Perseteruan David Melawan Goliath di Reli Dunia

0
Audi Quattro A1 dan Lancia 037

Jika sebelumnya kita telah membahas pertarungan bersejarah antara Ford dan Ferrari di ajang balap ketahanan 24 Hours of Le Mans pada 1960-an, tulisan kali ini mengulas sejarah balap yang tak kalah menarik dari ajang World Rally Championship (WRC).

Meski tidak setenar balap Formula 1 atau MotoGP, kejuaraan reli dunia di awal 1980-an mendapat banyak perhatian dari warga Eropa dan Amerika, yang menjadi tuan rumah perhelatan. Yang menarik tentu karena penonton dapat menyaksikan para pebalap secara langsung di pinggir lintasan.

Kisah bermula pada tahun 1977, saat pabrikan mobil asal Jerman, Audi, mengembangkan teknologi penggerak empat roda (four wheel drive/4WD) bagi kendaraan militer. Merasa sukses, mereka kemudian mengaplikasikan teknologi itu untuk kendaraan keluarga.

Dan hasilnya cukup menggembirakan. Dari hasil uji coba itu, sedan penumpang Audi yang disematkan teknologi 4WD terbukti mampu melibas medan off-road karena memiliki traksi maksimal di keempat rodanya. Segera setelahnya, Audi mencari cara agar teknologi tersebut dapat diaplikasikan di ajang reli dunia.

Namun, niat mereka itu terhalang aturan tertulis dalam buku panduan WRC 1979. Salah satu butir yang menghalangi berbunyi, “Kendaraan 4WD tidak dapat mengikuti balapan.” Tidak putus asa, Audi kemudian melobi FISA, badan yang mengatur peraturan WRC, di Paris, Perancis, agar peraturan itu diubah. Dan keinginan mereka terkabulkan.

Audi Quattro A1
  1. Dominasi Audi

Hasilnya dapat ditebak. Tiga tahun kemudian, dalam ajang WRC Group B 1982, Audi mendominasi balapan dengan Audi Quattro A1. Selain berpenggerak empat roda, Quattro A1 dibekali mesin turbo 5 silinder 2.500 cc yang dapat menghasilkan 306 horsepower. Jauh lebih superior dari lawan-lawannya yang masih mengandalkan penggerak dua roda. Tim-tim pabrikan yang berpartisipasi pada saat itu belum ada yang mencoba bereksperimen menerapkan 4WD.

Mobil reli Group B

Sebagai informasi, Group B adalah salah satu cabang reli dunia yang disebut sebagai ‘masa keemasan reli’ (the golden era of rallying). Karena, berbeda dengan Group A dan Group N, kendaraan yang dipacu di Group B adalah kendaraan prototype yang mengusung teknologi terbaru pada zamannya serta tidak dibatasi oleh regulasi mesin. Dan produksi kendaraan massalnya pun hanya 400 unit setahun, berbeda dengan Group A dan N yang butuh 5.000 unit.

Lancia-037
  1. Work smart, play hard

Kembali ke topik. Audi yang merupakan bagian dari Volkswagen kala itu adalah penguasa reli. Kantong mereka disesaki dana segar yang seakan tanpa batas serta memiliki Roland Gumpert sebagai kepala mekanik. Sementara, Lancia digawangi oleh Cesare Fiorio.

Berbeda dengan Gumpert yang terstruktur, tekun, dan ulet, Fiorio adalah sosok yang flamboyan dan santai. Lancia juga kala itu minim dana dan hanya memiliki segelintir orang dalam timnya. Kemudian dari sisi pebalap, Audi memiliki nama-nama beken seperti Hannu Mikkola, Stig Blomqvist, dan Michele Mouton, yang selalu bersaing satu sama lain. Ketiganya telah mengantongi 21 kemenangan total di ajang reli 1982.

Markku Alén (kiri) dan Walter Röhrl

Tidak demikian halnya dengan Lancia. Pebalap utama mereka, Markku Alén dan Walter Röhrl, memiliki sifat yang berbanding terbalik dengan pebalap Audi. Röhrl tidak mau menjadi juara dunia reli. “Saya hanya mau menang di (etape) Monte Carlo, Corsica, Acropolis, Selandia Baru, dan San Remo. Saya tidak ingin memenangi gelar juara dunia. Karena jika juara, saya tidak dapat memiliki kehidupan normal,” ujar Röhrl.

