Kowani Di CSW AS Promosikan Hak Perempuan dan SDGs Berkelanjutan

1
KETUA Umum Kowani Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo MPd bersama anggota setibanya di Amerika Serikat sebelum kegiatan berlangsung. Waspada/Ist
KETUA Umum Kowani Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo MPd bersama anggota setibanya di Amerika Serikat sebelum kegiatan berlangsung. Waspada/Ist

​NEW YORK (Waspada): Bertempat di Assembly Hall Markas Besar PBB di New York, berlangsung pertemuan tahunan komisi status perempuan (Commission on the Status of Women, CSW) ke 63, yang merupakan Komisi Fungsional dari Dewan Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa-Bangsa (ECOSOC, Economic and Social Council), pada Senin (11/3) resmi dibuka. Kegiatan yang mempromosikan hak-hak perempuan dalam bidang politik, ekonomi, sipil, sosial dan pendidikan tersebut diharapkan mempercepat realisasi setara gander dan Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) di Indonesia.

Acara dihadiri Sekjen PBB, António Manuel de Oliveira Guterres, Wakil Tetap Duta Besar RI Indonesia di New York, Perwakilan dari negara-negara anggota PBB, badan-badan PBB, dan organisasi non-pemerintah (LSM). Sedangkan dari Indonesia hadir antara lain pejabat dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA).

“Saya Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani), Giwo Rubianto Wiyogo,” ujar Giwo Rubianto menyampaikan langsung dari Amerika Serikat. Giwo menyebutkan, Kowani adalah satu-satunya organisasi Federasi di Indonesia yang mempunyai permanen status sebagai anggota UN Women dan ECOSOC.

“Saya hadir didampingi oleh beberapa anggota Kowani yaitu Ulli Silalahi SE, Tantri Dyah Kiranadewi, SE. Ak, Ir. Sharmila MSi, Lisye Sinulingga, SH. MH, Farahdibha Tenrilemba, SS, Sylvia Mogot dan dari Pita Putih Indonesia (PPI) yang merupakan anak organisasi Pita Putih Internasional (Global White Ribbon Alliance) yang mendukung keselamatan ibu hamil, melahirkan dan nifas serta bayi baru lahir diantaranya Ir. Wincky Lestari dan DR. dr. Lucy Widasari MSi,” paparnya.

Ditambahkanya, Ketua Komisi Status Perempuan H.E. Geraldine Byre Nason dari Irlandia dalam sambutannya mengatakan sangat peduli terhadap masalah perempuan di dunia termasuk masalah disabilitas. Menurutnya, sebanyak 830 perempuan di dunia meninggal setiap hari akibat komplikasi kehamilan atau melahirkan.

“Tema utama yang diangkat pada pertemuan CSW pada 11 s/d 22 Maret di New York 2019 adalah sistem perlindungan sosial, akses ke layanan publik dan infrastruktur berkelanjutan untuk kesetaraan gender serta pemberdayaan perempuan dan anak perempuan. Sedangkan tema khusus diantaranya adalah pemberdayaan perempuan dan kaitannya dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs).

Kesimpulan yang akan disepakati dari tema prioritas pada CSW 63 ini adalah hasil tema prioritas yang dinegosiasikan oleh semua negara anggota, mengidentifikasi kesenjangan dan tantangan dalam pelaksanaan sebelumnya serta membuat rekomendasi yang berorientasi pada tindakan bagi seluruh negara maupun badan antar pemerintah yang terkait, yang bertujuan untuk mendorong tindakan lanjutan sehingga dapat mempercepat realisasi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan dan anak perempuan,” ujarnya.

​Selaku, Ketua Umum Kowani yang juga anggota National Alliance Council (NAC), serta Vice President International Council of Women (ICW), Giwo menambahkan, sesuai dengan tema utama yang diangkat pada pertemuan komisi status perempuan di markas PBB, Indonesia dibawah kepemimpinan Presiden RI, Joko Widodo, telah melaksanakan akses bagi layanan publik dan infrastruktur berkelanjutan serta peningkatan kesejahteraan perempuan untuk kesetaraan gender serta pemberdayaan perempuan dan anak perempuan.

“Perlu strategi untuk mencapai kesetaraan dan keadilan gender melalui kebijakan dan program dengan memperhatikan pengalaman, aspirasi, kebutuhan dan permasalahan perempuan dan laki-laki khususnya dalam proses pembangunan, yang dimulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi. Hal ini antara lain dapat diperoleh melalui pengalaman dari berbagai negara di dunia yang dipresentasikan dalam pertemuan komisi status perempuan di New York kali ini dimana terdapat 330 side event dari berbagai negara di dunia,” ungkapnya.

Sebagai Ketua Umum Pita Putih Indonesia (PPI), Giwo Rubianto mengharapkan, adanya outcome positif bagi seluruh peserta dan memiliki multiplayer effect, atau efek pengganda yaitu proses keterkaitan perubahan di satu bidang yang dapat menjadi salah satu penyebab perubahan di bidang yang lain.

“No women and girls behind, tidak ada perempuan dan anak perempuan di belakang. Kesadaran akan posisi yang setara dengan laki-laki membuat perempuan dapat lebih meningkatkan kualitas hidup dan potensi yang dimiliki. Kami memerlukan peran perempuan yang lebih dari sebelumnya. Bagi beberapa negara lain di dunia maupun di Indonesia, kesetaraan gender masih merupakan sesuatu hal yang harus diperjuangkan. If you educate a man you educate a person if you educate a woman you educate a nation,” terangnya penuh semangat. (m37)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here