Perdagangan Dengan China Merugi

1

MEDAN (Waspada) : Neraca perdagangan luar negeri antara Sumut dengan Tiongkok (China) terus merugi atau defisit. Selama periode Januari – November 2018, defisit neraca perdagangan Sumut – China sebesar 572,476 juta dolar AS.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Utara, nilai impor dari Tiongkok ke Sumut selama periode Januari – November 2018 sebesar 1.538,745 juta dolar AS, sedangkan nilai ekspor Sumut ke Tiongkok pada periode yang sama hanya sebesar 966,269 juta dolar AS.

“Nilai ekspor Sumut ke Tiongkok pada periode Januari – November 2018 sebesar 966,269 juta dolar AS, sedangkan nilai impor dari Tiongkok ke Sumut pada periode yang sama sebesar 1.538,745 juta dolar AS. Sehingga neraca perdagangan Sumut – Tiongkok mengalami defisit sebesar 572,476 juta dolar AS,” kata Kepala BPS Sumut Syech Suhaimi, Rabu (9/1).

Selain itu, nilai impor dari Tiongkok ke Sumut periode Januari – November 2018 yang mencapai 1.538,745 juta dolar AS itu, mengalami peningkatan sebesar 468,803 juta dolar AS atau sekitar 43,82% dibandingkan periode Januari – November 2017 yang mencapai 1.069,942 juta dolar AS.

Sedangkan nilai ekspor Sumut ke Tiongkok pada periode Januari – November 2018 yang mencapai 966,269 juta dolar AS atau mengalami penurunan sebesar 83,122 juta dolar AS (-7,92%), dibandingkan dengan periode yang sama pada 2017 yang mencapai 1.049,390 juta dolar AS.

Beberapa golongan barang utama yang diimpor dari Tiongkok ke Sumut selama Januari – November 2018 antara lain bawang putih dengan nilai 49,751 juta dolar AS, bahan kimia 32,703 juta dolar AS, peralatan listrik 31,126 juta dolar AS, besi dan baja 28,482 juta dolar AS, genset 26,808 juta dolar AS, buah pir 18,259 juta dolar AS.

Keramik 17,770 juta dolar AS, ban mobil 17,577 juta dolar AS, sparepart sepedamotor 17,345 juta dolar AS, karbon 17,239 juta dolar AS, Lampu LED 17,093 juta dolar AS, Amonium Sulfat 17 juta dolar AS, Lampu Neon 16,644 juta dolar AS, Apel 16,194 juta dolar AS, Kain tali ban dari benang nilon 15,453 jutadolar AS, dan lainnya.

Sedangkan golongan barang utama yang diekspor dari Sumut ke Tiongkok selama Januari – November 2018 antara lain CPO dengan nilai 202,146 juta dolar AS, Kayu kimia 90,670 juta dolar AS, Minyak Nabati 67,494 juta dolar AS, Lemak hewani 64,607 juta dolar AS.

Karet 61,888 juta dolar AS, Gliserin 46,690 juta dolar AS, Sarang burung 39,783 juta dolar AS, Alkohol lemakindustri 39,318 juta dolar AS, dan berbagai produkolahan dari minyak kelapa sawit lainnya.

Sementara itu, pengamat ekonomi dari FEB Universitas Sumatera Utara (USU) Wahyu Ario Pratomo mengatakan, China memang menguasai perdagangan dengan negara-negara lain, termasuk Indonesia. “China melakukan ekspansi ekspor kenegara-negara lain semenjak berjalannya perang dagang. Indonesia salah satu tujuannya,” ujarnya.

Wahyu menyebutkan, rendahnya ekspor kita ke China, dikarenakan ekspor dari Indonesia, termasuk Sumut masih berbentuk komoditi atau barang mentah, dimana permintaan di China sedang tidak begitu baik.

“Hal ini ditandai dengan rendahnya harga komoditi. Sehingga ekspor menurun sementara impor meningkat. Impor dari China meningkat karena harga barang dari China memang sangat kompetitif,” jelasnya. (m41/K)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here