Musisi Medan Tanggapi RUU Permusikan

0

RANCANGAN Undang-Undang (RUU) Permusikan masih menjadi perbincangan kalangan yang berkecimpung di cabang industri ini. Sebagian dari mereka menilai ada sejumlah pasal yang perlu dikaji ulang sebelum akhirnya disahkan.

Tidak hanya di Jakarta masalah ini menjadi perdebatan. Di Medan pun kalangan musisi mempertanyakan beberapa pasal yang mereka nilai mempersulit gerak musisi, diantaranya pasal 19, tentang promotor musik mendatangkan band luar negeri wajib mengikutsertakan pelaku musik Indonesia sebagai pendamping.

Selain ada pasal mengharuskan profesi musisi harus melalui standar kompetensi lembaga yang ditunjuk pemerintah. Dan ada beberapa lagi pasal-pasal menjadi kontroversial, seperti tempat hiburan mengwajibkan menyuguhkan musik tradisional, kebebasan berekspresi dalam bermusik, dan sebagainya.

Pertanyaannya, apakah dengan adanya RUU ini mampu menaikkan kesejahteraan para musisi?.

“Kita harus tahu bahwa musisi adalah seseorang yang memiliki keinginan untuk mengekspresikan karyanya melalui wadah dengan harapan bisa diapresiasi orang lain, baik dalam materil maupun moril”, kata Brian Harefa, S.Sn M.Sn musisi juga Dosen Luar Biasa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas HKBP Nommensen Medan.

Ia menuturkan, dengan adanya RUU tentang kebebasan berekspresi dalam karya, secara otomatis akan membuat ruang yang terbatas bagi musisi.

“Bayangkan saja, untuk membuat sebuah karya saja sangatlah susah jika tidak disertai dengan mood yang bagus, karena membuat karya berasal dari hati atau ungkapan yang tidak terbatas, lalu diproses melalui skill penciptanya”, tegasnya.

Menurut Brian, sebuah karya tidak tercipta seperti membuat sesuatu yang eksak, melainkan harus butuh proses tarik ulur di pikiran penciptanya. Yang menjadi poin pertama, bagaimana karya terjadi jika proses itu sudah terkekang oleh RUU?

Menyangkut pasal tentang tempat hiburan mewajibkan musik tradisional disuguhkan. Ini merupakan pasal yang lumayan kontroversial dikalangan pebisnis tempat hiburan.

Bagaimana musik tradisional disuguhkan disaat para tamu pengen ‘ajeb-ajeb’ di diskotik, atau disaat tamu pengen mendengarkan musik Jazz di cafe yang agak spesifik, seperti Jazz Cafe” katanya dengan nada bertanya.

Disebutkannya, bisa saja lagu tradisional dibawakan ke genre yang disesuaikan di tempatnya, tapi intinya ‘buat apa?’. Apakah dengan membuat itu maka musik tradisional terlestarikan? Tidak. “Musik tradisional bisa eksis pada tempatnya, bukan pada semua tempat”, ucapnya.

Menyinggung mengenai musisi luar negeri yang mau manggung harus didampingi pelaku musik di Indonesia. Hal ini pada dasarnya baik, karena pemerintah mencoba mensosialisasikan sistem Support Lokal Talent.

Namun tidak menutup kemungkinan ada musisi luar negeri yang tidak mau melibatkan musisi Indonesia dalam “panggungnya”. Hal ini akan menjadi polemik jika para promotor musik menemukan artis luar negeri yang se-‘Idealis’ itu. Kesimpulannya, kata Brian Harefa, RUU Permusikan ini nantinya akan sama seperti RUU ITE yang masih ‘ngaret’. Jika dilihat dari sudut sipembuat RUU, bisa saja ini menjadi acuan untuk memajukan industri permusikan di Indonesia, atau bisa juga jadi ‘cuan’ sipembuat agar ada pemasukan.

Dengan adanya RUU ini, nantinya kita lihat apakah berefek bagi kesejahteraan para pelaku seni, atau sama sekali ‘useless’.

Tidak Setuju

Secara terpisah Willy Erfan gitaris band Mahameru mengatakan, intinya tidak setuju terhadap RUU Permusikan sekarang lagi dibahas di DPR, terutama larangan-larangan yang terdapat di dalam pasal 5 sangat merugikan musisi berada di jalur indie.

Disebutkannya, ketika musisi diatur untuk membuat sebuah karya, maka hilanglah kreatifitas dari musisi.

Para seniman selama ini memang melakukan pemberontakan terhadap industri musik dikuasai major label yang mana mereka mengatur dan mengarahkan musisi untuk membuat karya sesuai keinginan mereka, namun itupun mereka masih membuka ruang negosiasi yang luas untuk mencari win-win solusion.

Menyangkut uji kompetensi untuk musisi agar diakui profesinya sebagai musisi, parameter uji kopetensi ini apa dan siapa yang akan mengujinya, ucapnya dengan nada bertanya.

Willy mengharapkan, sebelum RUU ini diundangkan dan menjadi Undang-undang sebaiknya 2 pasal tadi ditinjau ulang dan DPR meminta masukan seluas-luasnya kepada musisi di seluruh Nusantara agar terdapat keadilan bagi seluruh musisi di Tanah Air.

Kebanyakan Otodidak

Disisi lain Benk Handoko gitaris Sunset Bluesbite Band mempertanyakan tujuan uji kompetensi musisi.

Katanya, setelah lulus uji kompetensi, lalu profitnya apa buat musisi?. Kayaknya tetap sulit diterima, kerena kebanyakan pemusik di Indonesia ini backgroundnya otodidak, bahkan maestro-maestro musik kita banyak yang otodidak.

Ia juga mempertanyakan, kalau standar uji kompetensinya mengacu pada orientasi dan prinsip musik barat (notasi) partitur, bakal hancurlah musik Indonesia.

Tapi kalo uji kompetensinya dengan mekanisme sesuai dengan karakteristik pemusik Indonesia yang otodidak, bolehlah dipertimbangkan.

Tapi yang paling penting, kata Benk Handoko, justru mempersulit gerak dan menghambat ekspresi dan karya.”Kita (musisi) gak perlu lah uji-ujian semacam itu..toh selama ini kita aman-aman dan baik-baik saja, katanya sembari tertawa.

Benk Handoko menambahkan, perkembangan musik Indonesia juga relatif stabil dan progressnya bagus.

Lebih fokus ke gimana caranya agar musisi Indonesia bisa punya pendapatan dari sistem royalti yang baik untuk jaminan masa tua seperti pemusik di luar negeri. “Sulit membatasi kreatifitas di jaman yang serba terbuka dan informasi digital yang luar biasa bebas nya seperti sekarang ini”, ujarnya.

Alumni Etnomusikologi USU inipun merasa musisi yang otodidak pasti males ikut uji kompetensi karena prinsipnya musisi yang mau berkarya bukannya dimudahkan, ini malah dipersulit. ” Aku pesimis RUU ini bakal disetujui mayoritas musisi Indonesia”, tegasnya.

Iapun mempertanyakan apa sebenarnya alasan urgen yang mengharuskan musisi ikuti ujian kompetensi?

Toh selama ini para musisi juga ‘cari makan’ nya gak cukup difasilitasi oleh undang-undang dan aturan baku dengan baik.

“Intinya kalo jadi mempersulit gerak musisi, kita tidak setuju.”, begitu pendapatnya.

t.junaidi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here