Liputan Khusus: Mengungkap Fakta Dari Sungai Batang Toru

0
Model kolam tandon harian PLTA Batangtoru.

Baru-baru ini, selama 4 hari, Tim Wartawan Harian Waspada Medan melakukan tugas jurnalistik di kawasan Sipirok, Marancar dan Batang Toru (Simarboru) Kabupaten Tapanuli Selatan. Selain melakukan pengamatan lapangan langsung, tim bertemu dengan petani, tokoh masyarakat/tokoh adat dan sejumlah pengamat serta peneliti. Tujuan Tim Waspada ke sana untuk mengungkap fakta seputar isu kepunahan Orangutan yang disuarakan sejumlah LSM asing dan LSM lokal mitranya, dalam upaya mereka membatalkan PLTA Batangtoru, yang merupakan proyek strategis nasional (PSN) di era pemerintahan Presiden RI Joko Widodo.

Berikut liputannya:

Masyarakat Simarboru Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara akhirnya gerah juga. Batas kesabaran mereka sudah memuncak ketika sejumlah LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) asing, dibantu LSM lokal, tak henti-hentinya memberikan citra buruk terhadap kampung mereka, dengan membawa isu Orangutan dan isu lingkungan untuk kampanye hitamnya (black campaign).

Diketahui, LSM asing yang gencar melakukan kampanye dengan isu Orangutan dan lingkungan adalah PanEco, sebuah LSM yang berpusat di Swiss. PanEco bekerjasama dengan YEL (Yayasan Ekosistem Lestari) yang berpusat di Medan, Sumatera Utara, dan menggandeng beberapa LSM lokal lainnya.

PanEco dan YEL kemudian juga bekerjasama dengan Mighty Earth, LSM yang bermarkas di Washington DC, Amerika Serikat. Tampaknya ada “kepentingan” Eropa dan Amerika dalam kampanye mengangkat isu Orangutan dan kerusakan lingkungan di Batangtoru ini.

Melihat begitu gencarnya LSM asing keluar-masuk kawasan Simarboru, untuk melakukan kampanye hitam, dengan memanfaatkan isu kepunahan Orangutan, kerusakan lingkungan dan isu bahaya gempa di sekitar PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air), telah menimbulkan “kejengkelan” masyarakat di daerah itu. PLTA yang merupakan bagian implementasi dari komitmen Pemerintah Indonesia untuk mengurangi emisi karbon, mendapat serangan dari segala “penjuru angin” oleh LSM asing dan LSM lokal itu.

Isunya macam-macam. Mulai dari isu kepunahan Orangutan, isu tenggelamnya kampung penduduk, tenggelamnya sawah petani, isu keringnya sawah petani, hingga isu proyek itu dibangun di pusat gempa.

Para tokoh masyarakat di Simarboru kemudian bereaksi, mereka telah bersiap-siap akan bertindak “keras” kepada para aktivis LSM asing dan LSM lokal, yang coba-coba melakukan provokasi kepada warga mereka. Bahkan, warga sudah melakukan aksi massa di sekitar jembatan Trikora Batangtoru, dan di beberapa titik pintu masuk ke Simarboru, untuk menghadang dan menolak kehadiran rombongan LSM asing itu masuk ke kampung mereka.

“Kalau mereka, para LSM itu terus melakukan kampanye hitam, agar PLTA ditutup, itu namanya mereka telah memusuhi masyarakat Simarboru. Andai mereka (LSM) masuk ke wilayah Simarboru, jelas akan kami usir. Kami semua sudah kompak,” kata Abdul Gani Batubara, Tokoh Masyarakat Desa Pulo Mario, Kecamatan Sipirok, dalam wawancara dengan Tim Waspada di Sipirok, Rabu 1 Mei 2019.

