Musibah Pilu KM Sinar Bangun

0

TAHUN 2018, terjadi musibah memilukan tenggelamnya KM Sinar Bangun saat hari libur Hari Raya Idul Fitri 1439 H. Peristiwa itu berawal saat kapal kayu berlayar dari Pelabuhan Simanindo di Kab. Samosir menuju Pelabuhan Tigaras Kab. Simalungun, Minggu (17/6) sekira pukul 16.30. Penumpang merupakan wisatawan pengunjung kawasan Danau Toba serta masyarakat yang sehari-hari menggunakan jasa penyeberangan swasta tersebut.

Kapal bertingkat tiga itu tenggelam sekitar pukul 17.15 sampai 17.30 WIB diduga memuat hingga lima kali kapasitas maksimal penumpang dari 43 penumpang orang. Korban selamat menuturkan, kapal berlayar di tengah cuaca buruk dengan hujan deras, angin kencang, serta ombak tinggi.

Diduga akibat hempasan ombak, tali kemudi kapal putus sehingga terombang-ambing setidaknya tiga kali sebelum terbalik ke arah kanan dari berlayarnya kapal. Dari hasil video amatir detik-detik sebelum tenggelam, sekitar lima puluhan penumpang tampak tak mengenakan jaket pelampung berteriak histeris memanjat lambung kapal yang sudah terbalik untuk menyelamatkan diri.

Hari Pertama Pencarian

Tim SAR dari Pos SAR Parapat dibantu KMP Sumut I dan II berhasil menemukan 18 korban KM Sinar Bangun tiga diantaranya meninggal, Senin (18/6). Tim SAR Gabungan dari Basarnas, Lantamal I Belawan, Denjaka, Taifib, Kopaska, Pushidrosal, Yonmarhanlan I, Lanal TBA, Denpom Siantar, Kodim 0207/SML, Polres Simalungun, Brimobdasu, Polairud Sumut, Dit Sabhara, Inafis Poldasu, Paskhas TNI AU, BPBD Karo, Pemkot Binjai, Den Bekang AD, KNKT, Inalum, dan Orari Sumut/Medan Timur (sebagai bantuan komunikasi).

Hari Ke dua

Pusat Operasi yang sebelumnya ditempatkan di Pelabuhan Simanindo dipindahkan ke Pelabuhan Tigaras untuk memudahkan pencarian dan mobilisasi para korban, Selasa (19/6). Nakhoda sekaligus pemilik KM Sinar Bangun, Poltak Soritua Sagala menyerahkan diri ke Polres Samosir didampingi keluarganya.

Hari Ke tiga

Keluarga korban kapal karam KM Sinar Bangun mengaku kecewa dengan kinerja Tim SAR yang sampai hari ke tiga terkesan lamban dan setengah hati melakukan pencarian, Rabu (20/6). Parlindungan Sihotang, 38, yang selama dua hari berturut-turut ikut melakukan pencarian keluarganya, Manan Sitanggang, 25, Lusi Nurbayati Sitanggang, 20, dan Lucki Pratama, 18, menggunakan kapal relawan melihat dengan kepala sendiri bagaimana Tim SAR bekerja.

Malahan ungkap Parlindungan, masyarakat tampak lebih serius mencari meski menggunakan alat dan teknik manual tradisional. Parlindungan menyaksikan masyarakat menjatuhkan alat pengait dan kawat berduri yang telah diikat menggunakan tali sepanjang 500 meter ke danau. Kapal lalu dijalankan untuk menarik pengait tadi mengelilingi seputar TKP berharap ada korban tersangkut dan terangkat ke permukaan.

Hari Ke empat

Tim penyelam dari Batalyon Intai Amfibi Marinir Jakarta tidak mampu menjangkau kedalaman Danau Toba di lokasi tenggelamnya KM Sinar Bangun. Kamis (21/6). Komandan Tim, Lettu Mar Kukuh H Wiratama dikonfirmasi Waspada menjelaskan kemampuan, selam manusia meski dibantu dengan peralatan kedalamannya maksimal 30 meter. Sementara lokasi diduga tenggelamnya KM Sinar Bangun antara 300 sampai 400 meter sehingga tidak dapat dijangkau.

