Forum Perusahaan Dunia Bahas Dukungan Pada Lingkungan Hidup

1

JAKARTA (Waspada): Keterkaitan yang erat antara perubahan iklim dan perdagangan menjadi pokok bahasan utama dalam forum pertemuan para pemimpin perusahaan yang tergabung dalam Organisasi Bisnis Dunia (The International Chamber of Commerce /ICC).

Organisasi yang menaungi 45 juta perusahaan di seluruh dunia itu meyakini, perlunya kesadaran kolektif untuk menjaga keseimbangan antara kegiatan perdagangan yang menguntungkan dengan keinginan menjaga kelestarian alam.

“Forum CEO Asia Pasifik yang kelima kalinya ini sekaligus akan membicarakan bagaimana bisnis di kawasan Asia Pasifik dapat mencapai Sasaran-sasaran Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang merupakan  Agenda PBB tahun 2030 untuk manusia, planet, dan kemakmuran,” kata Sekretaris Jenderal ICC John W.H. Denton AO dalam jumpa media di Jakarta, Selasa (12/3).

Acara ini juga  mempertemukan para CEO dan pejabat senior pemerintah untuk membahas keterkaitan antara perubahan iklim dan perdagangan .

“Forum CEO ICC adalah kesempatan unik, yang mempertemukan para pemimpin Asia Pasifik untuk membahas  masa depan peluang bisnis, investasi dan perdagangan yang akan dipengaruhi oleh  isu-isu yang bersifat global ,”imbuh Denton.

Ketua ICC Indonesia yang juga menjadi salah satu pemakalah, Ilham Akbar Habibie mengatakan, saat ini jumlah perusahaan di Indonesia yang tergabung dalam ICC sejumlah 100 perusahaan. Jumlah itu didominasi oleh perusahaan perbankan. Dia berharap setelah pertemuan ini akan masuk.perusahaan-perusahaan berbasis ekonomi digital. Tujuannya adalah memberi nuansa dan wawasan baru bagi ICC untuk bersama bergerak di teknologi digital yang semakin menggurita.

“Jelas sekali manfaat ekonomi digital bagi kehidupan di muka bumi. Lewat digitalisasi, tidak ada lagi jarak antara manusia satu dengan lainnya. Ada keadilan dan persamaan hak dalam hal apapun,” kata Ilham.

Pembicara lainnya dalam forum itu adalah mantan Menteri Perdagangan Marie Elka Pangestu. Dia menyoroti keinginan luas ICC lewat forum CEO Asia Pasifik ini sebagai upaya menyeimbangkan antara perilaku bisnis dengan upaya menjaga kelestarian alam. Dia mengatakan hal itu mungkin terjadi jika inovasi terus dikembangkan bersama seluruh pemangku kepentingan, khususnya kalangan perguruan tinggi.

“Sejumlah negara maju seperti Amerika Serikat dan China, misalnya, memiliki keinginan kuat menciptakan energi terbarukan dalam banyak hal tentang bisnisnya. Dan semuanya tentu bekerja sama dengan para ilmuwan dari perguruan tinggi masing-masing,” katanya.

Pada kesempatan itu  diluncurkan pula sebuah laporan baru tentang perubahan iklim dan  perjanjian perdagangan. Laporan  tersebut dibuat oleh Economist Intelligence Unit (EIU) berjudul “Perubahan iklim dan perjanjian perdagangan:  Kawan atau Lawan?”,  dan diterbitkan oleh ICC bermitra dengan Kamar Dagang dan Industri Qatar,  sebagai bagian dari Agenda Inisiatif  Perdagangan Dunia. Laporan ini menilai sejauh mana Organisasi Perdagangan Dunia serta empat perjanjian perdagangan bebas yang ada saat ini, mendukung peluang untuk meningkatkan aliran perdagangan yang ramah iklim.

Selain tiga nama di atas, Forum CEO Asia Pasifik yang digelar ICC juga menampilkan
Shinta Kamdani, Presiden, Dewan Bisnis untuk Pembangunan Berkelanjutan Indonesia (IBCSD); Raghu Mody, Founder, ICC Asia Pacific CEO Forum;  Paul Polman, Ketua, International Chamber of Commerce (ICC); V.P. Sharma, CEO, PT Mitra Adhi Perkasa (MAP) dan Virginia Tan, pendiri Teja Ventures. (dianw/C).

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here