“Jangan lagi menyebarkan informasi yang salah. Kalau LSM itu tidak setuju, mari berdialog. Bertemu dengan masyarakat di sini. Jumpai kami di sini. Tapi jangan menyebarkan informasi yang salah lagi,” kata Raja Luat Sipirok gelar Sutan Parlindungan Suangkupon, Edward Siregar, ketika menerima Tim Waspada di Sipirok. Dia didampingi Abdul Gani Batubara.

Edward Siregar.

Tim Waspada, awal Mei 2019, melakukan penelusuran untuk mengungkap fakta atas laporan-laporan terkait dengan habitat Orangutan di Batangtoru, sebagaimana disuarakan PanEco/YEL dan LSM mitranya tersebut.

Sebelum menyusuri perjalanan dari Sipirok, tim terlebih dahulu bertemu dengan M.Nasir Siregar. Dia adalah pengawas hutan yang bekerja sebagai Tenaga Pengawas Hutan dan Lainnya (TPHL) pada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) di Sipirok. Dari pria berusia 40 an ini, tim mendapat banyak informasi, fakta dan data.

Sebagai Tenaga Pengawas Hutan dan Lainnya (TPHL) Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) di Sipirok, salah satu tugas Nasir Siregar adalah mengawasi Orangutan. Nasir bahkan mengaku, pernah setahun berada di dalam hutan terus-menerus, tanpa keluar, hanya untuk mengamati wilayah jelajah dan perilaku Orangutan.

Menurut Nasir, sepanjang dia melakukan pengawasan Orangutan selama 15 tahun, sejak tahun 2000, dalam catatannya jumlah Orangutan kurang dari 600 individu. Itu pun sudah meliputi keseluruhan kawasan hutan Batangtoru yang mencakup Kabupaten Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah dan Tapanuli Utara.

“Di hutan Sibual-buali ada sekitar 20 – 21 individu Orangutan, di hutan Lubukraya 8 individu, dan di blok Sipirok (Sarulla hingga Pahae, Tapanuli Utara) ada sekitar 80 individu. Kalau menurut perhitungan kami, di Blok Batangtoru untuk keseluruhan wilayah, hingga ke Kabupaten Tapanuli Tengah dan Tapanuli Utara, hanya sekitaran 370 – 400 individu,“ kata Nasir Siregar.

Jumlah ini tentu terpaut jauh. Sebelumnya PanEco dan YEL, telah menyebutkan bahwa jumlah Orangutan mencapai 800 individu, dan itu berada di sekitar proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batangtoru.

Jumlah 800 individu itu lah yang kemudian menjadi “amunisi” kampanye LSM asing ke dunia internasional, dalam upayanya untuk “mengganggu” dan menggagalkan pembangunan proyek strategis nasional (PSN) di era pemerintahan Presiden Joko Widodo ini.

Nasir Siregar menyebut jumlah 800 itu sebagai tidak mungkin. Nasir sendiri adalah termasuk orang yang sejak awal menyuarakan tentang terancamnya habitat Orangutan di Batang Toru, terkait aktifitas pembukaan lahan perkebunan dan adanya pembangunan infrastruktur. Namun Nasir tetap bersikap objektif dalam mengungkap fakta dan data.

“Kalau di sekitar Batangtoru saja tidak mungkin sebanyak itu,” kata Nasir Siregar. Menurut Nasir, sangat tidak akurat bila menghitung jumlah Orangutan hanya berdasarkan jumlah sarangnya.

“Saya bisa pastikan, satu Orangutan setiap hari membuat sarang minimal 2 sarang. Satu untuk pagi hingga siang, dan satu untuk sore hingga malam. Dan bila di musim hujan, satu Orangutan bisa membuat hingga 4 sarang setiap hari,” lanjut Nasir.

