Mbah Putih Menyusul Gol,Tersangka Mafia Bola Bertambah

1
Antara

JAKARTA (Waspada): Polisi kembali menangkap tersangka kasus pengaturan skor sepakbola. Kali ini tim Satgas Anti Mafia Bola mengamankan Dwi Irianto alias Mbah Putih (foto) yang merupakan anggota nonaktif Komisi Disiplin (Komdis) PSSI.

Mbah Putih ditangkap di Hotel New Saphire, Yogyakarta, Jumat (28/12). “Ya betul sudah ditangkap di Yogyakarta oleh tim,” kata Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo.
Sebelumnya, Mbah Putih sempat ditemui wartawan di kediamannya di Kota Yogyakarta, Kamis (27/12) malam dan menyatakan bersedia membantu proses penyidikan.

Namun sebelum bertolak ke Polda Metro Jaya, Mbah Putih yang merupakan mantan Direktur Utama PSIM dan pernah menjabat Ketua Asprov PSSI DIY ini lebih dahulu diciduk polisi yang tergabung dalam Satgas Anti Mafia Bola bentukan Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

Anak kedua Dwi Irianto, Berlandika Candra Pramdikta mengaku kaget sang ayah dibawa polisi dan diterbangkan ke Jakarta. Berlandika menceritakan ayahnya ditangkap polisi pada pukul 08.00 pagi.

“Kami sangat kaget tahu-tahu bapak dibawa karena sebelumnya memang tidak ada surat pemanggilan. Ada sekitar 10 orang yang menangkap bapak dan sempat dibawa ke Polsek lalu terbang ke Jakarta. Ada surat penangkapan dan saya menandatangani,” ujar Berlandika Candra.

Pihak keluarga Mbah Putih belum dapat berbuat banyak selain menunggu berjalannya kasus hukum, termasuk siapa yang akan ditunjuk sebagai kuasa hukum. Berlandika mendapat pesan dari ayahnya untuk menjaga rumah, ibunya, beserta keluarganya.
Mbah Putih juga sempat membawa berkas-berkas untuk membantu proses penyidikan di Polda Metro Jaya. “Ada dua tas yang dibawa. Isinya berkas-berkas,” tambah Berlandika.

Resmi Tersangka
Pasca-penangkapan, kepolisian menyatakan status Mbah Putih sudah menjadi tersangka dalam kasus pengaturan skor. “Ya sudah. Mbah Putih sebagai tersangka,” kata Karopenmas Div Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo.

Nama Dwi Irianto pertama kali tersebut oleh mantan Manajer Persibara Banjarnegara Lasmi Indaryani. Dalam pengakuannya di acara Mata Najwa beberapa waktu lalu, Lasmi mengatakan ada aliran uang yang ia keluarkan untuk beberapa orang termasuk Mbah Putih.

Dengan namanya diduga terlibat, Dwi diketahui sudah tidak lagi dilibatkan dalam pengambilan keputusan Komisi Disiplin PSSI. Statusnyad i Komdis PSSI pun sudah nonaktif. Hal ini dikatakan langsung Ketua Komdis PSSI, Asep Edwin.

“Kita belakangan ini sudah tidak melibatkan Pak Dwi terlebihdahulu dalam kegiatan Komdis. Semenjak keputusan PSMP Mojokerto Putra kita tidak libatkan beliau,” ucap Asep.
Asep tak menampik penonaktifan Dwi Irianto dari Komdis karena diduga terlibat pengaturan skor. Sebab bagi Asep tidak mungkin melibatkan orang yang disinyalir terlibat Pengaturan skor.

“Pastinya semenjak namanya disebut di Mata Najwa, kita pun kaget nama dia tersebut terlibat, kan tidak mungkin melibatkan orang yang namanya tersebut terlibat pengaturan skor. Makanya kesepakatan di Komdis PSSI sementara dilihat dari surat keputusan PSMP tidak ada tanda tangan dia,” tandasnya.

Selain Dwi, tim Satgas Anti Mafia Bola sebelumnnya juga sudah mengamankan tiga orang, yakni Priyanto, Anik Yuni Kartikasari, dan Anggota Exco PSSI Johar Lin Eng.

Tolak Panggilan Komdis
Sementara itu, mantan manajer Persibara Banjarnegara, Lasmi Indriyani menolak hadiri panggilan Komisi Disiplin (Komdis) PSSI, terkait pengaturan skor pada Jumat (28/12).
Dalam surat yang ditandatangani Sekretaris Jenderal (Sekjen) PSSI, Ratu Risha, pada 24 Desember 2018, Lasmi Indriyani dipanggil untuk dimintai pertanggungjawaban atas pernyataannya di media online dan acara Mata Najwa.

Dalam acara Mata Najwa, Lasmi Indriyani bersama Bupati Banjarnegara menyebut anggota Exco PSSI Johar Lin Eng meminta uang Rp500 juta agar bisa menjadi tuan rumah fase gugur Liga 3.

Karena hal tersebut, Komdis PSSI memanggil Lasmi. Namun, melalui kuasa hukumnya, Boyamin Saiman, Lasmi menolak memenuhi panggilan tersebut.

“Surat hanya ditandatangani oleh Sekjen tanpa adanya tandatangan Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi atau setidak-tidaknya tidak ditembuskan sebagai laporan kepada Ketum PSSI, sehingga kami menganggap surat tersebut kurang layak,” kaya Boyamin. (m42/cnni/bc/ant/J)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here