30,8 Persen Anak Indonesia Stunting

0

JAKARTA (Waspada): Stunting  yang antara lain ditandai dengan tubuh pendek yang tidak sesuai dengan usianya, masih menjadi masalah gizi utama bagi balita (bayi dan anak usia di bawah 5 tahun) di Indonesia. Data dari Kementerian Kesehatan menyebutkan 30,8 persen anak Indonesia terhitung stunting. Kenyataan ini menjadi persoalan tersendiri di tengah keinginan Indonesia menciptakan generasi emas di 2045.

Peneliti utama Southeast Asian Ministers of Education Organization  Regional Centre for Food and Nutrition (SEAMEO RECFON), Umi Fahmida mengatakan, salah satu penyebab utama stunting di Indonesia adalah kurangnya asupan gizi dalam keluarga.  Paling menonjol adalah tingginya belanja rokok dalam keluarga, mengalahkan belanja gizi.

Tercatat belanja rokok di Indonesia menjadi pengeluaran terbesar ketiga dalam rumah tangga (12,4 % dari pengeluaran rumah tangga). Sementara uang yang dikeluarkan untuk membeli sayur-mayur hanya  8,1 persen serta telur dan susu sebanyak 4,3 persen.

“Bayangkan, kalau yang 12, 4 persen itu disisihkan, akan sangat berkontribusi untuk keragaman pangan yang bermanfaat bagi peningkatan gizi anak. Uang  itu bisa dibelikan sesuatu yang berguna, mungkin dibelikan telur, ikan  sayur dan buah,” tegasnya dalam Temu Media bertajuk ‘Pendidikan Gizi dan Generask Emas Indonesia 2045’ di Gedung SEAMEO REFCON, Jakarta, Jumat (24/5). Acara dibuka Deputi Direktur SEAMEO REFCON, Dr Jesus Corpuz Fernandez dengan pembicara lainnya, dr Grace Wangge Ph.D. SEAMEO REFCON adalah organisasi bidang pangan dan gizi kerjasama menteri-menteri pendidikan se-Asia Tenggara.

Merujuk pada hasil analisis data Indonesian Family Life Survey (IFLS), kemungkinan anak dari keluarga perokok menjadi stunting lebih besar dari anak keluarga tanpa perokok.  Selain itu, berdasarkan studi dari Pusat Kajian Jaminan Sosial (PKJS) Universitas Indonesia, anak-anak dari keluarga perokok kronis memiliki kecenderungan untuk tumbuh lebih pendek dan lebih ringan dibandingkan dengan anak dari keluarga tanpa perokok.

Selain orang tua perokok, penyebab lainnya adalah seringnya anak sakit sehingga penyerapan zat gizi tidak optimal. Ketiga, adalah pengaruh pola pengasuhan keluarga.

“Tapi ada faktor-faktor lain di tingkat komunitas  seperti akses pelayanan kesehatan , kesehatan lingkungan dan ketersediaan pangan,” tandasnya.

Sementara menurut Grace Wangge, manajer riset dan  konsultasi   SEAMEO RECFON,  dalam jangka panjang, stunting tidak hanya mengakibatkan masalah pada masa depan balita stunting itu sendiri. Stunting akan menjadi masalah trans-generasi, dimana ibu yang pendek, cenderung akan mempunyai juga anak yang stunting.

Grace menambahkan, di usia produktifnya kelak, balita stunting akan mempunyai daya saing yang lebih rendah dibandingkan sumber daya manusia (SDM) negara lain yang memiliki balita sehat karena rendahnya fungsi kognitif mereka. Grace juga menjelaskan, untuk mengatasi masalah stunting, pendidikan gizi kepada publik menjadi sangat penting untuk dilakukan.

Untuk cegah stunting sejak dini perlu dukungan semua pihak, termasuk lewat pendidikan anak usia dini  (PAUD) dan sekolah.

“Kini, bersama para mitra kami,  SEAMEO RECFON terus mengembangkan berbagai program pendidikan  gizi yang turut berkontribusi pada pengentasan stunting. Salah satu program unggulan SEAMEO RECFON adalah “Anakku Sehat dan Cerdas,” kata Wangge.

Program ini menterjemahkan konsep PAUD Holistik Integratif (PAUD-HI) yang telah dicanangkan oleh Kemdikbud. Mitra SEAMEO RECFON untuk program unggulan ini antara lain adalah SEAMEO center lainnya yaitu SEAMEO Regional Centre for Early Childhood Care Education and Parenting (CECCEP) di Bandung untuk bidang pendidikan anak usia dini dan parenting serta SEAMEO Regional Centre for Tropical Medicine (TROPMED) di Bangkok untuk bidang kesehatan masyarakat.

Selain itu, didukung oleh organisasi profesi seperti Himpunan  Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (HIMPAUDI), SEAMEO RECFON telah melakukan pemetaan kompetensi gizi para guru PAUD seluruh Indonesia. SEAMEO RECFON juga melakukan pelatihan untuk guru PAUD mengenai penyampaian materi pendidikan gizi untuk orang tua, baik melalui media on-line dan off-line.  Semua program menjadi  bagian dari strategi penting untuk meningkatkan peran keluarga serta PAUD dalam mengoptimalkan tumbuh kembang anak Indonesia.(dianw/C).

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here