Nasir Siregar dan temannya, Amet P Harianja, adalah orang yang paling tahu tentang kondisi hutan di Batangtoru. Mereka berdua sudah keluar masuk hutan Batangtoru selama bertahun-tahun. Bahkan setiap LSM yang melakukan riset dan penelitian ke kawasan itu, selalu menggunakan jasanya sebagai pendamping dan penunjuk jalan. Bahkan LSM itu menggunakan sebagian data-data yang dimiliki Nasir. Makanya dia menjadi heran, bila kemudian beberapa LSM tersebut mengklaim bahwa jumlah Orangutan di sekitar PLTA Batangtoru mencapai 800 individu.

Wanda Kuswanda, peneliti pada Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Aek Nauli, menyebutkan, dari hasil risetnya selama 13 tahun secara periodik, melalui berbagai analisis dan terus-menerus, pada akhir tahun 2018 setelah menghitung semua data, mendapatkan angka 495 hingga 577 individu. Dalam artian, jumlah itu untuk seluruh kawasan hutan Batang Toru, yang meliputi Kabupaten Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah dan Tapanuli Utara.

Pada Laporan Sintesa Hasil Penelitian: Up Date Potensi Habitat dan Populasi Orangutan Tapanuli, Wanda Kuswanda menyebutkan, diperoleh hasil analisis kepadatan Orangutan sebesar 0,3 – 0,78 ind/km2 di seluruh kawasan ekosistem Batangtoru. Ada pun total habitat potensial Orangutan di kawasan ekosistem itu diperkirakan 495-577 individu sekarang ini.

Ekosistem hutan Batangtoru berada di tiga kabupaten, yaitu Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Utara. Terdapat berbagai status hutan di kawasan ini, meliputi hutan lindung, hutan produksi, hutan konservasi, dan areal penggunaan lain (APL). PLTA Batangtoru sendiri menggunakan lahan APL, yang lahannya digantirugi dari masyarakat.

Luas ekosistem hutan Batangtoru sekitar 275 ribu hektare. Tetapi yang masih memiliki tutupan hutan alam yang masih terjaga diperkirakan 140 ribu hektare. Menjadi catatan penting, tidak semua kawasan ekosistem Batangtoru merupakan habitat Orangutan, diperkirakan sebaran habitatnya tersisa di area seluas 134.431 hektare.

Tapi berapakah sebenarnya jumlah Orangutan yang hidup di sekitar proyek PLTA Batangtoru? “Pada riset tahun sebelumnya, sebelum proyek PLTA itu ada, kita memprediksi antara 6 sampai 8 individu Orangutan, yang menggunakan areal jelajahnya itu di sekitar proyek PLTA,” kata Wanda.

Sementara itu, laporan lain menyebutkan, Orangutan yang sebelumnya berada di zona inti habitat, yang sekarang menjadi areal pertambangan emas, sejak kawasan itu dibuka untuk tambang emas, kemudian berpindah ke arah atas (hulu). “Orangutan dari daerah tambang itu ngumpul ke daerah ini, di Blok Sitandiang. Diperkirakan ada 15 individu. Ditambah di seberang sungai, sekitar 10 individu,” kata Siagian, seorang petani di Desa Bulu Mario, Sipirok, yang mengaku sering masuk ke hutan.

Maraiman Nasution, seorang Tokoh Masyarakat Desa Huraba, Kecamatan Marancar, mengungkapkan keheranannya, mengapa LSM asing dan LSM lokal itu merasa keberatan dengan pembangunan PLTA, padahal masyarakat sendiri merasa bersyukur. Menjawab pernyataan terkait PanEco dan YEL yang menyebutkan ada 800 individu Orangutan di sekitar PLTA Batangtoru, Maraiman Nasution tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia mengaku, dahulu pernah mendampingi sebuah LSM dari Medan, untuk membantu mereka memasang kamera pengintai Orangutan.

Dusun Sitandiang.

“Selama 3 bulan mereka memasang kamera, tidak satu pun orangutan terlihat. Bagaimana mereka mengatakan ada 800 individu Orangutan di sekitar Batangtoru. Kalau benar ada 800, harusnya saya tiap hari bisa melihat Orangutan, sebab tiap hari saya ke kebun yang bersebelahan dengan areal proyek PLTA itu,” tegas Maraiman Nasution.

