Ratusan Siswa Ujian Pakai Masker Paska Sinabung Meletus

0
Waspada/Panitera Nedy Anak SD Sukandebi tertib menggunakan masker di dalam ruangan belajar, padahal ujian sudah berakhir hari itu.
Waspada/Panitera Nedy Anak SD Sukandebi tertib menggunakan masker di dalam ruangan belajar, padahal ujian sudah berakhir hari itu.

TANAH KARO (Waspada): Ratusan siswa/i tingkat SD dan SMP yang bersekolah di Desa Sukandebi, Desa Naman dan Desa Kuta Rayat Kecamatan Naman Teran, terpaksa memakai masker saat mengikuti ujian di sekolahnya Senin (10/6).

Mereka diwajibkan menggunakan masker saat mengikuti ujian. Kewajiban siswa/i memakai masker, bertujuan untuk menghindari material debu vulkanik yang berterbangan masuk ke dalam tubuhnya melalui saluran pernafasan.

Masker yang digunakan oleh anak-anak dan guru itu, ada yang disubsidi langsung oleh Camat Naman Teran Drs. Dwikora Sitepu dan adapula dari sekolah yang sudah distok sebelumnya. Jadi, mereka tidak perlu mengeluarkan uang jajan untuk pengganti masker yang dipakainya.

Paska erupsi yang menyemburkan abu setinggi 7.000 meter, belum terjadi hujan turun dan penyiraman air oleh pemadam kebakaran juga belum dilakukan ke sana.

Padahal sekolah-sekolah merupakan fasilitas pendidikan yang harus diperhatikan guna kesehatan anak-anak, terlepas dari sekolah itu dikelola pihak swasta maupun Negeri.

Pantauan Waspada di lapangan terhadap sekolah SD Sukandebi No. 040480 dan SMP Naman Teran, sepertinya kurang perhatian dari pemerintah. Pasalnya, sekolah ini tidak mendapat air bersih dari pemadam kebakaran untuk menyiram halaman sekolah.

Bahkan sampai anak-anak SMP pulang dari sekolahnya di Desa Naman Teran, belum dilakukan penyiraman. Kondisi ini yang membuat para orang tua menjadi sedih. Mereka menduga Pemda pilih kasih dalam hal itu.

Maharani Br Sitepu, Puan Br Sagala, Rintan Br Tarigan dan Restarigan warga Desa Kuta Rayat kelas II SMP kepada Waspada menyebutkan, mereka diwajibkan menggunakan masker pergi ke sekolah paska erupsi sebab halaman sekolah masih berdebu. Bahkan meja belajar di sekolah juga berdebu, maka harus menggunakan masker, katanya.

Jenita salah seorang siswi SD Sukandebi menyebutkan masker yang mereka gunakan diberikan guru sejak mulai memasuki sekolah. Saat ujian berlangsung, siswa diwajibkan menggunakan maseker agar, abu Sinabung tidak terhirup, katanya.

Roy Depari guru di sekolah dasar Desa Sukandebi kepada Waspada menyebutkan, masker yang dipakai anak-anak saat melangsungkan ujian ada yang diberikan Camat Naman Teran dan adapula dari sekolah yang sebelumnya sudah distok.

Anak-anak diwajibkan menggunakan masker karena lingkungan sekolah belum dibersihkan, itu lebih baik daripada tidak sama sekali sebut Depari.

Menyikapi kondisi material debu vulkanik yang masih melekat pada atap rumah penduduk, daun tanaman dan ruas jalan, Bupati Karo Terkelin Brahmana telah memerintahkan jajarannya untuk menyiram debu vulkanik dengan mobil pemadam kebakaran pada fasilitas umum seperti jalan.

Sejauh ini Pemkab Karo masih menjadikan rekomendasi Vulkanologi sebagai acuan untuk diterapkan di lapangan, karena mereka memiliki peralatan yang dapat mendeteksi gerakan, gempa, erupsi dan awan panas.

Rekomendasi Vulkanologi sebagai andalan Pemkab untuk bersosialisasi kepada masyarakat supaya menjauhi zona merah, sebutnya.

Dansatgas Tanggap Darurat Sinabung Letkol Inf. Taufik Rizal SE menyebutkan, jajarannya yang bertugas di kawasan lingkar Sinabung senantiasi mengawasi dan berpatroli ke zona merah.

Lebih optimal pengawasan kata Dansatgas, pihaknya telah menyampaikan pembangunan portal kepada Bupati Karo dan diharapkan realisasi itu nyata, sebutnya.

Armen Putra Pengamat Gunungapi Sinabung mengatakan potensi erupsi gunungapi Sinabung masih tetap tinggi dan status Siaga (level III) masih melekat pada Sinabung dan hingga sekarang belum ada perobahan, jelasnya.

Selain anak sekolah, petani yang sedang mengolah tanah dan melakukan perawatan tanaman, juga menggunakan masker karena material debu Sinabung masih melekat di daun tanaman.(cpn)

Waspada/Panitra Nedy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here