika Amankan Anak Jalanan
Muspika Amankan Anak Jalanan

ACEH TAMIANG (Waspada): Tim gabungan Muspika Kota Kualasimpang, Kabupaten Aceh Tamiang mengamankan 16 anak jalanan yang lebih dikenal dengan sebutan anak punk. Mereka ditangkap dibeberapa titik lokasi dalam wilayah Kota Kualasimpang, Kamis (6/12).

Informasi diperoleh, 16 anak jalanan tersebut yaitu, Nursani Hasibuan, 20, warga Medan, Adinda, 18, warga Lubuk Pakam, Safrida, 18, warga Asahan, Maya Anggraini, 18, warga Asahan, Nadira, 26, warga Gampong Blang, Langsa, Fahmi Ardiansyah, 20, Dian, 22, dan Fakhrul Mukmin, 19, warga Jawa Tengah serta Rizki, 28, warga Cianjur Jawa Barat.

Beberapa orang diantaranya adalah warga Aceh Tamiang yaitu, Khaidir, 26, warga Kampung Landuh, Kualasimpang, M. Bayu, 20, warga Bukit Rata, Kejuruan Muda, M. Antoni, 19, warga Kampung Dalam, Aceh Tamiang, Ilham, 22, warga Tanah Terban, Aceh Tamiang serta Deni, 23, warga Aceh Besar.

Kepala Dinas Sosial Aceh Tamiang, Muhammad Alijon mengatakan, 16  anak gelandangan tersebut diamankan di dua lokasi di Kota Kualasimpang, tepatnya dibelakang rumah toko (ruko), “ Mereka diamankan berdasarkan laporan masyarakat yang mengaku resah dengan aktivitas para anak gelandangan ini,” ujarnya.

Dijelaskannya, dari laporan masyarakat, para anak gelandangan tersebut tidur berkumpul antara pria dan perempuan dibelakang toko, “selain tidur bercampuran, para anak gelandangan ini juga dilaporkan mengkosumsi minuman keras jenis tuak dan membawa anjing dari Medan,” kata Alijon.

Menurutnya, disamping 16 nama tersebut, dalam operasi penertiban yang dilakukan tim gabungan Muspika Kualasimpang juga ikut diamankan dua anak dibawah umur dengan inisial S (5) dan Y (3), keduanya merupakan anak dari Nadira (26) yang merupakan warga Kampung Blang, Pemko Langsa.

Disampaikannya, selain telah membuat keresahan terhadap masyarakat, para gelandangan tersebut diamankan karena menggunakan pakaian yang tidak sesuai tatanan kehidupan masyarakat Aceh, khususnya Aceh Tamiang. “Mereka menggunakan pakaian koyak-koyak dan memakai tato, untuk orang-orang seperti itu tidak ada tempat di Aceh Tamiang,” tegas Alijon.

Para gelandangan tersebut setelah dilakukan pendataan dan diberikan pembinaan serta membuat perjanjian agar tidak mengulang kegiatan mereka itu kembali, kemudian Dinas Sosial yang bekerjasam dengan unsur terkait akan mengembalikan para gelandangan ini ke daerah mereka masing-masing. (cri)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here