Selain pecahnya gendang telinga, jarak pandang juga sangat terbatas di kedalaman di atas 30 meter paling jauh dua meter. Kukuh mengaku hanya bisa melihat teman di samping sehingga tim kembali ke permukaan selanjutnya melakukan penyisiran.

Tiga awak KM Sinar Bangun yang tenggelam ditemukan dalam kondisi selamat. Kapolres Simalungun AKBP Marudut Liberty Panjaitan dalam konferensi pers di posko informasi, Kamis (21/6) mengatakan, ada penambahan korban selamat dalam tragedi KM Sinar Bangun.

Ketiganya masing-masing Poltak Guri Tua Sagala (Kapten kapal), Japania Aritonang (ABK), Raider Malau (ABK) dan satu ABK atas nama Jaya Sidauruk masih dinyatakan hilang. Dengan adanya penambahan penemuan maka jumlah korban selamat menjadi 21 orang, meninggal tiga orang.

Sementara, hari ke empat itu pula Kapolri Jenderal M Tito Karnavian meninjau ke TKP kapal karam di Tigaras, Kab. Simalungun. Tito mengatakan selain nakhoda kapal, pemilik dan petugas Dinas Perhubungan sangat berpotensi jadi tersangka.

Selain Kapolri, pejabat tinggi lain juga turun seperti Panglima TNI, Jenderal Hadi Tjahjanto, Kepala Basarnas, Marsda M Syauqi, Kapoldasu, Irjen Pol Paulus Waterpau, dan Bupati Simalungun JR Saragih. Pada hari ke empat pencarian sampai pukul 17.00, belum ada ditemukan korban kapal karam KM Sinar Bangun.

Hari Ke lima

Menteri Perhubungan RI Budi Karya mengatakan pihak yang paling bertanggungjawab dalam peristiwa tenggelamnya KM Sinar Bangun adalah perusahaan pelayaran, nakhoda, dan otoritas pelabuhan (Dishub), Jumat (22/6). Selain itu, Menhub memutuskan memberi sumbangan 5.000 jaket keselamatan yang selama ini tidak ada kepada kapal kayu swasta.

Kasubdit Manajemen Data BMKG Wilayah I Medan, Feriomex Hutagalung menjelaskan, pencarian hari ke lima, ketinggian ombak Danau Toba berpotensi antara 0,5 sampai 1,5 meter. Sedangkan malam hari bisa lebih besar setinggi dua meter disebabkan angin kencang dengan kecepatan 5-20 kilometer perjam.

Tim SAR gabungan baru menemukan benda berupa helm sekira pukul 10.10 WIB di koordinat 02.4650,8 N dan 098.17.1 E. Helm tersebut diduga kuat milik salah seorang penumpang yang tenggelam bersama KM Sinar Bangun.

Sampai siang ini juga, helikopter bantuan yang dijanjikan Kepala Basarnas, Marsdya M Syauqi tak kunjung tiba. Yang terlihat hanya sejumlah petugas mensterilkan dermaga untuk pendaratan helikopter (helipad).

Tragedi kapal tenggelam kembali terjadi di Danau Toba, tepatnya di daerah Nainggolan, Kab. Samosir, Jumat (22/6) malam. Kali ini satu kapal motor KM Ramos Risma Marisi tengah berlayar dari Nainggolan, Samosir menuju Pulau Sibandang Taput. Penumpang kapal sebanyak lima orang, dan satu meninggal bernama Rahmat Dani.

Hari Ke enam

Memasuki hari ke-enam pencarian korban kapal tenggelam KM Sinar Bangun, berbagai upaya terus dilakukan. Kali ini dari tokoh adat sekaligus keluarga korban melakukan ritual gondang pangelekan mengelilingi Danau Toba sekitar tempat KM Sinar Bangun tenggelam, Sabtu (23/6).

