Dialog Publik Sesi II Umat Islam Bertanggungjawab Dorong Pemilu Berjalan Tanpa Kecurangan

1
PEMBICARA Prof Sahrin Harahap, Prof. Hasim Purba, dan Dr. Shohibul Anshor Siregar, serta moderator Dr. Dedi Sahputra pada dialog publik. Waspada/Anum Saskia
PEMBICARA Prof Sahrin Harahap, Prof. Hasim Purba, dan Dr. Shohibul Anshor Siregar, serta moderator Dr. Dedi Sahputra pada dialog publik. Waspada/Anum Saskia

MEDAN (Waspada): Umat Islam harus saling mengingatkan agar menggunakan hak pilihnya pada Pemilu 2019 dalam rangka menyelamatkan negara. Umat Islam bertanggungjawab mendorong sistem politik dan Pemilu agar berjalan tanpa kecurangan, adil dan transparan.

Hal itu merupakan beberapa poin penting yang disampaikan pada diskusi publik seri ke II dengan tema Umat Mengawal Pemilu Bermartabat yang diselenggarakan oleh Lembaga Advokasi Umat Islam (LADUI), Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumut, Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Kota Medan, Pengembangan Basis Sosial Inisiatif & Swadaya (nBASIS), Istiqoomah Mulya Foundation (IMF), Gerakan Nasional Pembela Fatwa Ulama Sumatera Utara (GNPF SU), Minggu (10/2), di Garuda Plaza Hotel Medan.

Pimpinan Umum Harian Waspada, dr Hj Rayati Syafrin, dalam kata sambutannya sekaligus membuka diskusi publik tersebut mengingatkan masyarakat harus mendorong proses politik yang bermartabat. Rayati Syafrin menjelaskan, dialog publik ini sungguh sangat penting sekali, mengingat tingginya atensi masyarakat terhadap pelaksanaan Pemilu di tahun 2019 ini.

Katanya, sebagai media massa, kami sangat menyadari bahwa atensi besar khalayak adalah sesuatu hal yang mesti menjadi perhatian, dan dikelola dengan baik, karena merupakan ‘ruh’ bagi kehidupan sosial kita. Oleh karenanya, ketika panitia meminta kami untuk ikut terlibat didalam kegiatan dialog publik ini, kami menyambut dengan senang hati.

Sebab menyebarluaskan informasi yang bermanfaat adalah tugas dan tanggungjawan kami sebagai media massa. Rayati Syafrin juga menjelaskan, bahwa kegiatan dialog ini adalah kegiatan yang netral, dalam rangka mendorong Pemilu 2019 yang berlangsung sesuai dengan aturan hukum yang telah disepakati bersama.

Karena sifatnya yang netral tersebut, maka kegiatan ini tidak cenderung kepada salah satu kubu tertentu. “Umat Islam punya tugas serius guna mendorong sistem politik dan Pemilu agar berjalan tanpa kecurangan, adil dan transparan. Nilai-nilai seperti inilah yang akan memastikan Bangsa ini dapat menyelenggarakan kehidupan sosial masyarakat yang lebih bermartabat, adil dan makmur,” tandasnya.

Panitia Kegiatan, H. Hamdani Harahap SH,MH, dalam keteranganya, mengaku kecewa dengan ketidakhadiran Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Sumut, padahal acara ini turut membantu mensosialisasikan sistem Pemilu.

Begitupun, kata dia, tidak perlu berkeluh kesah, karena sebagai pelaksana kegiatan telah mengundang dengan hormat pihak KPU dan Bawaslu untuk hadir. “Sudah 2 kali KPU dan Bawaslu di undang, tapi tidak pernah mau datang. Padahal banyak hal yang ingin ditanyakan umat ini pada mereka, tapi mereka terkesan tidak perduli. Kita kecewa, tapi kita serahkan saja pada Allah SWT agar mereka mendapat petunjuk,” katanya.

Adapun pembicara pada dialog publik tersebut diantaranya, Prof Sahrin Harahap, Prof. Hasim Purba, dan Dr. Shohibul Anshor Siregar, serta di moderatori oleh Dr. Dedi Sahputra. Ketiga narasumber tersebut menyimpulkan bahwa ketidakhadiran KPU dan Bawaslu harus ditanggapi positif, sebab mungkin ada banyak hal yang membuat langkah KPU dan Bawaslu terhalang untuk hadir di forum ini.

Namun Prof. Hasim Purba menilai bahwa sudah sepantasnya KPU dan Bawaslu dilaporkan ke Dewan Kehormatan Penyelengara Pemilu (DKPP) karena mereka tidak mau bekerja mensosialisasikan Pemilu ke masyarakat. Dalam dialog ini juga dianjurkan agar umat Islam lebih masif lagi mensosialisasikan Pemilu agar tingkat partisipasi pemilih muslim tinggi dan bisa memperjuangkan orang orang yang perduli dengan Islam.

Prof. Sahrin Harahap mengatakan bahwa Pemilu harus dijadikan sebagai hari wisata politik, dimana semua warga Indonesia bergembira menyambut Pemilu. Maka, umat Islam harus ramai datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS), bawa minum dan makanan, ajak jiran tetangga, saudara, untuk datang ke TPS.

Sehingga suara umat Islam ini tidak hilang dan kita menjadi tidak berdosa karena sudah menjalankan hak untuk memilih yang sudah diberikan Allah SWT. “Jangan ada warga yang menyabut Pemilu ini dengan rasa cemas, takut, dan kuatir, karena adanya berbagai ancaman dan intimidasi,” kata Prof Sahrin.

Shohibul Anshor Siregar mengingatkan bahwa Pemilu April mendatang harus diawasi bersama, sebab ada banyak potensi kecurangan yang sampai hari ini belum terkonfirmasi atau belum ada penjelasan dari KPU serta Bawaslu Sumut. “Wajar umat Islam di Sumut kuatir dengan keadaan ini. Oleh sebab itu kami berharap agar KPU dan Bawaslu, mau lah hadir jika diundang umat Islam untuk berdialog,” kata Shohibul. (m37/Crds)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here