Indonesia, Market Focus Country London Book Fair 2019

0

JAKARTA (Waspada): Indonesia menjadi negara pertama di Asia Tenggara yang didapuk sebagai Market Focus Country di ajang London Book Fair (LBR) 2019. Sedikitnya 100 program acara akan digelar di dalam dan luar lokasi pameran berlangsung.

“Seratus program itu merefleksikan tema yang diusung Indonesia, yakni ‘17.000 Islands of Imagination’,” kata Ketua Harian Panitia Pelaksana Kegiatan Indonesia “Market Focus Country” untuk London Book Fair 2019, Laura Bangun Prisloo saat temu media sosialisasi Indonesia sebagai Market Focus Country di LBF 2019, di Jakarta, Senin (21/1) malam. Turut menjadi narasumber saat itu Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Triawan Munaf dan Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Hilmar Farid.

Program sebanyak itu tidak hanya melulu soal buku, tapi juga sektor kreatif lainnya. Ada kuliner, fashion, film, seni pertunjukan, komik, eksibisi arsitektur dan desain grafis, ilustrasi, boardgames dan digital animasi.

“Itu artinya, dari satu buku yang bagus, bisa saja akan lahir konten-konten kreatif lainnya yang dapat dikembangkan. Misalnya komik, akan sangat potensial melahirkan tokoh menarik dalam produksi film. Seperti itulah,”kata Laura.

Indonesia sendiri telah menyiapkan sedikitnya 450 judul buku untuk dipamerkan di LBF.  Dari jumlah tersebut, panitia menargetkan setidaknya 50 judul buku akan dibeli hak ciptanya.

Peran penulis buku dan narasumber kerja kreatif lainnya dalam ajang LBF 2019 juga signifikan. Panitia membawa 12 penulis, 20 narasumber yang akan bertemu langsung dengan publik di kegiatan-kegiatan yang digelar di sekitar Inggris Raya. Para penulis terpilih inilah yang nantinya akan merepresentasikan wajah Indonesia dari sudut pandang buku yang mereka tulis,”imbuh Laura.

Sampai saat ini, persiapan Indonesia menjadi Market Focus Country di London Book Fair (LBF) 2019 sudah rampung 80 persen jelang dua bulan waktu pelaksanaannya.

“Sebagai market focus cuntry, Indonesia mwndapat lahan pamer seluas 600 meter persegi di Olympia, London,” kata Laura.

Triawan Munaf dalam sambutannya mengakui sangat penting bagi Indonesia untuk memanfaatkan momen LBK sebagai ajang internasionalisasi karya-karya terbaik, baik buku atau konten kreatif lainnya.

“Pameran  buku di London ini adalah upaya menampilkan Indonesia dalam etalasi yang lebih luas lagi. Susah saatnya buku dan konten lainnya dipasarkan sampai ke manca negara,” kata Triawan.

Hilmar Farid memandang kepercayaan Inggris terhadap Indonesia di ajang LBF sebagai penyemangat gerakan literasi di Indonesia. Dia meyakini banyak pengarang berkelas internasional di Indonesia yang bisa saja mendapat kesempatan di pasar buku internasional.

“Ibarat berlatih, ajang London Book Fair, apalagi mendapat kesempatan sebagai target pasar tunggal di sana, maka sudah saatnya industri perbukuan dan konten kreatif lainnya di Indonesia, bangkit!”ujar Hilmar.(dianw/C).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here