Tun Mahathir: Lawan Neo Kolonialisme

0

KUALA LUMPUR (Waspada): Perdana Menteri Malaysia Tun Dr Mahathir Mohamad menegaskan Uni Eropa sangat diskriminatif dan memancing kemarahan Indonesia dan Malaysia dengan kebijakan melarang penggunaan minyak sawit yang menjadi andalan kedua bangsa dalam menghasilkan devisa dan membuka lapangan kerja.

Uni Eropa sangat tidak adil dan putusannya tidak mendasar. Pertama, karena kebijakan itu tidak bermoral, sama saja negara kaya menginjak-injak negara miskin. Ini sama dengan penjajahan gaya baru, neo kolonialisme. Harus dilawan. Kedua, tidak benar budidaya sawit mengakibatkan deforestasi penebangan hutan merusak lingkungan dan mengakibatkan perubahan iklim. ‘’Terbukti negara kita masih hijau, orangutan masih banyak di Malaysia, juga di Indonesia,’’ kata Mahathir menjawab pertanyaan Waspada di kantornya kompleks pemerintahan Putra Jaya, Senin (1/4).
Menurut Mahathir, sikap Uni Eropa harus dihadapi bersama. Kita (Malaysia dan Indonesia) harus kuat dan kompak melakukan perlawanan bersama dengan membuat strategi melakukan serangan balik, termasuk bila perlu memboilot produk negara Eropa jika mereka memancing perang dagang.
Malaysia, ujar Mahathir, sudah menyatakan akan membeli pesawat tempur dari China saja yang kualitasnya juga baik. Tidak lagi membeli pesawat buatan Eropa jika Uni Eropa tetap pada sikap diskriminatifnya tersebut.
Kepada Waspada Mahathir membocorkan informasi kalau kebijakan seperti itu–ancaman tidak membeli pesawat buatan Eropa–telah membuat pemerintah Perancis berpikir ulang dan mulai melemah. Terbukti mereka sudah menyatakan bersedia barter, Malaysia beli pesawat tempur dengan pembayarannya ditukar minyak sawit.
Yang pasti, menurut Mahathir, minyak sawit jauh lebih menguntungkan ketimbang minyak dari tanaman biji bunga matahari atau kedelai dll, sama-sama membuka lahan untuk perkebunannya. Tapi, sawit cukup sekali tanam kita tinggal panen dan kait buahnya hingga 25 tahun lamanya, tidak demikian dengan tanaman bunga matahari yang tiap tahun harus ditanam, mereka cost produksinya tinggi, tidak bisa bersaing dengan tanaman sawit kita.
Oleh karena itu, Indonesia sebagai negara terbesar no 1 penghasil sawit dunia, dulu Malaysia yang nomor 1 kini sudah no 2, kita harus sama-sama berjuang melakukan perlawanan dalam hal kebijakan atau putusan diskriminatif Uni Eropa yang merasa paling benar sehingga membuat putusan diskriminatif. Padahal, kalau mau jujur, hutan di negara-negara Eropa yang sudah habis, terbukti di sana (Jerman) sudah tidak ada hewan serigala liar, sementara orangutan masih banyak hidup di negara kita.
Disebutkannya Malaysia saat ini tengah merancang berbagai kebijakan, di antaranya melakukan kampanye lingkungan hidup dengan membuat film dokumenter sebagai propaganda positif untuk menunjukkan kawasan hijau kepada dunia infernasional, Indonesia juga mesti melakukan hal yang sama untuk mengubah sikap diskriminasi Uni Eropa. Untuk itu komunikasi harus terus jalan, tapi jika mereka tetap melakukan kebijakan memancing perang dagang dengan memboikot produk minyak sawit dan turunannya, maka kita juga bisa melakukan hal serupa melakukan perlawanan yang disebut perang dagang, terkait komoditi ekspor masing-masing negara, namun hingga saat ini kita masih belum melakukan boikot pada produk Uni Eropa walaupun kebijakannya sangat tidak adil melarang penggunaan minyak sawit untuk industri.
Seperti diberitakan, akhir bulan Maret lalu Komisi Eropa menyimpulkan budidaya kelapa sawit menghasilkan deforestasi yang berlebihan dan penggunaannya sebagai bahan bakar sarana transportasi harus dihentikan hingga tahun 2030. Sikap Uni Eropa yang semakin memusuhi minyak sawit adalah upaya untuk melindungi komoditas alternatif yang diproduksi sendiri oleh negaranegara Eropa. Mereka melakukan hal semacam ini untuk memenangkan perang dagang adalah tidak fair, sangat merugikan perekonomian negara kita, maka neo kolonialisme tersebut harus ditentang, demikian Mahathir dalam wawancara khusus Waspada di ruang kerjanya yang luas dan nyaman.(tim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here