FPA Pidie Kecam Elit Jakarta Ancam Pidana Mualem

0
23 Anggota Fraksi Partai Aceh DPRK Pidie dipimpin Tgk Jailani HM Yakob foto bersama usai konferensi Pers di Gedung DPRK setempat, Kamis (13/6). Waspada/Muhammad Riza

SIGLI (Waspada): Sedikitnya 23 anggota DPRK Pidie dari Fraksi Partai Aceh (FPA) mengecam sejumlah elite Jakarta yang mengancam pidanakan Ketua DPA Partai Aceh H Muzakir Manaf atau yang akrap disapa Mualem.

Ancaman sanksi pidana itu dilontarkan sejumlah elite di Jakarta menyusul peryataan Mualem tentang wacana Referendum Aceh beberapa waktu lalu.

”Kami anggota DPRK Pidie FPA mengecam peryataan elite-elite Jakarta yang memframing bahwa pernyataan Mualem, itu dapat dikenai sanksi hukum untuk kemudian dipidanakan,” sebut Ketua FPA DPRK Pidie Jailani HM Yakob di gedung DPRK Pidie, Kamis (13/6). Pernyataan itu disampaikanya didampingi semua anggota DPRK Pidie dari FPA.

Menurut dia, sebelum mengancam pidanakan Muzakir Manaf, mestinya para elite di Jakarta itu membaca semua perundang-undangan secara utuh, bukan sepenggal-sepenggal sesuai kepentingan politik praktis mereka itu saja dengan mengabaikan kekhususan Aceh.

Apalagi dalam MoU Helsinki poin 2.1 disebukan  Pemerintah Republik Indonesia akan mematuhi kovenan Internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), mengenai hak-hak sipil, politik dan mengenai hak-hak ekonomi, sosial dan budaya.

Dengan kata lain, ujar Jailani, kovenan internasional PBB yang ditetapkan oleh resolusi majelis umum PBB 2200A (XXI) tanggal 16 Desember 1966 sendiri mengakui eksistensi tiap-tiap bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri.

Karena itu tegasnya lagi, pemerintah Indonesia mestinya malu pada dunia internasional yang sejak awal telah memfasilitasi perdamaian antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan pemerintah Republik Indonesia, dan memonitoring implementasi perdamaian. Akan tetapi, sebaliknya pemerintah RI justru tidak menunjukkan itikad baik dengan menjalankan semua kesepakatan dan selalu melihat Aceh dengan stigma negatif.

Terkait dengan wacana referendum yang sempat dikemukan oleh Ketua DPA Partai Aceh yang juga Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) H Muzakir Manaf atau akrap disapa Mualem, Fraksi Partai Aceh Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Pidie yang berjumlah 23 orang sangat mendukung pernyataan Mualem tersebut. Malah pernyataan itu dinilai sebagai bentuk penyampaian pendapat di muka umum yang dijamin konstitusi. Peryataan tersebut juga dipandang sebagai sebuah otokritik terhadap perdamaian Aceh yang telah berlangsung selama 14 tahun.

Dalam kesempatan itu, Jailani menerangkan transformasi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dari gerakan bersenjata politik ke gerakan politik sebagaimana kesepakatan yang telah ditandatangani dalam MoU Helsinki pada 15 Agustus 2005, dan difasilitasi oleh Crisis Management Initiative (CMI) dan telah dituangkan dalam Undang-undang 2016 tentang Pemerintah Aceh (UUPA), itu telah sepenuhnya dilakukan GAM.

Aceh Monitoring Mission (AMM), sebuah tim yang dibuat berdasarkan kesepakatan antara pemerintah Republik Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) menjalankan tugas sejak tanggal 15 September 2005. “Perlu dicatat AMM adalah misi Uni Eropa yang pertama di Asia dan bentuk kerjasama yang pertama dengan negara-negara Asean.

Di dalam AMM, jelas Jailani terdiri dari lima negara Asean. Yaitu, Brunei Darussalam, Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailand. Sedangkan negara-negara tergabung dalam Uni Eropa yang masuk dalam AMM adalah Swiss dan Norwegia.

Pelucutan senjata tentara GAM sebagai bukti komitmennya terhadap Nota Kesepahaman Damai. GAM menyerahkan 840 pucuk senjata yang diterima AMM dalam empat tahap sesuai dengan Nota Kesepahaman Damai melalui upacara pemotongan senjata terakhir dilaksanakan di  Banda Aceh pada 21 Desember 2005.

Namun kata Jailani, hingga 14 tahun perdamaian Aceh berlangsung tidak terlihat adanya political will dari pemerintah Indonesia untuk memenuhi poin-poin dalam MoU Helsinki yang telah diturunkan ke dalam UUPA, atau masih setengah hati diwujudkan pemerintah Indonesia. (b10)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here