Boeing 737 Max 8 Disebut tak Layak Terbang

1
Seorang pekerja memasuki pesawat Boeing 737 Max 8 di pabrik pesawat Boeing di Washington, Amerika Serikat. Dai hasil penyelidikan sementara oleh pemerintah Ethiopia, pesawat Max 8 disebut tidak layak terbang. (AP Photo/Ted S. Warren)

ADDIS ABABA, Ethiopia (Waspada): Pesawat Boeing 737 Max 8 disebut tidak layak terbang. Hal itu disampaikan oleh pemerintah Etiopia, Kamis (4/4), yang merilis laporan awal penyelidikan jatuhnya pesawat Ethiopian Airlines ET 302 pada 10 Maret lalu.

Pesawat yang diawaki oleh pilot Kapten Yared Getachew dan kopilot Ahmed Nur Mohammed Nur itu jatuh setelah enam menit terbang dari Addis Ababa. Menteri Transportasi Etiopia Dagmawit Moges dalam konferensi pers mengatakan, laporan itu tidak menyatakan ada kesalahan pada pilot dan kopilot.

Moges memaparkan, saat kejadian, fase take off berlangsung normal. “Kondisi pesawat juga bagus dan laik terbang,” ucapnya. Namun enam menit usai lepas landas dalam penerbangan menuju Nairobi, Kenya, dia menyatakan hidung pesawat berulang kali berusaha menukik.

Saat hidung terus menurun itulah, Moges menjelaskan Getachew dan kopilotnya telah menjalankan prosedur yang diberikan oleh Boeing. “Kru berusaha menjalankan instruksi yang diberikan Boeing berulang kali. Namun, mereka tidak berhasil menguasai pesawat,” terang Moges.

Puing-puing pesawat Boeing 737 Max 8 milik Ethiopian Airlines yang jatuh. (AP Photo/Mulugeta Ayene)

Diketahui, sistem The Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS) yang disematkan pada pesawat 737 Max 8 didesain untuk menurunkan hidung pesawat jika mendeteksi kemacetan atau pesawat kehilangan daya. Tim penyelidik Ethiopia tidak secara spesifik menyebut MCAS, namun mereka merekomendasikan Boeing agar meninjau ulang ‘sistem kendali penerbangan’, Mereka juga meminta agar pihak penerbangan terkait memverifikasi masalah-masalah yang ada secara mendalam sebelum memperbolehkan Max 8 kembali mengudara.

Sebelumnya, mengutip sumber penerbangan, Boeing 737 MAX 8 mengalami kerusakan sensor angle of attack yang dipicu burung atau benda asing. Kerusakan itu menyebabkan kesalahan data dan mengaktifkan sistem anti-stalling yang membuat hidung pesawat terus menukik saat lepas landas.

Pesawat Ethiopian Airlines jatuh dan menewaskan 157 orang di dalamnya. Dalam detik-detik terakhir sebelum jatuh, pilot sempat meneriakkan, “Angkat, angkat,” mengacu pada menukiknya pesawat, sebelum komunikasi terputus.

“Apa yang spesial dari kasus ini adalah, dua kecelakaan ini sangat serupa,” ujar David Hasse, seorang analis dan editor publikasi penerbangan Airliners.de di Berlin, Jerman, mengacu pada kecelakaan pesawat Lion Air JT610 yang jatuh Oktober lalu. “Kejadian seperti ini sangat jarang terjadi di dunia penerbangan. Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah Boeing 737 Max seharusnya dilarang terbang setelah jatuhnya Lion Air atau sebelum jatuhnya Ethiopian Airlines,” tambahnya. (AP/And)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here