Namun begitu, Lancia memiliki tim yang cerdik dan kendaraan yang tak kalah hebat, yaitu Lancia 037. Dibanding A1, 037 lebih inferior. Mobil ini hanya memiliki mesin tengah 4 silinder 2.000 cc yang dilengkapi supercharger dengan 265 tenaga kuda.

Lancia 037
  1. Kecerdikan Lancia

Reli 1983 dapat disebut sebagai pertandingan antara David (Lancia) melawan Goliath (Audi). Meski di atas kertas terlihat lemah dibanding Audi, tim Lancia memiliki pengalaman panjang dan telah menjuarai reli 4 kali sebelumnya. Mereka tahu betul bahwa untuk menang melawan teknologi 4WD Audi, mereka harus menggunakan kecerdikan.

Lalu bagaimana Lancia menyiasatinya? Pertama, untuk berkompetisi di Group B, Lancia harus memproduksi sedikitnya 400 unit 037. Namun, karena minim dana, mereka hanya mampu memproduksi 200 unit. Saat diinspeksi oleh tim  FISA, mereka memarkir ke 200 Lancia 037 di sebuah lapangan dan beralasan 200 sisanya ada di tempat berbeda yang terletak di sisi lain kota.

Usai menghitung kelompok pertama, tim Lancia lantas mengajak utusan FISA menikmati hidangan di sebuah restoran dan mengulur waktu sementara mereka memindahkan ke 200 Lancia 037 yang sudah diinspeksi ke tempat berikutnya. Kala itu FISA tak sadar telah diakali.

Berikutnya, seluruh kendaraan yang berpartisipasi di WRC wajib dilengkapi roll cage berbahan baja sebagai standar keamanan. Tapi, roll cage baja itu berat dan Lancia menggantinya dengan bahan karton plastik. Berbahaya memang, tapi Röhrl tidak peduli. “Saya tidak berencana untuk mengalami kecelakaan,” tegasnya.

Lancia 037
  1. Let’s race

Etape pertama digelar di Monte Carlo, Monako. Tidak ada yang menyangka Lancia dapat menang di medan bersalju yang belumpur dan licin. “Kendaraan bermesin tengah dengan penggerak roda belakang bukanlah formula yang tepat untuk bertanding di Monte Carlo,” ujar Fiorio.

Di saat tim Audi berusaha menemukan settingan tepat bagi Quattro A1, tim Lancia malah bergegas menuju supermarket, memborong garam sebanyak-banyaknya. Mereka kemudian menaburkan garam di tikungan-tikungan sulit yang tajam dan bersalju agar saat pebalap mereka lewat, salju telah menghilang.

Lancia 037 Monte Carlo

Tidak berhenti di situ. Usai melewati kawasan bersalju, di tengah etape, Lancia 037 kemudian melakukan pergantian ban. Dalam buku peraturan memang tidak disebut boleh melakukan pergantian ban di tengah pertandingan. Dan Lancia mengambil kesempatan itu.

“Jika Anda mau bertanding di ajang motorsport, Anda harus tahu semua peraturan yang ada. Anda harus dapat melihat ‘area abu-abu’ dalam peraturan,” terang Fiorio. Hasilnya, Lancia menjuarai Monte Carlo. Röhrl dan Alén finish pertama dan kedua.

Mobil reli klasik Audi Quattro dan Lancia 037
  1. Mengalah untuk menang

Namun, etape berikutnya digelar di Swedia yang diselimuti salju tebal.Menghadapi kenyataan itu, Lancia memutuskan untuk tidak mengikuti etape sama sekali. Pebalap Audi pun menang mudah. Tiga minggu kemudian, Audi menang lagi di Portugal dan lagi di Afrika Timur.

Dari sini sepertinya poin Audi tidak terkejar. Lantas tibalah saatnya untuk bertanding di Corsica, Kepulauan Mediterania. Lintasan didominasi oleh jalanan beraspal mulus. Dan Lancia digadang-gadang dapat mencuri beberapa poin di etape ini. Namun, sebanyak apa poin yang mereka raih?

Biasanya Lancia hanya menerjunkan 2 atau 3 pebalap. Namun, khusus Corsica, mereka menurunkan 4 pebalap. Dengan tampil habis-habisan, Lancia berharap Audi hanya dapat finish di posisi 5. Tetapi apa yang terjadi? Semua pebalap Audi mengalami kerusakan mesin atau terlibat kecelakaan, sehingga tidak ada satupun yang mencapai garis finish. Keuntungan besar bagi tim Fiorio, mereka kembali memimpin perolehan poin.