Tentang Sumber Air untuk Sawah

Kebohongan lain yang disuarakan adalah tentang isu adanya ancaman kekeringan terhadap areal persawahan petani dan tenggelamnya perkampungan penduduk di sekitar proyek PLTA Batangtoru.

Padahal sungai Batangtoru posisinya berada di bagian paling bawah (paling rendah), dan justru air bekas dari sawah para petani dan dari perkampungan penduduk lah yang mengalir dan ditampung Sungai Batangtoru.

“Sungai Batangtoru setahu saya tidak dipakai untuk pengairan pertanian di sini, apalagi untuk sawah. Karena sawah petani berada di atas, sedangkan Sungai Batangtoru di bawah. Justru air dari sawah petani yang mengalir ke Sungai Batangtoru. Tapi kalau di hilirnya mungkin (sudah dekat Sibolga), tapi itu pun di bagian hilir sudah menjadi lahan sawit,” kata Abdul Gani Batubara, Tokoh Masyarakat di Bulu Mario, Sipirok.

Ida, seorang petani di Hapesong, Batangtoru, juga mengatakan, pengairan ke lahan sawahnya bukan berasal dari sumber air Sungai Batangtoru, tapi dari sumber air yang ada di bukit yang posisinya di atas sawah mereka. “Sungai Batangtoru kan rendah, tapi kalau air dari sawah ini memang nanti jatuhnya ke Sungai Batangtoru,” ujarnya.

Menurut Nasir Siregar, di bagian hilir Sungai Batangtoru, yang disebut sebagai blok Barat, dahulunya adalah lokasi habitat Orangutan yang paling banyak. “Blok Barat sana sudah habis hutannya dibabat, sekarang jadi kebun sawit. Ke mana lembaga-lembaga itu, mengapa mereka kok diam saja. Jauh lebih parah kondisi di sana. Di sana itu habitat Orangutan paling luas, termasuk harimau. Sekarang sudah habis, hilang,” ujar Nasir Siregar.

Muhammad Nasir Siregar.

Pada kesempatan itu, Nasir bersama temannya Harianja, membawa Tim Waspada ke suatu bukit, masih di sekitar Bulu Mario. Tidak jauh perjalanan dari Kota Sipirok, ketika akan memasuki kawasan menuju Bulu Mario, tim menemukan plang berwarna hijau, berisi penolakan warga terhadap beberapa LSM. Plang itu berdiri kokoh di dekat sebuah pos penjagaan.

Setelah perjalanan memasuki daerah Bulu Mario, di dekat koridor (penghubung) dari ladang penduduk ke hutan Sibual-buali, Nasir Siregar dan Harianja menunjuk ke arah bawah, memperlihatkan lereng-lereng bukit yang kini menjadi lahan sawah dan pertanian penduduk. Di bagian paling bawah yang terlihat hijau dan hutannya masih lebat, disebutkan Nasir sebagai Sungai Batangtoru.

“Itu lah di arah sana Sungai Batangtoru. Sawah petani kan di atas, itu bisa bapak lihat,” kata Nasir Siregar untuk memastikan argumennya kepada Tim Waspada.

“Kan tidak masuk akal kalau mereka bilang Sungai Batangtoru akan kering dan menyebabkan suplai air ke sawah petani menjadi terganggu. Padahal air Sungai Batangtoru justru sebagian berasal dari air yang mengalir dari sawah petani yang posisinya berada di atas,” kata Maraiman Nasution, ketika Tim Waspada menemuinya di Desa Huraba, Kecamatan Marancar, sekitar 50 menit dari Sipirok.

