Mahasiswa USU Aksi Tunggal: Jangan Biarkan Rakyat Bergerak Melampaui Batas Kemanusiaan

0
Surya Darma saat melakukan orasi tunggal di depan kampus USU. Waspada/Ronggur Simorangkir

Tak henti hentinya dia menyampaikan bait bait puisi berisi kritik pada pemerintah. Bahkan suaranya sampai terdengar gemetar, menggema bak amarah. Kampus besar itu seperti gedung kosong, tak satupun penghuninya mendengar apa yang ia sampaikan. Keranda mayat dan berbagai tulisan berisi kritik menjadi simbol mati dan bungkamnya mahasiswa terhadap kondisi Bangsa yang sudah begitu memprihatinkan.

 

Rabu, (15/5), seorang mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) bernama Surya Dharma, memutuskan untuk berorasi sendiri di depan kampusnya. Ia sadar bahwa keberadaannya dirundung sepi dalam keramaian. Namun dia percaya, bahwa ada ribuan bahkan jutaan mahasiswa di luar sana ingin bersuara menyampaikan kegelisahan atas kondisi Bangsa nya.

 

Surya mengatakan, saat ini situasi kondisi Mahasiswa Indonesia dihadapkan pada tekanan tuduhan keberpihakan ataupun tuduhan ditunggangi kepentingan politik sehingga membuat mahasiswa takut bersuara. Katanya, mereka para mahasiswa sebenarnya sadar dengan kegelisahan rakyat saat ini, namun karena mereka takut dituduh timses pasangan 01 dan 02, membuat mereka tidak percaya diri menyampaikan kegelisahan, padahal di depannya ada masalah. 

 

“Saya aksi sendiri di sini, ingin menggugah hati kawan-kawan yang lain. Bahwa sebenarnya keadaan yang sulit hari ini harus kita sampaikan, jangan sampai masyarakat dengan segala kegelisahan dan kerisauannya turun ke jalan melampaui batas kemanusiaan,” kata Surya sembari berorasi.

 

Dalam orasinya Surya menyampaikan bahwa, tugas mahasiswa turun ke jalan mengambil alih semua masalah. Katanya, semua kegelisahan yang ada pada diri rakyat harus disampaikan dengan cara baik agar tidak terjadi hal hal yang di luar batas kemanusiaan.

 

Menurutnya, hari ini dirinya turun ke jalan untuk membuktikan, dan melawan opini buruk terhadap mahasiswa yang seolah mahasiswa kerap ditunggangi. Keadaan ini harus tetap kita sampaikan, apapun tantangan dan risikonya. “Kita tidak boleh terjebak dalam pertarungan kekuasaan, sebab kegelisahan rakyat bukan soal kekuasaan, tapi soal keadilan terhadap rakyat,” kata Surya.

 

Menurut Surya, cita-cita reformasi hari ini sudah jauh dari harapan, apalagi dengan kondisi demokrasi dan Pemilu kita hari ini. Banyak dugaan kecurangan yang dilakukan baik 01 dan 02 apalagi dugaan kecurangan yang dilakukan banyak anggota dewan. Mahasiswa harus ambil peran dan jangan biarkan rakyat bergerak sendiri melampaui sisi kemanusiaannya.

 

Surya sengaja mengenakan penutup wajah sebagai simbol kondisi mahasiwa yang hari ini tidak berani menyampaikan kritiknya. Katanya, nanti di akhir, jam 6 sore, dirinya akan lepaskan penutup wajah ini, sebagai wujud bahwa kita sudah terbebas dari belenggu opini yang membuat dan menekan daya kritis mahasiswa. (crds)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here