  1. Terbantu alam

Rintangan selanjutnya ada di Acropolis, Yunani. Lintasan di ‘Negeri Para Dewa’ itu didominasi oleh jalanan tanah berbatu kasar. Dapat dipastikan, akan banyak kendaraan yang mengalami kerusakan. Namun anehnya, pebalap yang mengalami kerusakan hanyalah para pebalap dari tim Audi. Kendaraan mereka hancur ‘digerogoti’ oleh kerasnya lintasan. Walter Röhrl tampil luar biasa dan dominan. Ia pun menjuarai etape favoritnya.

Perseteruan berlanjut di Selandia Baru dan Argentina. Kedua tim menang bergantian. Lalu kemudian tantangan mengerikan ada di etape Finlandia. Lintasan di negara ini didominasi oleh banyaknya jalanan berundak-undak yang mengharuskan mobil selalu jumping.

Dan Lancia memiliki masalah besar. Walter Röhrl tidak mau berpartisipasi. “Saya tidak suka Finlandia karena saya tidak suka jempingan. Kalau mau terbang, saya akan menjadi pilot, bukan pereli,” ungkap pebalap asal Jerman itu. Hasilnya? Audi menang mudah.

San Remo 1083
  1. Kembali pulang

Kemudian, tibalah saatnya menghadapi etape terakhir di San Remo, Italia, rumah bagi Lancia. Secara matematis, dari perolehan poin, Lancia masih dapat memenangi pertandingan. Dan mereka tidak mau kalah di hadapan para pendukungnya.

Sialnya, lintasan San Remo dipenuhi oleh debu tebal. Sehingga, begitu mobil pertama meluncur dari garis start, jalanan akan tertutupi oleh debu yang membumbung ke udara selama kurang lebih dua menit. Hal ini tentu tidak menguntungkan bagi pebalap berikutnya yang start di posisi dua, tiga, dan seterusnya. Mereka tidak dapat melihat lintasan dengan jelas.

Mengetahui hal ini, pebalap Lancia tidak hilang akal. Caranya? Satu menit setelah pebalap pertama Audi meluncur dari garis start, pebalap Lancia berpura-pura mengalami gangguan teknis, seperti sabuk pengaman yang tidak berfungsi, pintu mobil yang tetiba macet, atau mobil yang susah dinyalakan. Hal itu tentu memperpanjang waktu start. Dan pada saat ‘kendala’ itu terselesaikan, debu tebal sudah menghilang. Dan 037 yang dipiloti Alén dan Röhrl pun melejit.

Walter Röhrl tak terkejar
  1. Romantika Röhrl dan 037

Lalu, semuanya bergantung pada kemampuan para pebalap masing-masing. Dan meski terkesan ‘malas-malasan’ bertanding, Walter Röhrl adalah pebalap luar biasa. Ia dan Lancia 037-nya ibarat Romeo dan Juliet yang tak terpisahkan. Röhrl yang saat itu berusia 26 tahun mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi yang terkendali. Ia melibas ratusan tikungan dengan mulus seperti menari-nari.

“Itu seperti mimpi. Lancia 037 ku melakukan semua yang saya perintahkan. Jika saya berpikir ingin memotong tikungan ini dengan kecepatan sekian dari jarak sekian, maka mobil saya akan melakukannya. Seperti mengalir. Tidak ada yang dapat mengalahkan saya saat itu,” kenang Röhrl.

Walter Röhrl dan co-driver-nya, Christian Geistdörfer memenangi etape San Remo, Italia, 1983
  1. Juara!

Dengan perpaduan yang demikian harmonis, Röhrl dan co-driver-nya, Christian Geistdörfer, pun memenangi 33 dari 58 etape. Pebalap Lancia finish satu, dua, dan tiga di San Remo. Pabrikan asal Torino, Italia, itu pun menjadi juara konstruktor pada WRC 1983. David telah mengalahkan Goliath.

Itu adalah terakhir kalinya mobil 2WD dapat mengalahkan mobil 4WD di WRC. Selanjutnya, seluruh mobil yang bertarung di reli dunia dilengkapi dengan teknologi berpenggerak empat roda. Di tahun-tahun mendatang, Lancia 037 digantikan oleh Lancia HF Delta Integrale berpenggerak empat roda yang kemudian menjuarai WRC empat kali (1987, 1988, 1989, dan 1991). (Aldion)

Baca juga: Mobil Hillclimb Legendaris

Walter Röhrl di usia senja bersama Lancia 037-nya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here