Tim SAR Gabungan kapal tenggelam KM Sinar Bangun di Perairan Tigaras-Simanindo Danau Toba, belum berhasil menemukan korban ataupun bangkai kapal. Tim hanya menemukan satu drum dan potongan kayu diduga pecahan KM Sinar Bangun yang mengapung di permukaan danau. Barang bukti itu lalu dibawa ke Posko Utama SAR gabungan di Pelabuhan Tigaras.

Sementara, alat paling canggih milik TNI AL, yang dapat menjangkau dua ribu meter air baru tiba menggunakan helikopter Puma milik Basarnas. Alat bernama multibeam and side-scan sonar itu langsung dipasang di KM Saroha untuk selanjutnya dioperasikan.

Helikopter Basarnas juga baru diturunkan untuk mendukung operasi dari udara pada hari ke enam Betya Lukman M. Pj Gubernur Sumatera Utara, Eko Wibowo menegaskan, korban yang meninggal akan diberikan santunan berupa asuransi.

Hari Ke tujuh

Pada hari ke tujuh, tim harus pulang dengan tangan kosong. Petugas belum bisa mengidentifikasi bangkai kapal maupun jenazah para korban, Minggu (24/6).

Hari Ke delapan

Sejumlah media elektronik nasional memberitakan Tim SAR telah menemukan posisi kapal dan para korban. Namun Kakan SAR Medan, Budiawan dalam wawancara dengan Waspada di Posko Utama SAR Gabungan di Dermaga Tigaras membantah Basarnas telah menemukan posisi KM Sinar Bangun, Senin (25/6).

“Yang mengatakan (ditemukan) itu siapa, posko ini tidak pernah menyatakan posisi Sinar Bangun ditemukan, tolong semua pihak jangan bikin masyarakat resah, sedih, banyak hoax-hoax ini saya tidak peduli, posko ini belum menyatakan apapun, tolong berikan pencerahan kepada masyarakat, sampaikan berita yang benar,” kata Budiawan dengan nada dan mimik yang terlihat marah.

Hari Ke delapan ini, Polda Sumut menetapkan empat tersangka dalam tragedi KM Sinar Bangun. Pertama nakhoda, Poltak Soritua Sagala (nakhoda), Anggota Pos Pelabuhan Simanindo, Karnilan Sitanggang (Honor), Kapos Pelabuhan Simanindo, Dishub Pemkab Samosir, Golpa F Putra, dan Kepala Bidang Angkutan Sungai dan Danau Perairan (Kabid ASDP) Rihad Sitanggang.

Hari ke tujuh Tim SAR Gabungan terpaksa menghentikan sementara operasi karena kendala cuaca buruk, Kasubdit Manajemen Data BMKG Wilayah I Medan, Feriomex Hutagalung dikonfirmasi Waspada menjelaskan sejak pukul 14.00, gelombang besar terjadi di Danau Toba dengan ketinggian mulai dari 0,5 sampai 1,5 meter.

Operasi SAR Gabungan kapal karam KM Sinar Bangun ditambah tiga hari menjadi sepuluh hari setelah sepekan pasca tragedi tersebut. Kakan SAR Medan, Budiawan menjelaskan, penambahan waktu itu merupakan keputusan setelah rapat dengan berbagai unsur terkait. Menurutnya, tim SAR akan terus bekerja mengerahkan kemampuan maksimal untuk menemukan bangkai KM Sinar Bangun yang diduga korban terperangkap.

Kepala Divisi Asuransi Kantor Pusat Jasa Raharja, Jakarta, Muhammad Evert Yulianto menyebutkan, korban meninggal dan hilang dalam tragedi KM Sinar Bangun dipastikan memperoleh asuransi sebesar lima puluh juta rupiah per orang dan luka dua puluh juta, Senin (25/6).

Hari Ke sembilan

Hari ini merupakan dua hari terakhir operasi pencarian korban dan KM Sinar Bangun yang tenggelam di Perairan Tigaras, Danau Toba, Selasa (26/6). Di hari ke sembilan ini, Tim SAR Gabungan menurunkan jangkar untuk mengait benda yang terpindai oleh alat multibeam and side-scan sonar di kedalaman 450 meter di bawah permukaan Danau Toba.

