Trump Minta Rp 80 Triliun Bangun Tembok

1
Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat menyampaikan pidatonya terkait dana pembangungan tembok perbatasan melalui siaran televisi, Selasa (8/1) malam waktu setempat. CNN
Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat menyampaikan pidatonya terkait dana pembangungan tembok perbatasan melalui siaran televisi, Selasa (8/1) malam waktu setempat. CNN

WASHINGTON, AS (Waspada): Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyebut krisis imigrasi ilegal telah melukai jutaan rakyat. Karena itu, dalam pidatonya melalui siaran televisi, Selasa (8/1) malam waktu setempat, dia bersikeras meminta sejumlah dana untuk membangun tembok baja di perbatasan AS dan Meksiko.

Trump meminta dana US$5,7 miliar (sekitar Rp 80,4 triliun), untuk membangun tembok perbatasan. Dalam pidato yang berlangsung selama delapan menit itu Trump menyalahkan oposisi Partai Demokrat atas kondisi itu. Sebab, karena penolakan Demokrat atas permintaan dana, saat ini AS memasuki masa penutupan layanan pemerintahan (shutdown).

“Situasi di perbatasan saat ini adalah krisis kemanusiaan. Sebuah krisis hati. Sebuah krisis jiwa,” tutur presiden 72 tahun itu. “Setiap hari, petugas bea cukai dan perbatasan berusaha menangkal ribuan migran ilegal yang berusaha memasuki negara kami,” tambahnya.

Trump mengatakan, Demokrat pernah menyetujui adanya pemisah fisik perbatasan melalui Senator Chuck Schumer, Barack Obama, Hillary Clinton, dan Joe Biden. Pada 2006, mereka memberikan dukungan untuk pembangunan tembok perbatasan sepanjang 1.120 km melalui Undang-undang Pagar Keamanan. “Pemisah ini merupakan faktor kritis bagi keamanan perbatasan. Inilah yang diinginkan oleh para profesional kami,” tegasnya.

Ucapan Trump mendapat tanggapan dari ketua baru House of Representatives (DPR) dari Demokrat, Nancy Pelosi, yang menuduh Trump telah menyandera rakyat AS. “Obsesi presiden adalah memaksa rakyat membayar pajak demi membiayai tembok yang mahal serta tidak efektif,” kritik Pelosi.

Sementara Schumer yang kini menjadi pemimpin minoritas Senat AS menyebut Trump telah menebarkan ketakutan alih-alih fakta yang kuat. “Tidak ada Presiden AS yang boleh duduk di meja dan memaksa apa yang ingin dia lakukan, atau mengancam akan memberlakukan shutdown,” keluh Schumer.

Akibat shutdown yang kini sudah memasuki hari ke-19 itu, sekitar 800.000 pegawai negeri dirumahkan atau mengalami furlough (bekerja tanpa digaji). BBC melaporkan, jumlah migran ilegal yang memasuki AS mengalami penurunan jumlah dari 1,6 juta pada 2000 menjadi 400.000 tahun lalu. Penelitian mengindikasikan sangat sedikit migran ilegal yang melakukan tindak kejahatan dibanding warga AS asli. (afp/bbc/And)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here