Aswin Parinduri Anak Kampung Menuju Senayan

1

SEJAK umur 4 tahun, Aswin Parinduri (foto) dan 3 saudara lainnya sudah ditinggal pergi ayahnya yang terlebih dahulu dipanggil Allah SWT. Maka sejak itu, kehidupan keluarga mereka berubah drastis. Di usia yang masih sangat kecil, Aswin terpaksa harus ikut bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Menurut Aswin, semasa ayahnya masih hidup, ayahnya tipe orang pekerja keras yang tidak mengizinkan emak dan anak-anaknya untuk ikut bekerja. “Dulu waktu ayah masih hidup, emak, abang, dan kakak tidak dibolehkan untuk bekerja walau hanya sekadar membantu di ladang. Emak hanya dibebankan tugas mengurus rumah, sementara abang dan kakak disuruh fokus untuk belajar dan sekolah,” kata Aswin mengenang kehidupan masa kecilnya.

Namun begitu ayahnya meninggal, Aswin dan 3 saudara kandung lainnya harus mulai membiasakan diri bekerja meneruskan apa yang dikerjakan ayahnya semasa hidupnya sebagai penyadap karet dan bersawah.

Hampir tiap pagi, sebelum berangkat sekolah, Aswin harus terlebih kerja menyadap karet. “Pagi-pagi buta sudah harus menyadap, lalu pergi kesekolah dan siang hari sepulangnya dari sekolah lanjut lagi menyadap dan pulang saat mahgrib hampir tiba,” tuturnya.

Kata dia, dulu apapun dikerjakan untuk sekolah. Mulai dari kerja sebagai kuli mengayak emas di Batang Gadis, mencari batu dan pemecah batu untuk dijual, sampai menjadi pekerja upahan di sawah. Menurut Aswin, semua itu harus mereka lakukan demi melanjutkan perjuangan almarhum ayah mereka yang berkeinginan agar seluruh anaknya lanjut bersekolah.

Dengan semangat dan kerja kerasnya, Aswin berhasil menamatkan sekolahnya hingga selesai SMA dengan biaya sendiri. Lulus di SD Negeri Desa Tamiang, SMP Negeri 1 Tamiang, SMA Negeri 1 Tamiang Kotanopan Mandailing Natal, membuat Aswin tidak cukup puas jika hanya sampai lulus ditingkat SMA. Usai tamat SMA di tahun 1987, dirinya pun mencoba untuk mendaftar kuliah ke Institut Pertanian Bogor (IPB).

Aswinpun dinyatakan lulus dan diterima kuliah di IPB untuk jurusan Pertanian. Baginya, kenangan kelulusan itu merupakan hal yang sangat manis, sekaligus kenangan yang paling terpahit dalam hidupnya. Kelulusan itu testing masuk IPB hanya jadi kenangan baginya, sebab dirinya batal menjadi mahasiswa IPB hanya karena tidak ada ongkos untuk berangkat ke IPB.

“Dulu dari Mandailing Natal ada 2 orang yang lulus. Teman saya yang satu itu jadi berangkat ke IPB dan sekarang sudah jadi dosen, sementara saya batal berangkat karena tidak ada ongkos,” sebut Aswin.

Aswin mengaku, dulu saat itu ongkos bus ke IPB kurang lebih hanya Rp80 ribu. Tapi apa boleh buat, dulu memang kehidupan keluarga sangat susah dan untuk bisa menamatkan SMA saja sudah syukur alhamdulillah rasanya.

Bekal organisasi semasa SMP dan SMA ternyata membawa Aswin terjun ke dunia politik. Tahun 1987 seusai tamat SMA dan gagal kuliah ke IPB, dirinya diangkat menjadi Komisaris Desa (Komdes) Golkar di Desa Tamiang. Dari sinilah titik awal Aswin berpolitik hingga kini mencalonkan diri sebagai Calon Anggota DPR RI dari Partai Golkar Daerah Pemilihan Sumut 2, Nomor Urut 10.

Aswin menuturkan, dirinya di Golkar ini sudah sejak lama dan dimulai dari tingkat yang paling bawah. Ditahun 1987 tamat sekolah langsung jadi Komdes Golkar di Desa Tamiang, 1992 jadi Wakil Ketua Bidang Kepemudaan di Komisaris Kecamatan (Komcat) sekaligus jadi Ketua Ranting Pemuda Pancasila (PP) Desa Tamiang. Di tahun 1997 Aswin diangkat jadi Komcat Kotanopan.

Tahun 1999 mekarlah Kabupaten Tapanuli Selatan jadi beberapa kabupaten dan di antaranya Mandailing Natal jadi kabupaten pecahan Tapanuli Selatan. Sejak pemekaran itulah Aswin lalu diangkat jadi Wakil Ketua DPD Golkar Mandailing Natal mulai dari tahun 1999 sampai 2005. Di tahun  2007 sampai 2010, Aswin diangkat jadi Bendahara Golkar Mandailing Natal, lalu di tahun 2010 sampai 2016 jadi pengurus Golkar Sumut jadi Wakil Bendahara Golkar.

Tahun 2016 kemarin, Aswin secara aklamasi terpilih menjadi Ketua DPD Golkar Mandailing Natal dan juga sampai sekarang jadi Wakil Sekretaris Bidang Pemilu untuk Wilayah Sumut 7 yang meliputi Tapanuli Bagian Selatan.

Menurutnya, bekal pengalaman organisasi tersebut akan digunakannya sebagai corong untuk menyalurkan aspirasi masyarakat di daerah. Niat maju ke DPR RI sebenarnya lebih didasari dari sebuah kegelisahan dalam diri melihat kondisi daerah yang jauh tertinggal dari segi apapun.

Sebagai putra asli Mandailing Natal, dirinya kadang merasa heran mengapa tidak ada satupun putra daerah Mandailing Natal yang mau berjuang duduk di DPR RI untuk menjemput berbagai program pembangunan agar terealisasi hingga ke daerah.

Aswin mengatakan, untuk yang maju ke DPR RI dari Dapil Sumut II, hanya dirinya lah yang merupakan putra asli Mandailing Natal. Katanya, keadaan ini tentu membuat tekad dirinya semakin kuat untuk membangun wilayah Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel) khususnya di Kabupaten Mandailing Natal. Dirinya tidak ingin wilayah Tapanuli Bagian Selatan ini tertinggal jauh dibanding daerah lainnya.

“Potensi kekayaan alam Tabagsel sangat luar biasa, hanya saja pemanfaatannya kurang maksimal. Sementara untuk para petani, ada banyak penawaran program untuk hasil pertanian, sehingga saat sawit dan karet harganya turun, petani tidak harus menjerit dan tergantung dengan harga,” kata Aswin.

Menurutnya, kesemuanya itu ada di pemerintah pusat di Jakarta. Oleh sebab itu, harus ada yang berani mendobrak dan menyuarakan apa yang jadi keluhan masyarakat Tabagsel. Sebagai orang yang terlahir dari keluarga petani kurang mampu, Aswin mengerti apa yang dibutuhkan petani dan masyarakat kecil. Oleh sebab itu, dirinya bertekad membangun daerah Tabagsel melalui kursi DPR RI dari Golkar.

“Nawaitu nya untuk membangun daerah, makanya saya beranikan untuk maju langsung ke DPR RI. Karena kuncinya pasti ada di pemerintah pusat, akan pembangunan di Tabagsel bisa terealisasi dengan baik,” tutut Aswin Parinduri.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here