Besi pengait berbentuk tiga mata kail ini diikatkan dengan tali rapia ukuran jari telunjuk orang dewasa sepanjang 600 meter. Jangkar ukuran sekitar 1 meter ini cara kerjanya dijatuhkan ke danau menggunakan pemberat batu yang diikat dalam goni. Pengait tersebut lalu ditarik Kapal Feri KMP Sumut I menyapu danau titik lokasi benda yang diperkirakan mirip sebuah kapal,

Tim SAR Gabungan hanya menemukan sepotong papan panjangnya sekitar dua meter saat menarik jangkar di posisi terdapat objek yang dipindai oleh multibeam and side-scan sonar, Selasa (26/6).

Hari ke sepuluh

Hari ke sepuluh bertepatan dengan pencoblosan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Utara, Rabu (27/6). Tempat pemungutan suara (TPS) khusus untuk para keluarga korban, petugas SAR, dan relawan yang dijanjikan Bupati Simalungun ternyata tidak ada.

Akibatnya, ratusan petugas dan keluarga korban tidak tersalurkan haknya dalam Pilgubsu 2018 ini. Mereka kecewa karena tidak bisa memilih calon yang diidolakannya untuk memimpin Sumatera Utara lima tahun ke depan.

Sementara petugas Basarnas, Irfanta Sembiring juga kecewa karena hak suara mereka tidak bisa diakomodir. Menurutnya, pemerintah, KPU, Bawaslu, seharusnya dapat membantu mencari solusi terkait persoalan yang mereka hadapi.

Operasi SAR Gabungan KM Sinar Bangun di hari terakhir ini berlangsung hingga malam pada hari ke-sepuluh pencarian, Rabu (27/3) pukul 21.00. Pantauan Waspada, feri penyeberangan KMP Sumut I sebagai kapal utama untuk menarik pukat harimau berlayar sejak siang.

Hari Ke sebelas

Direktur Operasi Basarnas Brigjend TNI Marinir Bambang Suryo kembali memperpanjang Operasi SAR Gabungan KM Sinar Bangun selama tiga hari ke depan, Kamis (28/6). Hal itu dibutuhkan karena upaya pencarian di hari ke sepuluh (setelah penambahan tiga hari) belum selesai. Pukat harimau yang ditebar ke danau katanya tersangkut sesuatu dan diharapkan benda itu dapat mengungkap tragedi KM Sinar Bangun.

Benda diduga mirip manusia dan sepeda motor tertangkap kamera remotely opareted underwater vehicle (ROV) di dasar Danau Toba titik diduga korban KM Sinar Bangun tenggelam dan hanyut, Sepeda motor Kawasaki Ninja kuning BK 3685 OK tertangkap kamera ROV di kedalaman sekitar 455 meter.

Dalam video rekaman bawah air yang diterima Waspada, tampak sejumlah sepeda motor bermacam jenis dan merek berada di dasar Danau Toba. Salah satu yang terlihat jelas nomor polisinya yakni Ninja BK 3685 OK diduga kuat milik penumpang kapal karam KM Sinar Bangun.

Hari Ke duabelas

Diperkirakan sebanyak delapan jenazah dan bangkai KM Sinar Bangun tampak dalam kamera alat ROV. Jasad manusia ditemukan di jarak 455 meter dasar danau, sedangkan kapal di kedalaman 420 meter.

“Hari ini kita melanjutkan yang kemarin sudah kita temukan ada jenazah, kemudian ada barang-barang korban ada helm, sepeda motor, ada kursi-kursinya kapal. Sudah kita lihat dengan jelas dan saya sudah melihat dengan mata kepala saya sendiri dalam monitor itu,” tegas Deputi Bidang Operasi dan Kesiapsiagaan Basarnas, Brigjen TNI Nugroho Budi W.