Desa Huraba, Kecamatan Marancar, posisinya berdekatan dengan lokasi PLTA yang diributkan LSM asing dan lokal itu. Termasuk kebun milik Maraiman Nasution dan AM Siregar, tak jauh dari PLTA. “Kebun saya juga ada di dekat PLTA. Saya hanya 2 kali bertemu dengan Orangutan. Kalau ada 800, tentu tiap hari saya bisa melihatnya di kebun saya,” kata Siregar.

Orangutan Bukan Tertarik dengan Sungai

Kampanye hitam lainnya adalah dengan menyebut bahwa air Sungai Batangtoru yang menjadi sumber air bagi Orangutan, akan mengalami kekeringan dan spesies Orangutan Tapanuli akan terganggu.

Pernyataan itu terbantahkan oleh hasil penelitian Wanda Kuswanda. Menurut Wanda, Orangutan tidak minum dari air sungai, tapi minum dari air yang tergenang di dahan-dahan pohon mau pun air yang tersisa di dedaunan pohon. Habitat Orangutan Batangtoru, kata Wanda, dahulunya berada di bawah 600 meter, karena di situ adanya ketersediaan tanaman sebagai pakannya. Kalau sekarang Orangutan Batangtoru berada pada kawasan habitat di atas 600 meter, itu terjadi karena pakan yang tersedia saat ini di daerah yang lebih tinggi tersebut.

Wanda Kuswanda.

“Orangutan itu turun ke pinggir sungai bukan tertarik dengan sungainya, tapi tertarik dengan pohon di pinggir sungai yang menghasilkan pakan untuk mereka. Pohon itu biasanya tumbuh di daerah yang agak lembab. Jadi kalau pohon penghasil buah yang menjadi pakannya tumbuh di atas bukit, Orangutan itu juga tentu akan berada di bukit, dekat dengan pohon buah yang menjadi pakannya,” kata Wanda Kuswanda.

“Itu mengapa kalau musim panen, Orangutan itu berada di sekitar ladang petani. Mereka akan membuat sarangnya di situ. Satu individu bisa memiliki sarang 6 sampai 10 sarang. Karena di situ ada buah sebagai pakannya, dan Orangutan akan berada di situ selama musim panen buah,” tutur Nasir Siregar.

Mengatasi Konflik Orangutan dengan Petani

Menarik untuk dicermati, setiap ada kasus Orangutan masuk ke ladang penduduk (berkonflik), dan memakan buah milik petani, Nasir Siregar lah yang akan dicari petani. “Petani ini akan mencari saya, dan bilang; itu Orangutan mu makan durian kami, petai kami. Pokoknya mereka marahnya ke saya,” kata Nasir.

Selama ini Nasir Siregar dan Harianja memang dikenal sebagai pengawas Orangutan. Mereka terkadang menyisakan sebagian gajinya untuk membeli bibit durian atau bibit petai, untuk mengganti kerugian petani, yang hasil buahnya dimakan oleh Orangutan. “Sebab petani sudah sepakat dengan kami, mereka tidak akan mengganggu Orangutan. Tapi saya harus mengganti tanaman mereka,” lanjut Nasir Siregar.

Jadi bila selama ini tanaman petani mendapat “gangguan” dari Orangutan, yang makan hasil panen buah mereka, bukan LSM itu yang datang membantu petani. “Di mana mereka itu…, LSM –LSM itu, taunya hanya ribut-ribut aja. Pak Nasir ini yang banyak membantu kami dan mengganti tanaman kami,” kata Siagian, petani yang memiliki sekitar 4 batang pohon durian di kebunnya.

Bersama tokoh masyarakat dan para petani di beberapa desa yang menjadi habitat Orangutan, Nasir Siregar dan Harianja, kini mulai melakukan pengayaan habitat, yaitu menanam pohon yang buahnya kelak bisa menjadi pakan Orangutan. Dengan banyaknya pohon, jika nanti panen, para petani bisa berbagi hasil dengan Orangutan, tanpa dirugikan.

