PGRI Terus Kawal Penyelesaian Persoalan Guru

0

JAKARTA (Waspada): Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) akan terus mengawal persoalan pendidikan, khususnya terkait ketersediaan guru di Indonesia. Langkah-langkah kongkrit akan terus disuarakan PGRI kepada pemerintah untuk bekerja bersama mengisi kekurangan guru  yang terjadi saat ini.

“Jangan sampai kita kekurangan guru. Kita harapkan kepada pemerintah kedepan untuk dapat menyelesaikan kebutuhan akan guru. Saat ini kekurangan guru sudah mencapai hampir satu juta orang dan itu perlu penyelesaian yang komprehensif dan kontinyu,”kata Ketua Umum Penguru Besar PGRI, Unifah Rosyidi di Jakarta, Jumat (24/5).

Masalah klasik yang menyebabkan terjadinya kekurangan guru yang mencapai lebih dari 900 ribu orang adalah distribusi yang tidak merata. Di daerah terpencil dan sulit dijangkau, jarang ada guru bahkan hampir tidak ada. Sementara di kota-kota, guru menumpuk sampai berdesakan di satu rombongan belajar. Akibatnya, data yang menyebut jumlah 3 juta guru berbanding ideal dengan jumlah siswa, yakni 1:20, seperti jauh panggang dari api.

“Distribusi yang berantakan ini adalah masalahnya. Sulit memang, tapi ini perlu diatasi dan PGRI siap mengawal terus,” kata Unifah.

Saat ini dia mengakui ada perhatian pemerintah tentang pengangkatan guru honorer untuk menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Meski secara bertahap, kalau itu konsisten dan kontinyu dilakukan, kekurangan guru di daerah dapat diatasi selama lima tahun ke depan.

“Syaratnya, distribusinya harus dikawal terus. Jangan sampai guru honorer yang diangkat tidak berkenan tugas di daerah yang minim guru,” kata Unifah.

Dikatakannya, sejak lama PGRI mengusulkan agar pemenuhan kebutuhan guru dapat diisi dari guru-guru honorer. Apalagi menurut Unifah, banyak para guru honorer yang  memiliki kapasitas, asalkan diberikan pelatihan-pelatihan.

“Lagi-lagi yang jadi persoalan adalah kesempatan pelatihannya selama ini tidak ada,” tegasnya.

Menyikapi persoalan-persoalan mendasar pendidikan yang menyangkut mutu guru, adalah bagian dari arah pendidikan di Indonesia. Dengan arah kebijakan muru guru yang jelas, diharapkan akan lahir lulusan-lulusan yang berkualitas dan siap menghadapi tantangan zaman.

“Arah pendidikan makin diperjelas. Misalnya, dana-dana pendidikan itu tidak hanya untuk teknis, tapi juga untuk pembangunan mutu. Sehingga kami harap terjadi pengembangan SDM. Guru-guru dapat porsi untuk mendapat pelatihan-pelatihan terbaik,” harapnya.

Ia berharap semua masalah terkait pendidikan tersebut bisa diperbaiki pada pemerintahan yang akan datang. Siapun presiden yang terpilih, memiliki pekerjaan rumah yang besar untuk mengatasi masalah mutu dan kualitas pendidikan agar SDM kita berdaya saing tinggi

“Kami harapkan presiden dan wakil presiden terpilih sungguh-sungguh mengembangkan dan meningkatkan kualitas SDM, termasuk para guru,” ujar Unifah.

Terkait peningkatan mutu dan penyebaran guru, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) meyakini sistem zonasi akan mengupas persoalan satu-persatu.

“Kebijakan zonasi adalah strategi untuk menyelesaikan masalah pendidikan yang kompleks di Indonesia. Jika selama ini pemerintah melakukan pendekatan yang sifatnya makro, maka dengan zonasi, penyelesaian permasalahan pendidikan menggunakan pendekatan mikro di setiap zona,” ujar Mendikbud, Muhadjir Effendy beberapa waktu lalu.

Selama, lanjut dia, persoalan pendidikan selalu dilihat secara makro. Akibatnya jadi tidak fokus.  ini kita melihat persoalan pendidikan itu terlalu makro, karena makro maka tidak fokus. Lewat zonasi, pendidikan akan diatasi lewat penyelesaian dalam pandangan mikro.

Melalui pendekatan mikro, Mendikbud meyakini para pemangku kepentingan pendidikan dapat mengidentifikasi sekaligus memberikan solusi permasalahan secara lebih mendalam. Dicontohkannya, isu mengenai distribusi guru, sarana prasarana, maupun sebaran peserta didik yang tidak merata.

“Kalau sudah diiris menjadi lebih dari 4.800 zona, nanti akan kita selesaikan di masing-masing irisan itu,”kata Muhadjir. (dianw/C).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here