Di layar kamera ROV sekitar 8 jenazah di titik 455 meter perairan Danau Toba, namun jasad para korban tidak mengambang dikarenakan air sangat dingin sehingga diduga membuat jasad tidak mengalami proses pembusukan. “Kondisi dasar danau suhunya sangat dingin sekali, sehingga pembusukannya memakan waktu lama,” katanya.

Berbeda dengan Basarnas, Wakil Ketua Komite Keselamatan Transportasi (KNKT), Haryo Satmiko menyebutkan empat puluh jenazah manusia diduga korban KM Sinar Bangun teridentifikasi kamera ROV. Haryo menjelaskan puluhan jenazah itu terlihat posisinya berada di luar kapal KM Sinar Bangun.

Dari empat puluh jenazah, belum satupun bisa diangkat karena peralatan saat ini tak mampu menjangkau kedalaman danau yang mencapai 450 meter. Selain itu, ROV yang menjadi juru kunci dan andalan Tim SAR tersangkut dasar danau dan belum bisa diangkat.

Tim SAR Gabungan Operasi KM Sinar Bangun Danau Toba meminta bantuan ke negara tetangga, Singapura karena peralatan ada saat ini tidak mampu mengevakuasi korban yang ada di dasar, Jumat (29/6).

Hal itu diungkapkan Wakil Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Haryo Satmiko dalam wawancara di Posko Gabungan Basarnas. Haryo mengungkapkan alat yang dipinjam tersebut merupakan robot berkemampuan mengangkat jenazah sampai ke permukaan danau tanpa merusaknya.

Namun kata Haryo, robot tersebut tidak bisa beroperasi sendiri melainkam harus dibantu dua alat remotely operated underwater vehicle (ROV) di sisi kiri kanannya. Kedua ROV tersebut juga ungkapnya dipinjam dari Kementerian Kelautan dan Perikananan.

Hari Ke tigabelas

KM Sinar Bangun sampai hari ke-13 Operasi SAR Gabungan belum bisa dilihat secara utuh oleh ROV di dasar Danau Toba karena tertutup lumpur, Sabtu (30/6). Diduga, lumpur di kedalaman 420 meter sangat tebal sehingga kapal sebesar itu dapat tertutup.

“Tidak ada tanaman hidup di kedalaman itu, semuanya mirip debu yang menutupi kapal,” ungkap Suryo.

Saat ini katanya, Tim SAR Gabungan fokus mencari kerangka kapal karena di dalamnya diduga masih banyak korban terperangkap. Sementara untuk evakuasi jenazah yang sudah teridentifikasi terkendala pada kedalaman danau yang tak bisa dijangkau manusia.

Sementara, cuaca buruk menghambat operasi penarikan pukat harimau dalam Operasi SAR KM Sinar Bangun di Danau Toba, Sabtu (30/6) sekira pukul 17.00. Ombak setinggi dua meter terus menghantam KMP Sumut I dan II di tengah upaya pencarian dan pengangkatan KM Sinar Bangun.

Hari Ke empatbelas

Robot milik Singapura yang dijanjikan KNKT membantu mengevakuasi jenazah korban KM Sinar Bangun dari dasar Danau Toba sampai hari ini Minggu (1/7) tak kunjung tiba. Akibat keluarga korban merasa KNKT hanya pemberi harapan palsu (PHP). Masyarakat menduga KNKT tidak bisa menepati janjinya kepada keluarga korban yang saat ini tengah berduka. “Saya menilai ini hanya angin sorga, tidak ada realisasi, buktinya saya tiap hari di sini, tapi tak nampak robot itu,” ujar Parlindungan Sihotang, 38, keluarga korban.

Pada hari ke empatbelas ini pula, di tengah kegembiraan atas perkembangan pencarian dengan ditemukannya jasad para korban, hal mengejutkan terjadi. Masyarakat yang memiliki harapan besar agar jenazah keluarga mereka diangkat dari dasar danau terpaksa harus menelan pil pahit.

Pasalnya, operasi dihentikan karena terkendala peralatan yang tidak dapat mengangkat para korban dari kedalaman 455 meter. Padahal keberhasilan tim SAR dinilai sudah mencapai 50 persen, karena korban sudah ditemukan, tinggal pengangkatannya.

