Cynthia Hadita, Si Penggagas Zakat Untuk Anak Bangsa

0

CYNTHIA Hadita, 22, tidak mengira gagasan yang ia tuangkan dalam sebuah makalah ternyata bisa membantu mengurangi beban utang negara. Wacana itu mengemuka saat beberapa orang profesor sebagai penguji bertanya kepadanya mengenai gagasan tentang zakat yang ia paparkan, dan dia menjawab: “saya berkeyakinan profesor, ide zakat ASN ini, bisa meringankan utang negara kita”.

Lalu, Cynthia Hadita pun membeberkan tiga konsep penopang jawabannya yang ia torehkan di dalam makalahnya berjudul: Optimizing The Management of Zakat Civil State Apparatus in Poverty Alleviation (Optimalisasi Zakat Aparatur Sipil Negara Guna Pengentasan Kemiskinan) tersebut.

Tiga konsep itu adalah kolektif-kolegial, ekonomi berbagi (sharing economy) dan bantuan sosial yang dapat memberikan keuntungan bagi negara. Tim seleksi tidak berhenti di situ. Cynthia harus mengikuti tes kepribadian. Seorang penguji bertitel doktor memberikan materi interview bersifat mendalam. Cynthia pun diminta menyampaikan gagasannya itu ke dalam bahasa Inggris dengan baik.

Setelah melewati meja tes tim seleksi dan dikuatkan dengan kedalaman argumentasi untuk mempertahankan gagasannya itu, ia akhirnya dinyatakan keluar sebagai juara I dalam pemilihan mahasiswa berprestasi (Pilmapres) tahun 2018 tingkat Kopertis Wilayah I Sumatera Utara yang kini berubah nama menjadi Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (L2Dikti) Medan. Ia langsung bertekuk sujud di hadapan Sang Maha Kuasa.

“Saya bersyukur bisa memberikan sumbangan pemikiran tentang pentingnya zakat aparatur sipil negara (ASN) untuk bangsa ini yang sedang giat-giatnya membangun SDM yang kompetitif dan inovatif, maka saya sampaikan sekaligus pada ajang Pilmapres,” katanya di Kampus Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Jalan Kapt. Mukhtar Basri Medan, Sabtu (13/4), mengulang pengalamannya dalam meraih mahasiswa berprestasi tingkat L2Dikti sekaligus memberi motivasi generasi muda untuk lebih kompetitif.

Tentu prestasi yang ia raih tidak mudah. Cynthia mengaku lama mempersiapkan diri, mengikuti bimbingan dari dosen yang telah disiapkan setiap saat mendampinginya. Dukungan fasilitas kampus dan nilai-nilai agama tidak kurang ia terima, juga doa orangtua yang membuat cita-cita menjadi mahasiswa terbaik tingkat PTS di Sumatera Utara bisa diraih dengan semangat pantang menyerah.

Mahasiswa Fakultas Hukum yang saat itu duduk di Semester VI berpendapat bahwa pada gagasan konsep zakat ASN secara kolektif-kolegial mengandung makna pengoptimalan dalam pengumpulan zakat.

Upaya yang dilakukan Cynthia dengan cara memanfaatkan institusi di setiap kantor pemerintahan. Zakat yang terkumpul di masing-masing unit kerja ASN disalurkan ke Badan Amil Zakat Daerah dan Nasional (Baznas). Selama ini masing-masing ASN masih menyalurkan zakat kepada pihak Amil Zakat lingkup terbatas.

Pengumpulan zakat secara kolektif-kolegial dari ASN, menurut anak kedua dari dua bersaudara yang bercita-cita ingin menjadi dosen ini, tentu harus didukung kebijakan yang tegas dari penguasa di daerah sehingga fungsinya efektif dalam menghimpun potensi zakat ASN yang luar biasa besar untuk mengatasi kemiskinan yang jika kemiskinan terus-menerus dibiarkan berdampak pada rendahnya kualitas SDM.

Cynthia ingin masalah problem ekonomi dan sosial bangsa ini tidak lagi menjadi beban pemerintah semata yang terkadang pusing tujuh keliling harus mencari dana talangan untuk menanggulanginya.

Menurut Cynthia, potensi zakat ASN yang dapat dihimpun mencapai Rp137 triliun pertahun. Capaian angka itu, katanya, merujuk pada survei Bank Pembangunan Islam (IDB) yang selama ini konsern dalam penghimpunan zakat di sejumlah negara mayoritas muslim.

Di hadapan tim seleksi Pilmapres ketika itu, Cynthia memaparkan, dia mengutip beberapa penelitian yang menyebutkan zakat berpotensi mengatasi 11 dari 17 tujuan dengan 169 capaian dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Suistainable Development Goals/SDGs) yang ditetapkan PBB di antaranya, yakni pengentasan kemiskinan dan penguatan sumber daya manusia (SDM).

