Hutan Lindung Sitahoan Dihancurkan

0
SEJUMLAH pekerja sedang menarik kayu gelondongan di Sitahoan menggunakan mobil derek. Waspada/Ist
SEJUMLAH pekerja sedang menarik kayu gelondongan di Sitahoan menggunakan mobil derek. Waspada/Ist

SIMALUNGUN (Waspada): Ada empat aspek perambahan hutan lindung di Sumut- Aceh begitu lancarnya. Pertama, pelakunya orang awam, pengawas kalangan preman, herder (backing) oknum aparat dan penampung. Tidak heran kalau perambahan berlangsung di depan/diketahui kepala daerah/wakil rakyat yang cuma sekedar bicara akan menindak tegas tanpa pandang bulu.

Seperti aksi pembalakan dan pencurian kayu di kawasan hutan lindung Sitahoan, Nagori Girsang, Kec. Girsang Sipanganbolon, Kab. Simalungun, semakin berani dan terus berlangsung. Akibat pembalakan liar itu, kondisi hutan lindung menjadi gundul dan kritis sehingg menjadi ancaman terjadinya banjir bandang bagi kawasan Parapat dan Tanahjawa.

Sedangkan para pelaku atau pemodal aksi pembalakan liar tersebut sepertinya tidak terjangkau hukum, bahkan terkesan dilindungi. Begitupun para pekerjanya terkesan brutal dan arogan, selalu mengintimidasi warga setempat dan orang yang melintas dari Sitahoan.

Seperti halnya dialami beberapa wartawan, Selasa (22/1), saat akan mengambil foto para pekerja sedang mengeluarkan sejumlah kayu gelondongan dari Sitahoan menggunakan mobil derek, langsung dilarang. “Tidak boleh mengambil gambar tanpa izin disini,” kata salah seorang pekerja sambil menghardik dan menyuruh wartawan agar cepat-cepat pergi dari lokasi itu.

Pengamatan di lapangan, penebangan kayu hutan masih terus terjadi, dan di sejumlah titik ditemukan bekas-bekas pengolahan kayu balok. Tampak disisi kiri dan kanan jalan disepanjang Sitahoan sudah menjadi areal perladangan, baik yang sudah ditanami dengan kopi dan jagung maupun yang sedang dilakukan pembersihan.

Beberapa warga yang ditemui di seputar Sitahoan mengungkapkan, aksi pembalakan (pemotongan kayu) secara liar sudah berlangsung cukup lama dan ini dilakukan oleh cukong-cukong kayu berasal dari Pematangsiantar. Setiap hari ada saja kayu yang keluar dari hutan Sitahoan. Sepertinya, para mafia kayu ini dapat bebas beraksi mengeluarkan kayu gelondongan maupun kayu olahan dengan dalih bahwa kayu-kayu besar itu diambil dari lahan sendiri (enclave).

“Kami hanya bisa melihat kayu-kayu gelondongan itu diangkut dengan truk siang maupun malam. Kami tidak berani melarang atau menghadang, karena para cukong kayu cukup kejam dan terkesan kebal hukum. Bisa-bisa kita yang masuk penjara, kalau kita hadang,” ujar warga yang tak mau disebutkan namanya.

Menurut warga, mereka bosan dan tidak percaya melihat aparat yang datang ke lokasi hutan lindung itu, karena begitu bertemu dengan pemodal atau pengawas, aparat dimaksud langsung pergi dengan wajah berseri-seri dan selanjutnya aksi pembalakan kembali berlangsung.

“Biar perlu ito (abang) tau, kasus pembalakan hutan Sitahoan ini sudah jadi rahasia umum dan sudah dilaporkan kepada semua pihak seperti Gubernur, Pangdam, Polda, Kementerian, namun aksi pembalakan tidak berhenti, bahkan semakin menjadi-jadi. Menurut kami, yang bisa menghentikan pembalakan ini hanya Presiden,” tegas warga, sembari meminta wartawan menyurati Presiden RI, karena mereka berpikir hanya presidenlah yang bisa menghentikan pembalakan di hutan lindung Sitahoan tersebut.

Sementara Sukendra Purba, Kasi Perlindungan Hutan pada Jantor Unit Pelaksana Teknis Jalan Simbolon Pematangsiantar, saat ditanyakan terkait aksi pembalakan hutan lindung Sitahoan, justru berdalih, pihaknya harus melakukan cek lapangan lebih dahulu dimana lokasi tumbuhnya baru dapat mengatakan pembalakan itu di luar kawasan atau dalam kawasan hutan.

“Kalau gak salah tanah enclave Sitahoan sekitar 480-an hektar. Batas pilarnya ada disitu,” ujar Purba. Apa pembalak liar ini tidak menganggap ada Kapolres, Dandim, dan pemangku hukum lainnya sehingga merdeka menghsncurkan hutan libdung. (a29)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here