Keputusan penghentian operasi diambil dalam rapat antara keluarga korban, Basarnas, KNKT, TNI/Polri, Jasa Raharja, yang difasilitasi Bupati Simalungun, JR Saragih di Kantor Bupati Simalungun di Pematang Raya.

Di antara masyarakat yang kecewa itu adalah nama Ratna Sarumpaet, tokoh nasional sekaligus aktivis kemanusiaan. Dia tidak bisa menerima keputusan menghentikan Operasi SAR KM Sinar Bangun karena masih ada cara lainnya yang bisa diupayakan.

Seharusnya kata Ratna, pemerintah tetap berupaya mengevakuasi korban karena jasadnya sudah ditemukan. “Harusnya diangkat, kenapa diberhentikan, sayang kan, udah ketemu tapi tak diangkat,” ujar Ratna Senin (2/7) usai terlibat cekcok adu mulut dengan Menteri Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan.

Menurutnya, KM Sinar Bangun adalah masalah kemanusiaan, ada 164 jasad yang ada di dasar Danau Toba. Sudah dimonitor, sudah tau titiknya, jadi katanya tidak ada alasan dihentikan. Pemerintah katanya harus mengerti perasaan orang yang kehilangan anggota keluarga, bukan sekedar diganti dengan uang dan monumen.

Ratna Sarumpaet juga sempat terlibat adu mulut dengan Menko Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan yang saat itu memberikan penjelasan kepada keluarga korban terkait penghentian operasi tersebut.

Hari Ke enambelas

Keluarga korban dari berbagai daerah mulai berdatangan, puluhan, ratusan, bahkan ribuan jumlahnya. Tujuan mereka satu, doa bersama dirangkai tabur bunga dan peletakan batu pertama monumen peringatan tragedi memilukan tenggelamnya kapal kayu yang merenggut tiga nyawa dan 164 lainnya masih hilang.

Khusus keluarga korban beragama Kristiani, doa bersama dipusatkan tepat di Dermaga Feri Tigaras dipimpin pemuka agama Kristen. Sedangkan umat Islam di bagian luar dermaga di satu lokasi dibangunnya monumen KM Sinar Bangun.

Keluarga korban beragama Islam dipimpin Tuan Guru Syekh Dr Ahmad Sabban Rajagukguk MA diawali dengan shalawat dilanjutkan shalat ghoib untuk korban. Tangis pilu mengiringi doa para keluarga korban yang sangat sedih atas kehilangan saudara mereka.

24 Korban Tidak Punya Ahli Waris

Sebulan lebih lamanya, 164 korban kapal karam KM Sinar Bangun masih terperangkap di dasar Danau Toba, perairan Tigaras, Kab Simalungun. Keluarga para korban sebagian sudah menerima dana santunan dari PT Jasa Raharja sebesar Rp 50 juta rupiah. Namun ada sebanyak 24 orang tidak dapat menerima uang tersebut karena tidak ada ahli warisnya.

Humas Jasa Raharja (Persero) Cabang Sumatera Utara, Pahala Sitorus, Kamis (2/8) menjelaskan, dalam UU No. 33 tahun 1964 junto PP No.17 tahun 1965 tentang Dana Kecelakaan Penumpang diatur mengenai ahli waris bagi para korban. Ketentuannya, suami atau istri dari korban yang sah, jika tidak ada jatuh pada anak-anak yang sah.

Atau kepada orang tua korban jika poin satu dan dua tidak ada. Dan dinyatakan tidak ada ahli waris, jika ke tiga poin tidak ada.

Trauma

Tragedi tenggelamnya KM Sinar Bangun dua bulan lalu yang merenggut ratusan nyawa masih menyisakan trauma mendalam bagi masyarakat. Akibatnya terjadi penurunan drastis jumlah penumpang yang hendak menyeberang melalui Pelabuhan Tigaras-Simanindo ataupun sebaliknya, Senin (20/8). Rasudin Sihotang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here