Studi Bisnis Sosial Makin Diminati

1

JAKARTA (Waspada): Istilah tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) sudah akrab di telinga masyarakat luas. Sayangnya, masih banyak yang mempersepsikan istilah itu dengan uang.

“Padahal tidak demikian. CSR bukan sekedar uang, tapi lebih dari itu adalah upaya keberlangsungan sebuah usaha. Basisnya tentu lingkungan sosial dan keberpihakan pada kebutuhan komunitas yang makin inklusif,” ujar pakar CSR, Jalal, dalam acara Center for Entrepreneurship, Change and Third Sector (CECT) Universitas Trisakti di Jakarta, Kamis (6/12) malam.

Keberlangsungan usaha berbasis komunitas itu, saat inipun makin diminati generasi muda. Bisnis sosial atau social entrepreneur bahkan telah berkembang sejak awal 2000, dimana penelitian-penelitian tentang bisnis sosial semakin berkembang.

“Penelitian di banyak lembaga institusi tentang filantropi dan bisnis sosial ini menunjukkan minat tinggi pada bisnis sosial. Bisnis seperti ini lebih menjamin keberlangsungan lembaga-lembaga sosial dan keberlanjutan bisnis komersil,” kata Jalal.

Kalangan LSM atau non-governmental organization (NGO) saat ini banyak yang membutuhkan ilmu untuk menyelesaikan masalah sosialnya secara bisnis. Kondisi ini terjadi lantaran sudah semakin sulit untuk mengakses lembaga donor. Sehingga mereka mengambil kuliah peminatan social entrepreneur diharapkan bisa mengatasi persoalan modal.

“Para social entrepreneur tersebut sudah memiliki gagasan atau inovasi untuk menyelesaikan persoalan sosial di lingkungan masing-masing. Hanya saja kebiasaan pelaku atau aktivis LSM cenderung berbeda dengan kalangan bisnis,” imbuh Jalal.

Sayangnya,meski diminati,  program kuliah pascasarjana peminatan social entrepreneur atau bisni sosial ini masih langka. Pendiri sekaligus Ketua Program Magister Manajemen (MM) Sustainability dan MM Community Enterprise Usakti Maria R. Nindita Radyati mengklaim di Indonesia baru institusinya yang membuka program peminatan social entrepreneur untuk jenjang kuliah S2.

“Untuk itu, program studi tentang Corporate Sosial Responsibility (CSR) dinilai penting dibuka di kampus-kampus Indonesia. Terlebih kini, prodi di bidang CSR hanya ada di Universitas Trisakti saja,” ujar Maria.

Di kampus Usakti setiap angkatan yang mendaftar program social entrepreneur mencapai 30 orang. Tetapi yang diterima hanya sekitar 15 orang. Mereka ada yang mendapatkan beasiswa atau biaya sendiri.

’’Peminat program ini banyak sekali. Terutama dari kalangan LSM (lembaga swadaya masyarakat, Rer),’’ katanya

Selain itu Maria mengatakan kampus Usakti ingin mempertemukan para social entrepreneur tersebut dengan perusahaan yang memiliki dana CSR. Dia menegaskan bahwa perusahaan yang memiliki uang CSR tersebut banyak yang tidak memiliki inovasi atau program sosial, tetapi mereka punya uang.

“Maka kolaborasi antara social entrepreneur dengan perusahaan pemilik dana CSR sangat penting,” imbuhnya. (dianw/C)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here