Protes Kenaikan Uang SPP Wali Santri Datangi Disdikbud

2
SUASANA rapat para wali santri bersama Disdikbud dan penanggungjawab Yayasan Sulthan Saifullah, di aula Disdikbud Kota Langsa, Kamis (10/1). Waspada/dede
SUASANA rapat para wali santri bersama Disdikbud dan penanggungjawab Yayasan Sulthan Saifullah, di aula Disdikbud Kota Langsa, Kamis (10/1). Waspada/dede

LANGSA (Waspada): Puluhan wali santri yang menyekolahkan anaknya di Yayasan Pondok Pesantren Tahfidzul Quran Wahyu Rizki di Gampong Matang Seulimeng, Kec. Langsa Barat memprotes kenaikan tarif SPP hingga mencapai 50 persen.

Puluhan wali santri mendatangi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Langsa diterima Kabid Pembinaan Sekolah Dasar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Langsa, Dra Suhartini MPd di aula setempat, Kamis (10/1).

Koordinator wali santri, Andriani Ishak menyatakan kedatangan wali santri ke Disdikbud untuk menyampaikan keluhan bahwa ponpes menaikkan SPP secara sepihak hingga mencapai 50 persen. Sementara pihak yayasan hingga saat ini belum memenuhi janjinya seperti fasilitas Ac, sarana air bersih, baju seragam dan bangku belajar di mana semuanya belum teralisasi. “Hingga saat ini anak-anak masih belajar sambil nungging karena tidak adanya meubiler untuk belajar,” tegas Andriani.

Wali santri lainnya juga mengeluhkan seperti guru pengajar yang banyak keluar, kepala SMP keluar, pimpinan dayah keluar tanpa ada alasan. “Meubiler dan pakaian sekolah belum diberikan, Ac yang kurang memadai dan wc juga banyak tersumbat, sedangkan kenaikan iuran bulanan dari Rp500.000 menjadi Rp700.000,” ungkapnya.

Sementara penanggungjawab yayasan yang kini berubah nama menjadi Yayasan Sulthan Saifullah, Zulkifli Budiman menjelaskan, sebelumnya di yayasan ini banyak hal yang kurang baik dan timbul masalah. “Sebelum dipegang Yayasan Saiful Hasbalah banyak timbul masalah terutama izin yang tak lengkap dan lainnya,” terang Zulkifli.

Dijelaskan Zulkifli, bukan SPP yang dinaikkan tapi uang makan. Hanya Rp3.600 perhari sedangkan nasi perang saja lebih di luaran. “Kita naikkan uang makan supaya kesempurnaan makan bagi anak-anak,” jelasnya.

Sejauh ini pihak yayasan setiap bulan harus mensubsidi Rp60 juta. Ini yang menjadi beban yayasan dan bila tidak setuju kenaikan maka keluarkan saja anak-anak ke sekolah lainnya. “Bawa keluar saja dan pindahkan anak di sekolah lain,” ujar Zulkifli.

Mendapat penyataan tersebut maka suasana rapat yang dimediasi Disdikbud menjadi gaduh, serta sorak sorai oleh para wali santri.

Salah seorang wali santri, Nasruddin mengatakan, pihak yayasan juga harus arif dan bijaksana menanggapi keluhan wali santi bukan serta merta menyuruh keluar anak-anak ke sekolah lain.

Sedangkan Kabid Pembinaan Sekolah Dasar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Langsa, Dra Suhartini MPd, dalam penjelasannya menyarankan pihak yayasan agar mengkaji ulang kebijakan melalui proses musyawarah. “Kami dari dinas meminta pihak yayasan mengkaji ulang dengan memusyawarahkannya kepada para wali santri dan tetap mempertahankan menyekolahkan anaknya di yayasan. Karena membangun yayasan tidak mudah apalagi demi masa depan generasi anak Islami,” jelasnya.¬†(m43)

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here