Atas dukungan PLTA, penanaman pohon juga dilakukan di sisi kiri kanan jalan dan sungai, yang nantinya diharapkan dapat menjadi koridor (penghubung) untuk area jelajah Orangutan, dari satu daerah kawasan hutan ke kawasan hutan yang lain. “Ini sudah nyambung koridornya, sehingga nanti Orangutannya gak ngumpul di ladang petani, tapi bisa masuk ke hutan sana,” kata Nasir Siregar sambil menunjuk ke arah hutan Sibual-buali.

Wanda Kuswanda mengatakan, para pihak mestinya fokus mencarikan solusi untuk Orangutan. Untuk menyelamatkan Orangutan pada kondisi sekarang, caranya dengan membangun koridor (penghubung) antar habitat yang terisolasi. Diharapkan bisa menghubungkan blok Barat ke blok Timur dan ke Selatan.

Perlintasan Orangutan sebagai sarana jelajahnya itu memang sudah lama terputus akibat jalan dan DAS sungai Batangtoru yang lebar. Itu terjadi sudah sejak lama, bahkan sebelum ada rencana pembangunan PLTA, kata Wanda.

“Mulailah membangun koridor itu dalam konteks menghubungkan spot-spot hutan yang masih bagus. Paling prioritas adalah di blok Selatan antara kawasan hutan konservasi ke sungai Batang Toru. Karena habitatnya sudah terpecah-pecah oleh aktifitas pembukaan lahan,” kata Wanda Kuswanda.

LSM Menyebarkan Isu Gempa

Maraiman Nasution, Tokoh Masyarakat di Huraba, mengungkapkan keheranannya juga, mengapa LSM asing dan LSM lokal di Medan itu merasa keberatan dengan pembangunan PLTA, padahal masyarakat sendiri merasa bersyukur. Bahkan LSM itu menyebarkan hoax tentang ancaman gempa, dengan menyebut PLTA dibangun di atas sesar aktif.

Maraiman Nasution.

“Saya kan ikut mendampingi para ahli geologi yang melakukan riset atau penelitian tentang itu. Mereka memberi tahu saya, menunjukkan lokasinya, masih jauh dari lokasi PLTA dibangun,” lanjut Maraiman Nasution.

Kajian kegempaan di sekitar lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batangtoru dilakukan secara detail. Proses survei berjalan sangat detail sehingga hasil kajian turut merekam potensi gempa-gempa kecil yang tidak terdata oleh lembaga lain.

Ahli geologi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) yang juga Tenaga Ahli PT. North Sumatera Hydro Energy, Didiek Djawadi menyatakan, secara bertahap ada beberapa kali penelitian yang dilakukan. Pada 2012, dilakukan penelitian menggunakan georadar untuk mengetahui kondisi jalur sepanjang 13 kilometer yang akan digunakan untuk terowongan.

“Pada 2014 dilakukan untuk mengetahui gerakan-gerakan atau gempa kecil yang tidak terekam oleh BMKG. Sehingga kita tahu pola kegempaan yang ada di situ, yang gempanya kecil,” kata Didiek dalam keterangannya sebelumnya.

Didiek menegaskan, dua penelitian itu pun belum dipandang cukup karena belum tahu besaran potensi gempa yang akan terjadi. Maka itu, pada 2016 ditindaklanjuti dengan penelitian Seismic Hazard Analysis dan desain parameter untuk goncangan gempa terhadap bendungan.

Hasil penelitian-penelitian tersebut, kata Didiek, jika dirangkum didapat kesimpulan lokasi PLTA Batangtoru berada di tempat yang aman terhadap guncangan gempa. Berjarak sekitar 4,2 Km dari sesar aktif.

“PLTA Singkarak di Sumatera Barat berjarak 2 Km dari sesar aktif dan bangunannya dirancang untuk tahan gempa, sesuai besaran potensi gempa. Ketika terjadi gempa di Sumatera Barat tahun 2007, dengan magnitudo lebih besar dari prediksi, bendungan itu tidak mengalami kerusakan,” kata Didiek Djawadi.

