Pembunuhan Terhadap Jurnalis Meningkat

1
Seorang jurnalis jatuh tersungkur akibat terkena tembakan yang dilepaskan oleh sniper di Kota Maalula, Syria. SN
Seorang jurnalis jatuh tersungkur akibat terkena tembakan yang dilepaskan oleh sniper di Kota Maalula, Syria. SN

Berprofesi sebagai jurnalis tampaknya semakin berbahaya dan menantang dalam satu dekade terakhir. Menurut sebuah laporan, pada 2017 sebanyak 78 jurnalis terbunuh dan 326 dipenjara saat tengah melakukan tugasnya.

Menurut organisasi pengamat hak asasi manusia, Article 19, adanya pemerintah otoriter serta ancaman sensor internet menjadi kontributor terbesar secara global terkait kebebasan pers. Angka tersebut menandakan peningkatan besar pada tahun sebelumnya. Banyak jurnalis yang dibui di Turki, China, dan Mesir atas tuduhan menentang negara.

Direktur Eksekutif Article 19, Thomas Hughes, mengatakan, kebutuhan perlindungan hak atas kebebasan berekspresi dan informasi sangat tinggi. Kematian, detensi, dan ketakutan menjadi ancaman besar bagi jurnalis dan aktivis di seluruh dunia. Hal tersebut membungkam ruang diskusi dan komunikasi yang sama saja seperti dikepung.

“Lebih dari sebelumnya kita membutuhkan warga yang berpengetahuan, institusi yang kuat, dan supremasi hukum,” ujar Hughes, seperti dikutip laman The Guardian, Rabu (5/12).  Kelompok hak asasi manusia tersebut menyimpulkan kebencian terhadap media menjadi normal di seluruh dunia, di tengah berkembangnya pemimpin populis. “Eropa Timur sangat bermasalah,” lanjut Hughes.

Bahkan dalam data yang dirilis direktur jenderal Organisasi Edukasi, Sains, dan Budaya Perserikatan Bangsa-bangsa (UNESCO) pada 2016 lalu lebih mengkhawatirkan. Di situ dilaporkan, dalam 1 dekade terakhir, sebanyak 827 jurnalis terbunuh saat bekerja. Mayoritas jurnalis yang terbunuh berasal dari negara-negara Arab seperti Syria, Irak, Yaman, dan Libya.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pun terkenal dengan kebiasaannya mengecam para jurnalis dengan menyebut mereka ‘jahat’ dan ‘mengerikan’. Ia juga menyebut bahwa media mengutamakan para pemasok berita palsu. Ada semakin banyak bukti bahwa pendekatannya memberi keberanian kepada orang lain, dari Hungaria hingga Filipina, Albania, dan Kanada.

“Retorika yang tidak bersahabat ini memiliki efek dunia nyata: pembunuhan di seluruh wilayah ini terjadi di lingkungan di mana media ditertawakan dan dihina, termasuk oleh pejabat publik,” kata organisasi itu. Dalam waktu kurang dari setahun, para wartawan telah dibunuh di Bulgaria, Slovakia, Rusia, dan Malta.

Data dari LSM, Komite Perlindungan Wartawan, menunjukkan bahwa 2018 merupakan tahun buruk bagi jurnalis. Faktanya, jumlah jurnalis yang terbunuh meningkat. Mereka dibunuh sebagaimana layaknya lawan terbunuh dalam perang, pada penugasan berbahaya, atau dalam insiden lain.

Perhatian dunia baru-baru ini terfokus pada nasib jurnalis Saudi, Jamal Khashoggi, yang dibunuh oleh pasukan keamanan Saudi di Istanbul pada 2 Oktober. Khashoggi adalah salah satu dari 31 jurnalis yang terbunuh sepanjang tahun ini.

Menurut analisis data CPJ, dalam dekade terakhir ini, sekitar 300 wartawan dilaporkan telah dibunuh di lebih dari 40 negara. Selain dari negara-negara yang berperang, India, Meksiko, Brasil, Pakistan, dan Rusia memiliki catatan yang paling suram.

Article 19 juga mengatakan, pemantauan internasional gagal untuk menerangkan semua kasus kekerasan terhadap jurnalis – terutama ketika “komunikator” lokal di komunitas kecil dan terpinggirkan tewas setelah mengungkap kesalahan pemerintah dan kelompok kepentingan lainnya. (tg/And)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here