Diaspora Bantu Alih Teknologi Kemaritiman di Indonesia

0

JAKARTA (Waspada): Indonesia sangat membutuhkan Sumber Daya Manusia (SDM) untuk sektor kemaritiman.  Hal itu seiring dengan rencana pemerintah Indonesia dalam memenuhi target luasan konservasi laut sebesar 30 juta Ha.

“Namun, perlu dibekali dengan kompetensi masa depan, khususnya penguasaan aplikasi bioteknologi dalam
restorasi ekosistem pesisir, habitat ikan dan biota yang sudah punah, sehingga upaya rehabilitasi juga tercapai. Kemungkinan kebutuhan lulusan SDM Prodi Manajemen Sumberdaya Perairan dalam konservasi laut juga perlu dikaji, khususnya kurikulum yang berlaku secara nasional,” kata Direktur Jenderal Sumber Daya Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan Tinggi Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti), Prof Dr Ghufron Mukti saat membuka seminar internasional Relevansi Pengembangan Sumber Daya Manusia Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan Tinggi Terhadap Pembangunan Sektor Kemaritiman, di Hotel Century Jakarta, Senin (15/4).

Pada transportasi laut, diperlukan pembentukan pendidikan vokasi baru di bidang kepelabuhanan dan bidang logistik maritim. Tak hanya itu, diperlukan juga penguatan pendidikan vokasi kedinasan di sektor pelayaran. Sementara program afirmasi pendidikan untuk penguatan sektor transportasi laut di 8 wilayah propinsi kepulauan juga dibutuhkan guna percepatan pembangunan konektivitas untuk wilayah kepulauan dalam dan antar propinsi kepulauan tersebut.

“Hal ini menjadi kebutuhan yang sangat mendesak. Tapi kita tentu saja harus tetap mengutamakan mutu lulusan, bukan hanya jumlahnya,” kata Ghufron.

Diakui Ghufron, saat masih ada gap antara pendidikan tinggi dengan kebutuhan industri. Kondisi itu tidak hanya ada di kemaritiman bahkan terjadi di seluruh sektor pembangunan seperti pendidikan, kesehatan, infrastruktur dan pangan.

Dalam bidang pembangunan infrastruktur misalnya, terdapat kesenjangan antara penyediaan sarjana teknik di 15 bidang Ilmu yang terbatas (antara 17.550 tahun 2016 hingga 27.087 tahun 2024) dengan kebutuhan yang besar untuk pembangunan infrastruktur (antara 26.340 tahun 2016 hingga 182.658 tahun 2024).

Hal yang sama terjadi pada sektor kesehatan. Pada sektor kesehatan sebaran populasi dokter yang tidak merata. Jumlah bidan per 100.000 penduduk adalah 163 dari target nasional 108 tahun 2016. Untuk rasio perawat rasio per provinsi adalah 1:588 penduduk per 100.000 penduduk dengan target nasional 166,8 orang.

Sementara pada sektor pendidikan, prediksi kebutuhan guru SMA dalam kurun waktu 2017-2024 meningkat dari 6.180 menjadi 11.814, guru SMK dari 8.235 menjadi 13.674, guru SMP 13.200 menjadi 26.200, sedangkan untuk guru SD kebutuhan sampai dengan tahun 2022 belum diperlukan, namun pada tahun 2024 dibutuhkan guru SD sebanyak 9.803 guru.

Untuk itu,  Ghufron mengakui telah merampungkan Rencana Induk Pengembangan Sumber Daya Manusia Iptek dan Dikti di 5 Sektor, yaitu sektor pembangunan infrastruktur, pendidikan, kesehatan, pertanian dan pangan serta sektor kemaritiman.

“Kami mengakui ternyata dari kelima sektor itu menemukan gap atau kesenjangan antara supply SDM di pendidikan tinggi dengan kebutuhan dalam dunia Industri,” kata Ghufron.

Hutomo Suryo Wasisto, seorang diaspora dari Jerman yang jadi salah satu pembicara dalam seminar mengatakan, dia kini tengah berusaha meningkatkan percepatan alih tekhnologi bidang nanoteknologi di kemaritiman. Karena itu dia tengah giat melakukan riset bersama sejumlah perguruan tinggi ternama di Indonesia terkait apa yang dapat dikembangkan dalam menunjang infrastrukrur kemaritiman di Indonesia.

“Banyak industri nanoteknologi yang dapat dikembangkan di kemaritiman, misalnya teknik pembuatan kapal berbasis nanoteknologi. Dimana bahannya terbuat dari lapisan tipis tapi memiliki kekuatan super bahkan sampai 200 kali lebih kuat. Banyak lagi yang lainnya,” ujar pria 32 tahun yang akrab disapa Ito ini.

Indonesia masih belum berbicara banyak pada Industri Nanoteknologi dunia. Padahal, Nanoteknologi sebenarnya bukan lagi menjadi barang atau teknologi baru. Segala jenis keluaran Nanoteknologi saat ini bisa kita temui dengan mudah di pasaran, mulai dari pelindung pada sepatu, perawatan otomotif atau kendaraan, hingga nanoteknologi yang pemanfaatannya pada dunia kesehatan.

Ito berharap, pelan tapi pasti akan terurai persoalan kesenjangan jumlah dan mutu lulusan teknologi kemaritiman di Indonesia. Dia sendiri mengaku sangat bangga dengan kekayaan sumber daya alam laut di Tanah Airnya.

“Kekayaan alam ini harus dikelola anak bangsa,” kata Ito.

Ito merupakan salah satu bagian dari keluarga besar ilmuwan diaspora Indonesia yang digagas oleh Kemenristekdikti sejak tahun 2016. Melalui program tersebut, kami merangkul anak-anak bangsa Indonesia yang berkarier sebagai ilmuwan di luar negeri untuk bersama-sama berkolaborasi dengan ilmuwan Indonesia. (dianw/C).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here