Imunisasi Rutin Lengkap, Sebuah Dasar Kesehatan Yang Kuat 

0

Jakarta [WASPADA]: Pekan Imunisasi Dunia (PID) tahun ini mengangkat tema ”Imunisasi Lengkap Indonesia Sehat”. Tujuannya adalah menunjukkan betapa penting dan bermanfaatnya imunisasi untuk kesehatan anak-anak dan masyarakat dunia. Tema itu juga menunjukkan bahwa imunisasi rutin lengkap yang dicanangkan, merupakan dasar untuk kesehatan yang kuat. Karena itu pula, kesenjangan cakupan imunisasi akan terus diatasi dengan berbagai kerja keras dan cerdas lewat investasi program.

Generasi sehat, cerdas dan berkualitas menjadi tujuan utama pembangunan bangsa. Untuk itu, Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan terus mengupayakan supaya cakupan dan kualitas imunisasi bagi seluruh anak Indonesia, tercapai maksimal. Salah satu upaya adalah menggelar  Pekan Imunisasi Dunia (PID) sejak 24 hingga 30 April 2019 lalu. Empat imunisasi baru yang menambah lengkap imunisasi dasar, diperkenalkan sebagai imunisasi rutin lengkap.

Imunisasi rutin lengkap terdiri dari imunisasi dasar dan lanjutan. Imunisasi dasar saja tidak cukup, diperlukan imunisasi lanjutan untuk mempertahankan tingkat kekebalan yang optimal.

Selama ini ada sembilan vaksin yang diberikan sebagai imunisasi dasar lengkap, yaitu difteri, polio, tetanus, campak, tuberculosis, BCG, pneumonia, hepatitis B, dan meningitis. Kini, empat vaksin baru yakni Measles and Rubella (MR), Human Papillomavirus (HPV), Japanese Encephalitis, dan Pneumococcus, melengkapi istilah Imunisasi Rutin Lengkap.

Pekan Imunisasi Dunia ini diprakarsai pada World Health Assembly pada Mei 2012. Sampai saat ini PID telah dilaksanakan oleh lebih dari 180 negara melalui pelaksanaan berbagai kegiatan. PID tahun ini semua sektor (LSM, perguruan tinggi dan organisasi profesi, tokoh agama dan tokoh masyarakat, jurnalis/media, masyarakat, dan dunia usaha) harus menggerakkan semua sumber daya yang ada dan kreativitas masyarakat, sehingga dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang arti penting dan manfaat imunisasi rutin lengkap.

“Agar terbentuk kekebalan masyarakat yang tinggi, dibutuhkan cakupan imunisasi dasar dan lanjutan yang tinggi dan merata di seluruh wilayah, bahkan sampai tingkat desa. Bila tingkat kekebalan masyarakat tinggi, maka yang akan terlindungi bukan hanya anak-anak yang mendapatkan imunisasi tetapi juga seluruh masyarakat,” kata Menteri Kesehatan RI, Nila Anfasa Moeloek.

Orang tua, masyarakat, dan negara wajib memelihara kesehatan anak yang salah satunya dilakukan dengan memberi imunisasi. Menurut UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dan UU Perlindungan Anak No. 35 Tahun 2014.

Pemberian imunisasi disesuaikan dengan usia anak. Untuk imunisasi dasar lengkap, bayi berusia kurang dari 24 jam diberikan imunisasi Hepatitis B (HB-0), usia 1 bulan diberikan (BCG dan Polio 1), usia 2 bulan diberikan (DPT-HB-Hib 1 dan Polio 2), usia 3 bulan diberikan (DPT-HB-Hib 2 dan Polio 3), usia 4 bulan diberikan (DPT-HB-Hib 3, Polio 4 dan IPV atau Polio suntik), dan usia 9 bulan diberikan (Campak atau MR).

Untuk imunisasi lanjutan, bayi bawah dua tahun (Baduta) usia 18 bulan diberikan imunisasi (DPT-HB-Hib dan Campak/MR), kelas 1 SD/madrasah/sederajat diberikan (DT dan Campak/MR), kelas 2 dan 5 SD/madrasah/sederajat diberikan (Td).

Vaksin Hepatitis B (HB) diberikan untuk mencegah penyakit Hepatitis B yang dapat menyebabkan pengerasan hati yang berujung pada kegagalan fungsi hati dan kanker hati. Imunisasi BCG diberikan guna mencegah penyakit tuberkulosis.

