Sebut Masjid-Mushalla Radikal Oknum Ketua Ansor Disidang

1
SUASANA proses klarifikasi Salman Alhariz Saragih terkait komentar yang menyebut masjid dan mushalla terpapar paham radikalisme. Waspada/Ist
SUASANA proses klarifikasi Salman Alhariz Saragih terkait komentar yang menyebut masjid dan mushalla terpapar paham radikalisme. Waspada/Ist

TANJUNGBALAI (Waspada): Oknum Ketua Ansor menyebut ada sejumlah mushalla dan masjid berpaham radikal di Kota Tanjungbalai dalam kolom komentar di akun Ketua Dewan Masjid Indonesia Kota Tanjungbalai, Datmi Irwan.

Akibatnya, oknum Ketua Ansor Tanjungbalai, Salman Alhariz Saragih, 32, disidang di Masjid Raya Sultan Ahmadsyah Kota Tanjungabalai untuk mengklarifikasi komentar di Facebook tersebut, Minggu (13/1) malam. Turut hadir, Ketua MUI Tanjungbalai, Ust Syahron Sirait, Ketua GPII, Indra BMT, Ketua Kami Tauhid, Ade Willy, Ketua Dewan Masjid Indonesia Kota Tanjungbalai, Datmi Irwan, dan sejumlah aktivis, ustadz, pemuda, dan masyarakat Kota Tanjungbalai.

Berikut redaksi bahasa Salman Alhariz Saragih dalam komentarnya. “Masak Ketua Dewan Masjid banyak mengkritik presidennya sendiri, lebih bagus bapak awasi masjid dan mushalla di Tanjungbalai yang berbau radikalisme, karena sejak Bapak menjabat sebagai Ketua Dewan Masjid, belum ada gebrakan Bapak,” tulis Salman.

Postingan kontroversi tersebut kemudian menuai beberapa komentar netizen hingga melebar ke dunia nyata. Sejumlah Ormas Islam dan pemuda kemudian mencari keberadaan Salman hingga akhirnya terjadi sidang di Masjid Raya untuk meminta keterangan Salman.

Salman dalam kesempatan itu dicecar sejumlah pertanyaan atas postingannya di kolom komentar, diduga bermuatan ujaran kebencian menyudutkan Islam. Salman lalu berkilah bahwa dirinya tidak bermaksud menyudutkan pihak manapun, dia mengaku hanya meminta agar DMI mengawasi masjid.

Salman juga mengaku bahwa adanya masjid dan mushalla berpaham radikal diperoleh dari penelitiannya selama setahun. Namun belakangan dalam sidang tersebut Salman menyadari bahwa hasil penelitiannya ternyata salah besar.

“Saya Salman Alhariz Saragih meminta maaf kepada umat Islam Kota Tanjungbalai karena komentar saya di FB Pak Datmi Irwan menyebut mushalla dan masjid berpaham radikalisme, saya katakan bahwa itu sebenarnya tidak ada,” kata Salman.

Selain meminta maaf secara lisan, Salman juga diminta membuat spanduk dan disebar di setiap sudut Kota Tanjungbalai.

Ketua Gerakan Islam Indonesia (GPII) Kota Tanjungbalai, Indra BMT mengatakan, komentar Salman sangat menyakiti Umat Islam. Salman diduga tengah menyebarkan informasi menyesatkan dan bohong sehingga membuat keresahan.

“Sebenarnya kita berharap agar diproses sesuai ketentuan berlaku, tetapi karena sudah bertabayyun, maka bisa dimaafkan,” ujar Indra.

Sementara, Ketua Koalisi Umat Islam Tanjungbalai Hidup Untuk Jihad (KAMI TAUHID), Herman Ramadhana alias Ade Willy menerangkan kejadian ini merupakan sudah ke berapa kalinya dari postingan Salman. Salman juga pernah meminta maaf secara langsung ke Ade Willy juga terkait dengan postingan terhadap parade bendera aksi bela tauhid.

“Sebenarnya kita ingin melaporkan si Salman ini tadi malam, tapi sesuai kesepakatan hersama, maka pelaku hanya membuat pernyataan maaf dibuat di kertas materai.

Dalam kesempatan itu Ade Willy meminta dengan tegas kepada Salman agar tidak mengulangi perbuatan membuat postingan ujaran kebencian dan hoax, dan postingan lainnya yang menyudutkan Umat Islam. (a32)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here