JaDI Terus Sosialisasikan Lawan Hoax dan Politik SARA

1

Medan (Waspada)  : Jaringan Demokrasi Indonesia (JaDI) Sumatera Utara (Sumut) terus melakukan sosialisasi dan mengajak masyarakat untuk melawan hoax dan menolak politisasi Suku, Agama dan Ras (SARA) untuk mencuptakan iklim demokrasi yang damai.

Presidium JaDI Sumut, Benyamin Pinem,
dalam acara Diskusi Publik Jelang Pemilu 2019 “Lawan Hoax dan Tolak Politisasi SARA”, di Kampus Universitas Asahan (UNA), Jumat (8/2), mengatakan, perlu upaya yang lebih keras untuk melawan hoax dan menolak politisasi SARA.
“JaDI Sumut ini komunitas mantan penyelenggara pemilu dan menginginkan Pemilu 2019 berjalan lancar,” ucapnya.

Diskusi Publik Jelang Pemilu 2019 yang dilaksanakan JaDI Sumut sudah dilakukan di tiga titik, yakni di Universitas Medan Area (UMA), Universitas Islam Negeri (UIN) Sumut dan Universitas Asahan (UNA). Selanjutnya JaDI Sumut juga akan menggelar diskusi serupa pada Jumat (8/2) besok di Universitas Al Washliyah Labuhan Batu. Dalam kegiatan diskusi publik ini, JaDI Sumut selalu melibatkan jajaran KPU dan Bawaslu sebagai narasumber. Selain itu, pelibatan akademisi juga menjadi point penting JaDI Sumut dalam melaksanakan diskusi yang bertujuan melawan hoax dan politisasi SARA ini.

Dikesempatan yang sama, Ketua KPU Kabupaten Asahan, Hidayat mengatakan paling tidak ada empat hoax yang sudah dihembuskan untuk menyerang penyelenggara pemilu khususnya KPU. Pertama, terkait kotak suara yang diisukan terbuat dari kardus. Kedua, terkait surat suara tercoblos 7 kontainer. Ketiga, adanya informasi 14 juta orang gila yang masuk kedalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) dan yang keempat adanya sekitar 31 juta pemilih siluman.

Padahal semua informasi hoax itu, sangat jauh dari fakta-fakta kepemiluan yang ada. Maka itu, Hidayat mengajak peserta diskusi publik bisa cerdas untuk melihat keadaan saat ini. Sebab, KPU dan jajarannya sudah bekerja secara maksimal dalam mempersiapkan pemilu.
“Karena KPU Kabupaten/Kota merupakan perpanjangan tangan dari KPU RI, ada upaya untuk menangkal hoax terkait fakta-fakta kepemiluan yang benar. Jadi ini yang akan kami lakukan sampai ke jajaran paling bawah,” kata Hidayat lagi dihadapan sekitar 250 mahasiswa dan aktifis ormas se-Kabupaten Asahan.

Sementara itu Wakil Rektor II Universitas Asahan (UNA), Drs Zulkifli Simatupang, M.Pd, mengatakan bahwa hoax itu memang dibuat dengan sengaja untuk menyerang pribadi atau kelompok tertentu. Maka sangat perlu dilakukan inisiatif melawan hoax, karena informasi menyesatkan seperti hoax melupakan subtansi bernegara yakni untuk mensejahterakan rakyat.

“Tindakan melawan hoax bisa dimulai dari diri sendiri dengan banyak membaca dan memferivikasi informasi yang diterima. Karena kelompok masyarakat yang rentan hoax adalah kelompok yang jarang mendapatkan informasi yang benar. Itu sebuah hal yang pasti,” tambah Zulkifli.

Kondisi saat ini menurut Zulkifli sudah sangat kritis karena virus hoax sangat mengganggu kerukunan di masyarakat. Maka itu, dia mengajak semua pihak yang punya kepentingan pada pemilu dan demokrasi untuk berpolitik secara santun. “Kita kehilangan subtansi berpolitik. Jangan selalu menyalahkan pemimpin saat ini. Ini sudah sangat kritis, karena memprihatinkan,” tegasnya. (cyn)

Teks Foto: Ketua KPU Kabupaten Asahan, Hidayat saat menjadi narasumber di acara acara Diskusi Publik Jelang Pemilu 2019 “Lawan Hoax dan Tolak Politisasi SARA”, yang diselenggaran JaDI di Kampus Universitas Asahan (UNA), Jumat (8/2). Waspada/ istimewa

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here