Imunisasi Polio tetes diberikan 4 kali pada usia 1 bulan, 2 bulan, 3 bulan dan 4 bulan untuk mencegah lumpuh layu. Imunisasi polio suntik pun diberikan 1 kali pada usia 4 bulan agar kekebalan yang terbentuk semakin sempurna.

Imunisasi Campak diberikan untuk mencegah penyakit campak yang dapat mengakibatkan radang paru berat (pneumonia), diare atau menyerang otak. Imunisasi MR diberikan untuk mencegah penyakit campak sekaligus rubella.

Rubella pada anak merupakan penyakit ringan, namun apabila menular ke ibu hamil, terutama pada periode awal kehamilannya, dapat berakibat pada keguguran atau bayi yang dilahirkan menderita cacat bawaan, seperti tuli, katarak, dan gangguan jantung bawaan.

Vaksin DPT-HB-HIB diberikan guna mencegah 6 penyakit, yakni Difteri, Pertusis, Tetanus, Hepatitis B, serta Pneumonia (radang paru) dan Meningitis (radang selaput otak) yang disebabkan infeksi kuman Hib.

hingga tahun 2018 Pemerintah telah memberikan imunisasi lengkap sebanyak 3.99 juta (92,04%), 70.000.000 anak < 15 Tahun Terlindungi dari Polio, 35.3 juta anak di Pulau Jawa dan 23,4 juta anak di luar Pulau Jawa terlindungi dari Rubella dan Campak.

Perkuat Advokasi

Organisasi Kesehatan Dunia, WHO menyebutkan sekitar 1,5 juta anak di dunia mengalami kematian tiap tahunnya karena penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Pada 2018 terdapat kurang lebih 20 juta anak tidak mendapatkan imunisasi lengkap dan bahkan ada anak yang tidak mendapatkan imunisasi sama sekali.

Indonesia termasuk salah satu negara dengan jumlah anak yang tidak mendapatkan imunisasi lengkap cukup banyak. Situasi ini telah berdampak pada munculnya Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) seperti difteri, campak, dan polio.

“Kenyataan ini dapat mengakibatkan anak-anak serta mereka yang tinggal di sekitarnya rentan penyakit yang dapat mengakibatkan mereka kehilangan nyawa ataupun cacat seumur hidup,” kata menkes.

“Perayaan Pekan Imunisasi Dunia tahun ini menjadi pengingat bahwa vaksin sangat penting untuk melindungi anak-anak dari penyakit berbahaya dan ketika semua anak menerima seluruh vaksinasi mereka secara rutin sesuai jadwal,” tambah Sekretaris Jenderal Kemenkes,  Oscar Primadi.

Masih adanya orang tua yang kurang memahami manfaat dan pentingnya imunisasi serta adanya rumor isu negatif tentang vaksin, menjadi tantangan bagi Kemenkes untuk terus bergerak menyuarakan sosialisasi.

Beberapa langkah untuk meningkatkan cakupan imunisasi adalah dengan meluruskan informasi yang tidak benar tentang imunisasi, memobilisasi semua sumber daya yang ada untuk mensosialisasikan manfaat imunisasi, memastikan pelayanan imunisasi mudah dijangkau oleh seluruh masyarakat, dan meningkatkan pelayanan imunisasi yang bermutu dengan cakupan tinggi dan merata.

“Peran lintas program dan lintas sektor sangat dibutuhkan untuk meberikan pemahaman kepada semua pihak bahwa imunisasi sangat penting untuk meningkatkan kesehatan, dan menghambat KLB,” ujar Menkes Nila Moeloek.

Advokasi kepada tokoh agama dan tokoh masyarakat di antaranya dapat dilakukan dengan seminar yang membahas tentang pentingnya imunisasi dalam mencegah KLB, kecatatan, dan kematian akibat PD3I.

Dalam rangka mencapai cakupan imunisasi yang tinggi dan merata di setiap wilayah, Menteri Kesehatan mengimbau agar seluruh Kepala Daerah mengatasi dengan cermat hambatan utama di masing-masing daerah dalam pelaksanaan program imunisasi; menggerakkan sumber daya semua sektor terkait termasuk swasta; dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya imunisasi rutin lengkap sehingga mau dan mampu mendatangi tempat pelayanan imunisasi.

“Kepada seluruh masyarakat agar secara sadar mau membawa anaknya ke tempat pelayanan kesehatan untuk mendapatkan imunisasi dan tidak mudah terpengaruh isu-isu negatif yang tidak tepat mengenai imunisasi,” tandas Menkes. (**)

Pembangunan SDM dan Akses Pelayanan Kesehatan, Menjangkau Yang Tak Terjangkau

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here