Pemerintah Perkuat Pelayanan Kesehatan Haji 2019

0

JAKARTA (Waspada): Menteri Kesehatan berharap pelayanan kesehatan penerbangan haji tahun ini dapat berjalan lebih baik. Para petugas Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) diharapkan akan mampu memberikan pelayanan kesehatan yang optimal baik sebelum keberangkatan, selama penerbangan, saat di Arab maupun setelah kembali ke Tanah Air.

“Perjalana ibadah haji cukup berat. Makanya seluruh petugas kesehatan haji harus bekerja semaksimal mungkin membantu jamaah calon haji supaya lancar beribadah di Tanah Suci,” kata Menkes Nila Moeloek saat Seminar Pelayanan Kesehatan Haji, Rabu (12/6) di Jakarta.

Saat ini jumlah TKHI sebanyak 1.521 orang dan 306 Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) bidang kesehatan. Dengan adanya rencana penambahan 10 ribu kuota haji niscaya akan membutuhkan penambahan personil.

Tahun 2019 terdapat penambahan kuota haji sebanyak 10 ribu jemaah, sehingga total menjadi 231.000 jemaah. Penambahan kuota haji ini membuat Indonesia menjadi negara dengan jumlah jemaah terbesar di dunia.

Tantangan pelayanan kesehatan haji setiap tahun terus berubah dan bertambah seiring meningkatnya jumlah jemaah haji risiko tinggi, beragamnya latar belakang pendidikan, etnis dan sosial budaya serta kondisi fisik.

Belum lagi ditambah kondisi lingkungan di Arab Saudi yang berbeda dengan kondisi di tanah air seperti perbedaan musim, kelembaban udara yang rendah, perbedaan lingkungan sosial budaya, keterbatasan waktu perjalanan ibadah haji dan kepadatan populasi jemaah haji pada saat wukuf di Arafah maupun melontar jumrah di Mina, dapat berdampak terhadap kesehatan jemaah haji.

Namun sebelum hal-hal tersebut di atas, jemaah haji harus menempuh perjalanan menggunakan pesawat selama 9 hingga 12 jam dari embarkasi sampai ke Madinah atau Jeddah. Perjalanan haji yang lama di pesawat juga akan mempengaruhi kondisi kesehatan jemaah karena beberapa keadaan yang sakit dapat timbul dan memperberat keadaan jemaah yang mempunyai penyakit sebelumnya.

Untuk meningkatkan intervensi dalam pelayanan dan pengendalian faktor risiko kesehatan diperlukan pengetahuan tentang pengaruh kondisi penerbangan terhadap kesehataan jemah haji.

“Selama penerbangan kondisi lingkungan udara berbeda dengan kondisi lingkungan daratan. Bertambahnya ketinggian dan berkurangnya kadar oksigen dan dapat menyebabkan sakit atau rasa tidak nyaman pada tubuh jemaah selama perjalanan seperti gangguan pernapasan, Deep Vein Thrombosis, dehidrasi, jet lag, dan mabuk udara,” kata Menkes.

Data tahun 2018, sebanyak 2.366 jemaah haji mengalami sakit saat tiba di Arab Saudi dan beberapa di antaranya dirujuk ke Rumah Sakit Arab Saudi. Demikian pula pada masa pemulangan, faktor kondisi lingkungan di pesawat menjadi pertimbangan pemulangan jemaah haji sakit. Hal ini terlihat pada tahun 2018 sebanyak 54 jemaah haji masih tertinggal di Rumah Sakit Arab Saudi pasca operasional karena kondisi kesehatan yang belum laik terbang.

Untuk itu juga, menkes berharap para jamaah calon haji mendapat sosialisasi dalam bentuk promotif dan preventif sejak di tingkat kabupaten/kota pada tahap awal dan selama masa tunggu. Diharapkan jemaah mendapatkan konseling kesehatan untuk mengendalikan faktor risiko kesehatan berdasarkan hasil pemeriksaan di tanah air maupun di tanah suci.

Sektetaris Jenderal Kemenkes, Oscar Primadi menambahkan,, ada penambahan 66 petugas kesehatan haji 2019. Penambahan itu sejalan dengan penambahan 22 kelompok terbang sebagai kuota tambahan.

“Setiap kloter terdiri dari 1 dokter dan 2 perawat,” kata Oscar.

Dia berharap setelah seminar ini semakin jelas makna kesehatan penerbangan haji bagi seluruh petugas kesehatan haji. Dia menyebut peserta seminar ada sejumlah 273 orang yang terlibat dalam pelayanan kesehatan haji tahun ini.

Kepala Pusat Pelayanan Kesehatan Haji Kemenkes, Eka Yusuf Sinka mengatakan, upaya promotif dan preventif bagi calon haji dapat menekan terjadinya kesakitan dan kematian. Pada 2018, jumlah jamaah haji meninggal dunia turun 50 persen dibanding tahun sebelumnya.

“Tahun ini kita semua berharap angka kesakitan dan kematian jamaah haji terus menurun,” tandasnya.

Dalam seminar tersebut hadir juga Sekjen Kementerian Agama Nur Kholis dan Direktur Bina Haji Kemenag, Khoirizi. (dianw/C).

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here