Badko HMI Sumut: People Power Gerakan Positif

0
PARA pemateri saat menyampaikan pandangannya soal people power. Waspada/Ronggur Simorangkir
PARA pemateri saat menyampaikan pandangannya soal people power. Waspada/Ronggur Simorangkir

MEDAN (Waspada): People Power adalah gerakan positif jika rakyat Indonesia sudah dalam keadaan terjepit karena tekanan ekonomi dan situasi yang tidak kondusif. Namun jika gerakan people power yang disuarakan itu bermuatan politis yang digerakkan para pendukung Pasangan Calon (Paslon) Presiden-Wakil Presiden, maka hal itu berpotensi menimbulkan perpecahan.

Hal itu disampaikan Ketua Badan Kordinasi (Badko) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Sumut, Alwi Hasbi Silalahi, di acara dialog publik yang bertemakan, people power and power people di Hotel Grand Ina, Rabu (16/5) sore.

Hasbi mengatakan, jika people power bermuatan politik itu sampai terjadi, maka yang akan rugi adalah bangsa Indonesia. Maka dari itu, Hasbi mengajak pemuda di Sumut untuk berpikir positif ke depan.

“Bagaimana positif, people power adalah kekuatan orang bagaimana membangun Indonesia ke depan, bicara soal ekonomi, apalagi zaman digital, atau era 4.0. Jadi kami mengajak masyarakat Sumut untuk lebih berpikir positif ke sana, kenapa, karena gerakan people power yang lain sarat kepentingan, ada seperti koalisi nonpartai oleh kelompok tertentu,” katanya.

Hasbi mengatakan, ada dua partai dari kubu Paslon 02 yang mulai merapat ke Presiden Jokowi, yakni PAN dan Demokrat. Ia melihat itu sebagai sinyal bahwa partai tersebut bisa menerima apapun hasil dari KPU nantinya.

“Gerakan people power itu adalah berpikir positif, bukan berpikir membuat negara ini rusuh, terombang ambing, itu membuat masyarakat bingung,” tegasnya. Sementara itu, akdemisi dari Universitas Negeri Medan, Aulia Andri, yang juga menjadi pemateri dalam diskusi tersebut mengungkapkan bahwa mahasiswa yang berada di depan saat ada people power pada 1998 lalu.

Namun menurutnya, konteks 1998 lalu dengan saat ini berbeda saat ini. “Dulu setelah pemilu 1997 ada kenaikan harga BBM, ada tuntutan reformasi yang disuarakan mahasiswa, itu pemicunya,” katanya.

Katanya, saat ini kondisinya berbeda, karena kondisi ekonomi saat ini masih stabil, ancaman tidak luas, stabilitas politik juga baik. “Disatu sisi pilpres ditolak, Pileg diterima, itu ambigu yang kemudian memecah dalam tanda kutip kekuatan dalam memicu people power,” tegasnya.

Turut hadir dalam kesempatan itu Rektor Universitas Dharmawangsa, Dr Kusbianto. Korwil GMKI Sumut, Gito Pardede. Ketua IPNU Sumut, Muslim Pulungan. Dosen Universitas Krina Upayana, Ade Reza Hariyadi dan Pengamat Politik, Aulia Andri. (Crds)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here