Batak Dan Melayu Identitas Yang Dibuat Kolonial, Nenek Moyang Orang Karo Lebih Tua Dari Si Raja Batak

2
KETUA Prodi S2 Ilmu Sejarah USU dan Ketua MSI Sumut Dr. Suprayitno saat memberi pemaparan soal Karo pada seminar Identias Karo Dalam Presfektif Kebhibekaan. Waspada/Ronggur Simorangkir
KETUA Prodi S2 Ilmu Sejarah USU dan Ketua MSI Sumut Dr. Suprayitno saat memberi pemaparan soal Karo pada seminar Identias Karo Dalam Presfektif Kebhibekaan. Waspada/Ronggur Simorangkir

MEDAN (Waspada): Perbandingan data antara temuan arkeologi di Penen Kab. Karo dengan di Sianjir Mula Mula Kab. Samosir, menyimpulkan bahwa usia nenek moyang karo jauh lebih tua ketimbang si Raja Batak yang ada di Sianjur Mula Mula. Melayu dan Batak hanya sebutan yang diciptakan kolonial untuk memudahkan ekspansi penjajahan ke Sumatera.

Hal itu terungkap dalam seminar Identitas Karo Dalam Presfektif Kebhinekaan yang digelar Prodi S2 Ilmu Sejarah Universitas Sumatera Utara (USU), Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Sumut dan Runggu Masyarakat Karo, di Razz Plaza Hotel, Selasa (22/1). Kepala Balai Arkeologi (Balar) Medan, Dr. Ketut Wiradnyana M.Si, dalam pemaparannya sebagai pemateri menjelaskan bahwa berdasarkan penelitian arkeologi yang dilakukan di Penen, menyebutkan bahwa nenek moyang orang Karo usianya jauh lebih tua ketimbang Raja Batak yang ada di Sianjur Mula Mula.

Menurut Ketut, usia temuan arkeologi di Penen tersebut dinilai berasal dari dua ribu tahun yang lalu. Katanya, hal yang sama sebenarnya juga di temukan pada ekskavapasi yang menemukan kerangka manusia berusia yang sama seperti apa yang di Penen.

Ketut mengatakan, temuan di Penen dan Gayo tersebut membantahkan soal cerita rakyat tentang asal muasal nenek moyang orang Batak Batak yang berasal dari Gunung Pusuk Buhit di Sianjur Mula Mula sejak puluhan ribu tahun yang lalu. Katanya, berdasarkan data, temuan di Sianjur Mula Mula itu usianya baru hanya sekita 600 tahun yang lalu, berarti jauh lebih muda ketimbang apa yang ditemukan di Penen.

Ketut mengatakan, di Sisianjur Mula mula sendiri saat dilakukan ekskavasi yang ditemukan hanya artefak seperti peralatan dapur, dan setelah digali lagi hanya menemukan tanah bekas sawah yang usianya kurang lebih 600 tahun yang lalu, dan tidak ditemukan kerangka manusia di dalamnya. “Jadi jika kita merujuk data, maka nenek moyang orang Karo usianya jauh lebih tua, ketimbang si Raja Batak yang ada di Sianjur Mula Mula jika merujuk pada cerita masyarakat Batak,” tandasnya.

Sementara itu, Antropolog dari Universitas Negeri Medan, Dr. Erond L Damanik M.Si, yang juga pembicara dalam seminar mengatakan bahwa suku Karo, Simalungun, Mandailing, Pakpak, bukanlah bagian dari Batak Toba. Menurut Erond, masing masing suku tersebut berdiri sendiri tanpa dibawahi oleh suku tertentu.

Erond mengatakan, Batak itu sebenarnya hanya sebuah penyebutan yang sengaja diciptakan oleh kolonial untuk melabelkan kelompok masyarakat lokal antara mereka yang sudah beragama Islam dan masih memeluk kepercayaan lokal.

“Jadi istilah Melayu itu dibuat kolonial untuk memisahkan dua kelompok dan strategi memuluskan ekspansi ke Sumut,” tandasnya.

Erond menjelaskan, keberadaan Batak itu sebenarnya tidak jelas dimana posisi populasinya, sebab berdasarkan buku buku yang beredar pada masa kolonial, orang Batak itu disebutkan ada di Aceh, di Lampung dan di Riau. Jadi tidak jelas, siapa Batak ini sebenarnya.

Katanya, begitu juga dengan Melayu, tidak jelas siapa itu yang disebut Melayu. Jika memang itu benar adanya, maka apa hubungannya antara Melayu yang ada di Deli, Melayu di Aceh, Melayu yang di Riau dan Melayu yang ada si Sulawesi?. “Jadi kalau Karo itu dibilang Batak, ya tentu itu salah. Dan tidak ada hubungannya Batak dengan Karo, Batak dengan Mandailing dan Batak dengan suku lainnya,” tandasnya.

Sementara itu Ketua Prodi S2 Ilmu Sejarah USU dan Ketua MSI Sumut, Dr. Suprayitno MA, menjelaskan bahwa Batak itu dalah istilah asing yang ditetapkan pada masyarakat pedalaman di Sumatera yang sebenarnya mereka sudah punya identitas sendiri. Katanya, bahkan Belanda sampai membuat kantor untuk urusan orang Batak, dalam mengatur orang Batak yang mereka sebut tersebut.

“Jadi orang Belanda dulu kalau menyebut orang dari pedalaman gunung itu orang Batak. Dan mereka yang dipesisir di sebut Melayu. Jadi Belanda saja yang membuat identitas itu, padahal sebenarnya masyarakat di dalam pegunungan sana sudah ada identitasnya masing masing, seperti Karo, Pakpak, Simalungun, dan Mandailing,” tandasnya.

Suprayitno menjelaskan, barulah setelah masa kolonial berakhir di Indonesia di kaji lebih dalam soal istilah Batak seperti apa yang disebut pemerintahan Belanda tersebut. Katanya, setelah dikaji lebih dalam, ternyata benar saja orang pedalaman yang dimaksud Belanda Batak tersebut ternyata tidak mengakui bahwa mereka Batak.

“Karo tidak ngaku dia Batak, begitu juga dengan Simalungun, Pakpak, apalagi Mandailing, mereka tidak mau disebut bagian dari Batak,” tandasnya.

Saat ditanya mengapa eksitensi Batak masih saja kuat sebagai klaim kesukuan, Suprayitno menyebutkan bahwa ada kepentingan sekelompok orang sehingga eksistensi Batak itu terus terpelihara. Sehingga istilah Batak tetap seolah menggambarkan bagian dari suku lainnya seperti Pakpak, Karo, Simalungun, dan Mandailing. (Crds)

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here