Masih gagasan Cynthia, mengenai konsep kedua ekonomi berbagi dalam zakat maknanya bahwa pemberian zakat tidak lagi dalam bentuk barang konsumtif tetapi bersifat produktif sehingga ke depan penerima zakat sudah dapat beralih menjadi pemberi zakat kepada yang membutuhkan.

Muara pada konsep pemikiran terakhir, menurut pemikiran Cynthia, zakat ASN memberi keuntungan bagi negara karena zakat menjelma menjadi bantuan sosial yang bidikan utama adalah pendidikan.

Cynthia yakin dan optimis ketiga konsep dalam pengembangan zakat ASN yang sekira terealisasi akan mengangkat SDM yang kompetitif, inovatif dan berkarakter. Tentu sasarannya pada masyarakat yang berasal dari golongan tidak mampu dan yang berhak menerima zakat seperti yang diatur dalam Islam.

Pengoptimalam zakat ASN tentu harus diikuti dengan penguatan peran Baznas. Lembaga itu tidak hanya berfungsi mengumpulkan dan menyalurkan zakat tetapi melakukan pelatihan kepada masyarakat penerima.

Cynthia mampu meyakinkan dewan juri ketika itu bahwa contoh pelatihan yang dilakukan Baznas menjadikan generasi muda dari golongan tidak mampu menjadi seorang entrepreneurship yang tangguh.

Melalui upaya yang dilakukan itu, lanjut Cynthia, maka generasi muda dapat berkompetisi dengan pengusaha-pengusaha yang sudah ada. Dengan demikian pemerintah akan terbantu dalam mewujudkan SDM kompetitif, inovatif dan berkarakter, salah satunya menciptakan generasi entrepreneur dari kalangan masyarakat kurang mampu.

Secara otomatis gagasan zakat ASN yang dicetuskan oleh Cynthia dapat menekan beban sosial dan utang negara. Sayangnya, gagasan Cynthia harus kandas pada kompetisi Pilmapres oleh Kemenritekdikti di tingkat nasional.

Cita-cita anak yang dibesarkan dari keluarga Polri dan ibu yang berprofesi sebagai ASN ini, harus terhenti di jenjang finalis yang diikuti puluhan duta dari perguruan tinggi di Indonesia. Begitupun sang ayah Aiptu A. Hadi dan Ibu Masitah, S.Sos seorang kepala lurah, mendorong Cynthia tetap melakukan yang terbaik pada bangsa ini.

Ternyata Cynthia telah menjalankan konsep dalam pemikirannya yang ada di makalah tersebut. Pertama, dia mempraktikkan langsung dengan memberikan zakat kepada penerima perorangan dan dalam bentuk konsumtif bukan produktif.

Hasilnya kurang efektif dan tidak menyentuh apa yang kita inginkan. Kedua, menurut penuturan Cynthia, dia telah mengajak kedua orangtuanya untuk membayar zakat secara kolektif-kolegial demi mewujudkan SDM anak-anak bangsa yang kompetitif, inovatif dan berkarakter yang dibangun berdasarkan rasa kepedulian antar sesama.

Meski tahun ini telah mengakhiri studi Strata-1 Ilmu Hukum dan dilantik sebagai wisudawati dari kampus UMSU yang telah terakreditasi A dan memperoleh IPK 3,80, Cynthia tidak kenal lelah memperjuangkan gagasan zakat ASN agar diimplementasikan oleh pemerintah.

Cynthia terus mempresentasikan pemikirannya agar ditindaklanjuti ke dalam sebuah kebijakan di daerah. Sebagai generasi muda, dia ingin sekali dalam hidupnya melihat gagasannya diterapkan pada ASN di Pemerintah Kota Medan dan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.

Prestasi Cynthia ini juga menggema saat Rektor UMSU Dr Agussani, MAP melantik dan menyerahkan ijazahnya pada 23 April 2019 bersama 24 mahasiswa berprestasi tingkat regional, nasional dan internasional pada suatu acara wisuda yang diikuti 2.283 orang lulusan dari berbagai fakultas. Para lulusan yang diwisuda memberikan apresiasi tepuk tangan.

Kepala L2Dikti Medan Prof Dian Armanto, Phd mengharapkan muncul figur Cynthia-Cynthia baru dari kampus-kampus sehingga mampu menginspirasi generasi muda untuk memberikan yang terbaik bagi kemajuan Indonesia yang dilandasi atas rasa kepedulian antar-sesama anak bangsa. Semoga!

*Muhammad Thariq, wartawan Harian Waspada

*Tulisan ini diikutkan dalam lomba karya jurnalistik dalam rangka memperingati Hardiknas oleh Kemenristekdikti

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here