Harapan Masyarakat Simarboru

“Dengan adanya PLTA ini, banyak warga sini yang bekerja di situ. Kami mendukung pembangunan proyek PLTA Batangtoru,” kata Maraiman Nasution.

“Kami sangat berkepentingan PLTA ini dibangun, karena dengan adanya proyek itu, tenaga kerja untuk anak-anak kami terbuka lebar. Dan sudah banyak masyarakat kami yang bekerja di situ,” kata Abdul Gani Batubara, Tokoh Masyarakat di Bulu Mario, Sipirok.

Abdul Gani Batubara.

Belakangan ini, kata Batubara, lembaga-lembaga asing itu semakin gencar berkampanye hitam untuk menggagalkan pembangunan PLTA Batangtoru. “Maka otomatis, kami pun masyarakat, akan semakin gencar pula untuk menentang dan menghalangi LSM-LSM itu,” kata Batubara.

Hal senada disampaikan pula oleh Raja Luat Sipirok gelar Sutan Parlindungan Suangkupon, Edward Siregar. Dia meminta LSM untuk berdialog dengan masyarakat Simarboru, Tapanuli Selatan. Edward Siregar meminta kepada LSM itu agar berhenti menyebarkan informasi yang tidak benar atau hoaks terkait pembangunan PLTA Batangtoru.

“Jangan sebarkan lagi informasi yang salah. Kalau tidak setuju, mari berdialog. Kita selalu terbuka. Jumpai kami, tapi jangan menyebarkan informasi yang salah,” kata Edward Siregar dalam wawancara dengan Tim Waspada di Sipirok.

“Kalau kami di Desa Pulo Mario, jelas menentang penuh upaya yang dilakukan LSM itu. Sedikit banyaknya kami tahu tentang lembaga-lembaga asing ini, seperti PanEco, Mighty Earth, YEL dan segala macam itu,” ujar Batubara.

Direktur Konservasi PanEco, Ian Singleton, PhD kepada waspadaaceh.com pekan lalu mengatakan tidak benar kalau dikatakan bahwa PanEco telah melakukan kampanye hitam.

Terkait pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batangtoru, PanEco justru berupaya memberikan berbagai masukan berdasarkan pengetahuan dan hasil kegiatan selama ini di kawasan Batang Toru. Oleh karenanya, kata Ian Singleton, PanEco pada dasarnya berkomitmen untuk bekerja sama dengan pemerintah, PT. NSHE (PLTA Batangtoru) dan para pemangku kepentingan dalam rangka memperoleh solusi untuk mitigasi atas dampak lingkungan yang mungkin terjadi.

Sementara itu Senior Adviser on Environment and Sustainability PT. NSHE Agus Djoko Ismanto menjelaskan, PLTA Batang Toru dirancang untuk melayani beban puncak dengan kapasitas 510 Megawatt (MW) yang dihasilkan dari 4 buah turbin yang digerakkan dari tenaga air dari kolam harian seluas 90 Hektare (Ha), akan menghasilkan listrik 2.124 GWh/tahun.

PLTA Batangtoru yang merupakan PSN (proyek strategis nasional) dalam pemerintahan Presiden RI Joko Widodo, keberadaannya nantinya akan mampu menghemat devisa sekitar USD 400 juta/tahun atau sekitar Rp5,6 tiliun rupiah/tahun.

“Selain penghematan devisa, PLTA Batang Toru adalah bagian dari komitmen Presiden RI dalam Paris Agreement, untuk mengurangi emisi karbon sebesar 29% pada tahun 2030. PLTA ini akan berkontribusi terhadap komitmen itu dengan mengurangi emisi karbon dioksida minimal 1,6 juta ton pertahun,” kata Firman Taufick, Vice President Communications and Social Affairs PT. North Sumatera Hydro Energy (NSHE), perusahaan yang membangun PLTA Batang Toru. (m16)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here